Oleh : Wahyu Ceha*
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, sebatas pengamatan, bukan hasil riset. Membaca tulisan ini, perlu dilakukan secara pelan dan khidmat, bahkan diiringi dengan istighfar dan solawat tiap jeda paragraf.
Agenda kontestasi sering dipersepsikan sebagai arena perebutan pengaruh, jabatan, dan panggung kekuasaan. Ada pendekatan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat makna: strategi sunyi dan terimo manut.
Bagi sebagian orang, sikap menerima dan manut sering dianggap sebagai bentuk kepasifan. Namun dalam perspektif yang lebih dalam, “terima manut” bukanlah menyerah kepada keadaan. Ia adalah kemampuan membaca realitas secara jernih, memahami kapan harus melangkah, kapan harus menunggu, dan kapan harus diam.
Dalam filsafat Jawa, air sering dijadikan simbol kebijaksanaan. Air tidak pernah berdebat dengan batu. Ia tidak memaksa gunung untuk menyingkir. Justru karena kelenturannya, air mampu menemukan jalannya sendiri. Ia mengalir mengikuti kontur alam, tetapi pada akhirnya sampai ke lautan.
Tidak perlu frontal dan memilih perlawanan yang emosional. Ketika tidak mendapatkan posisi, tetap selow dan tidak menjadikannya sebagai sumber kekecewaan yang berkepanjangan. Ia memahami, bahwa jabatan hanyalah instrumen, bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah, menjaga kebermanfaatan dan merawat kepercayaan jamaah/ umat/ masyarakat.
Paradoksnya, justru sikap yang tampak “tidak ngotot” itu menjadi sumber kekuatan dalam kontestasi yang sulit ditandingi. Sebab energi yang biasanya habis untuk konflik, dapat dialihkan untuk membangun relasi sosial, menjaga komunikasi dan memperkuat akar pengabdian.
Namun jangan salah menafsirkan ketenangan sebagai kelemahan.
Di balik sikap yang mengalir, terdapat kemampuan membaca momentum yang sangat tajam. Ada intuisi politik yang terasah oleh pengalaman panjang. Dalam bahasa sederhana, ada feeling kill yang tepat untuk mengetahui kapan saatnya bergerak dan kapan saatnya menunggu.
Banyak kontestan gagal bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terlalu cepat ingin terlihat besar. Mereka berlari ketika waktunya berjalan. Mereka berbicara ketika waktunya mendengar. Mereka memaksa pintu terbuka, ketika sebenarnya kunci belum ditemukan.
Sebaliknya, strategi terima manut mengajarkan, bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari pertarungan yang keras dan instan. Kadang kemenangan justru datang dari kesabaran yang panjang, konsistensi yang sunyi, dan kemampuan menjaga diri dari ambisi yang berlebihan.
Dalam kontestasi, tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kepercayaan publik yang bertahan dari waktu ke waktu.
Kita patut untuk selalu ingat dan belajar, bahwa kontestasi bukan hanya soal merebut kekuasaan. Namun lebih dari itu, yaitu tentang kemampuan menata ego. Sebab sering kali lawan terberat bukanlah kompetitor dari luar, melainkan ambisi yang ada dalam diri sendiri.
Pada akhirnya, strategi ‘terima manut’ bukanlah strategi pasif. Ia adalah bentuk kecerdasan yang bekerja dalam kesenyapan. Mengikuti arus bukan berarti kehilangan arah. Tidak memaksakan jabatan bukan berarti kehilangan cita-cita. Dan bersikap santai bukan berarti tidak memiliki kekuatan.
Karena dalam kontestasi, sebagaimana dalam kehidupan, mereka yang mampu bertahan paling lama, sering kali bukan yang paling keras suaranya, melainkan mereka yang paling mampu memahami irama zaman dan momentum perubahan.
Strategi sunyi dan terima manut, menjadi bukti, bahwa kemenangan terbesar terkadang lahir dari kesabaran, ketulusan, dan kemampuan mengalir tanpa kehilangan tujuan. Dan kadang-kadang, mereka yang tampak sekadar “mengalir” justru mereka yang paling memahami ke mana arus sejarah akan bergerak.
*) Penulis adalah Dosen UNU Purwokerto.















