Purwokerto, nubanyumas.com – Semangat membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui pemanfaatan potensi lokal terus didorong Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Salah satunya diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat berupa penerapan teknologi mesin pembuat pelet ikan berbasis magot di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo.
Kegiatan yang dipimpin Ketua Tim Pengabdian, Prof. Purnama Sukardi, berlangsung pada Senin (13/7/2026) bekerja sama dengan Pemerintah Desa Sukoharjo dan BUMDes Hardjo Utomo. Program tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2026 yang didukung Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat DIKTISAINTEK untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui inovasi teknologi tepat guna.
Desa Sukoharjo dipilih karena memiliki potensi besar dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga, budidaya magot, dan usaha perikanan. Potensi tersebut dinilai dapat diintegrasikan menjadi sebuah ekosistem ekonomi sirkular, di mana limbah rumah tangga tidak lagi menjadi persoalan lingkungan, melainkan diolah menjadi magot yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan.
Menurut Prof. Purnama Sukardi, magot memiliki kandungan protein tinggi yang sangat potensial sebagai sumber pakan alternatif bagi budidaya ikan. Namun, agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, proses pengolahannya membutuhkan dukungan teknologi yang mampu menghasilkan produk secara higienis, seragam, dan memenuhi standar produksi.
“Melalui kegiatan ini, kami menerapkan teknologi mesin pembuat pelet ikan terintegrasi. Teknologi ini mencakup pengeringan magot, penepungan, pencampuran bahan pakan, pencetakan pelet hingga pengeringan produk akhir. Harapannya, BUMDes dapat memproduksi pakan ikan berbasis magot secara lebih mandiri dan terstandar,” jelas Prof. Purnama Sukardi.
Tidak hanya menghadirkan mesin, tim UNSOED juga memberikan pelatihan kepada pengelola BUMDes dan masyarakat mengenai budidaya magot, formulasi pakan ikan, pengelolaan limbah organik, penyusunan SOP produksi, pengamatan kesehatan ikan, hingga manajemen biaya usaha. Pendampingan ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha desa yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.
Kepala Desa Sukoharjo menyambut baik program tersebut karena selaras dengan visi desa dalam mengembangkan ekonomi berbasis lingkungan. “Program ini sangat membantu desa dalam mengoptimalkan limbah organik rumah tangga menjadi magot yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan. Ini menjadi solusi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ketua BUMDes Hardjo Utomo menambahkan, sebelum adanya program ini magot sebagian besar hanya dijual dalam bentuk mentah, sementara kebutuhan pakan ikan masih bergantung pada produk komersial. Dengan hadirnya teknologi dari UNSOED, magot kini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memperkuat kemandirian desa. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat ini diharapkan menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan nilai kemaslahatan, penguatan ekonomi umat, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.















