Beranda Opini

Tiga Kunci Menjadi Pelaku Literasi di Era AI

Oleh: Rujito, M.Sos.
Dosen, Jurnalis, Pemerhati Media, Direktur Mediamorphosis. 

Di tengah banjir informasi dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik, literasi justru semakin menemukan maknanya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan cara berpikir, cara memandang dunia, dan cara memberi manfaat kepada sesama. Karena itu, siapa pun yang ingin serius menekuni dunia literasi perlu memiliki fondasi yang kuat. Ada tiga prinsip sederhana yang selama ini saya pegang dan saya yakini relevan bagi siapa saja yang ingin bertumbuh dalam dunia literasi.

Prinsip pertama adalah “Membaca adalah Raja, Menulis adalah Ratu.” Mengapa membaca saya sebut raja? Karena semua pengetahuan, gagasan, dan perspektif berawal dari aktivitas membaca. Tidak mungkin seseorang mampu menulis dengan baik apabila bahan bakunya kosong. Sebaliknya, menulis adalah ratu karena melalui tulisanlah gagasan dapat memimpin peradaban, memengaruhi pikiran, dan melintasi ruang serta waktu.

Raja tanpa ratu tidak akan melahirkan generasi. Begitu pula membaca tanpa menulis hanya akan menghasilkan penikmat ilmu, bukan penyebar ilmu. Sebaliknya, menulis tanpa membaca hanya akan melahirkan tulisan yang miskin gagasan. Maka, biasakan membaca setiap hari dan akhiri dengan menulis, meski hanya beberapa paragraf.

Prinsip kedua adalah “Berbeda sedikit itu lebih baik daripada sedikit lebih baik.” Banyak orang berlomba menjadi yang paling baik, padahal persaingan di sana sangat padat. Yang justru dibutuhkan hari ini adalah keberanian menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tidak harus besar. Kadang cukup berbeda dalam cara bercerita, cara menyajikan data, cara mendesain visual, atau cara menyampaikan solusi.

Di era AI, informasi yang “sedikit lebih baik” dapat dengan mudah diproduksi mesin. Namun gagasan yang memiliki perspektif unik tetap menjadi nilai yang tidak tergantikan. Karena itu, jangan takut memiliki ciri khas. Jadilah penulis yang dikenali karena karakternya, bukan karena mengikuti semua orang.

Perlu saya tambah dan tegaskan. Untuk berbeda itu, sangat sederhana. Sebutlah, ketika harus berbeda dari sisi tema. Bisa saja kita mulai menulis, menginformasikan, apa yang ada di lingkunagn kita. Dusun kita, desa kita, komunitas kita. Hal-hal yang ‘macro’ hari ini menjadi eksklusif. Karena semakin spesifik isu, semakin detail isu, disitulah value pembedanya. Kalau bicara yang umum, materi akan mudah kita temukan tinggal klik via google atau AI.

Prinsip ketiga adalah “Tahu sedikit tentang banyak hal.” Kalimat ini bukan ajakan menjadi serba tanggung, melainkan membangun keluasan wawasan. Dunia hari ini bergerak sangat cepat. Seorang penulis tidak cukup hanya memahami bahasa. Ia perlu mengenal teknologi, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, psikologi, bahkan tren media sosial.

Pengetahuan lintas bidang membuat tulisan menjadi lebih kaya, lebih kontekstual, dan lebih mudah diterima pembaca. Semakin luas wawasan seseorang, semakin banyak pula jembatan yang bisa ia bangun antara satu disiplin ilmu dengan disiplin lainnya. Intinya, bisa semua orang memiliki karakter selayaknya ‘jurnalis’. Semua fakta dan informasi yang diperoleh adalah data. Terima dan simpan saja. Entah kapan akan dipakai, tapi kita sudah punya asset.

Analoginya, kita punya dua telinga, dua mata. Mulutnya satu. Banyaklah mendengar. Jadilah pendengar yang baik. Banyak dan rekamlah yang kita lihat. Apapun jenis informasinya. Lalu, perlahan rekam dan jadikan data saku atau asset informasi dalam memori. Kelak, kalau mau menulis, bikin konten, kita tidak ‘kekurangan asset’ dalam diri kita.

Ketiga prinsip tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Membaca memperkaya isi kepala, menulis mengasah cara berpikir, keberanian tampil berbeda membangun identitas, sedangkan keluasan wawasan membuat kita tidak mudah terjebak pada cara pandang yang sempit. Inilah bekal yang membuat seorang pegiat literasi mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, termasuk ketika AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kehadiran AI tidak perlu ditakuti. AI hanyalah alat yang dapat mempercepat proses bekerja. Namun AI tidak memiliki pengalaman hidup, empati, nilai, dan kebijaksanaan yang dimiliki manusia. AI bisa membantu menyusun kalimat, tetapi manusialah yang menentukan arah pemikiran. AI dapat mencari pola, tetapi manusialah yang memberi makna. Karena itu, pegiat literasi yang mampu membaca banyak, menulis secara konsisten, berani berbeda, dan memiliki wawasan luas akan selalu memiliki tempat, seberapa canggih pun teknologi berkembang.

Peluncuran Komunitas Literasi Qalam Hawa menjadi pengingat bahwa budaya literasi tidak dibangun oleh gedung yang megah, melainkan oleh orang-orang yang mau belajar tanpa lelah dan berbagi tanpa pamrih. Komunitas adalah ruang bertumbuh bersama, tempat membaca menjadi kebiasaan, menulis menjadi budaya, dan berdiskusi menjadi jalan untuk saling menguatkan. Dari ruang-ruang kecil seperti inilah perubahan besar sering kali bermula.

Akhirnya, literasi bukan perlombaan untuk menjadi yang paling pintar, melainkan perjalanan panjang untuk terus menjadi pembelajar. Mulailah dengan membaca satu halaman lebih banyak setiap hari, menulis satu paragraf lebih sering daripada kemarin, berani menghadirkan perspektif yang berbeda, dan membuka diri terhadap banyak bidang ilmu. Sebab ketika ilmu terus bertambah, tulisan akan menemukan ruhnya; ketika tulisan hidup, gagasan akan terus mengalir; dan ketika gagasan mengalir, peradaban pun akan bergerak maju.

*) Disampaikan dengan penyesuaian dalam peluncuran Komunitas Literasi Qalam Hawa, Karangpucung, Cilacap, Jawa Tengah.