Oleh: Rujito, M.Sos.
Direktur Mediamorphosis, Dosen, Pemerhati dan Pengelola Media.
Di era media sosial, banyak orang berlomba mengejar viral. Judul dibuat bombastis, konten dipaksa mengikuti tren, bahkan tidak sedikit yang mengorbankan akurasi demi angka tayangan. Namun bagi media pesantren, tujuan utamanya bukanlah viral, melainkan istiqamah. Sebab media yang bertahan puluhan tahun bukan media yang sekali viral, melainkan media yang setiap hari hadir membawa manfaat.
Tantangan humas dan media pesantren tidak lagi sekadar mendokumentasikan kegiatan. Mereka dituntut mampu membangun citra lembaga, menyebarkan nilai-nilai dakwah, sekaligus menghadirkan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus konten media sosial. Sayangnya, banyak media pesantren semangat di awal, tetapi kemudian vakum karena kehilangan konsistensi. Padahal, kunci utama membangun media bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan istikamah.
Bagi saya, ada empat rumus sederhana yang harus dipegang oleh setiap pegiat humas maupun media pesantren. Empat rumus ini bukan teori yang rumit, melainkan kebiasaan yang jika dilakukan secara terus-menerus akan menjadikan media organisasi hidup, berkembang, dan semakin dipercaya masyarakat. Empat rumus tersebut adalah Istikamah Produksi, Istikamah Distribusi, Istikamah Kreasi, dan Istikamah Koneksi.
Pertama, Istikamah Produksi. Jangan menunggu acara besar untuk membuat konten. Pesantren sesungguhnya tidak pernah kehabisan cerita. Kegiatan mengaji, musyawarah santri, bakti sosial, prestasi santri, hingga aktivitas sederhana di lingkungan pesantren adalah bahan publikasi yang bernilai. Media yang berkembang bukan karena sesekali membuat konten yang viral, tetapi karena mampu menghadirkan informasi secara rutin. Produksi yang konsisten akan membangun kepercayaan publik sekaligus menjadi dokumentasi sejarah lembaga.
Kedua, Istikamah Distribusi. Banyak organisasi sudah mampu membuat konten yang baik, tetapi berhenti setelah mengunggahnya di satu media sosial. Padahal, konten yang baik harus sampai kepada orang yang tepat. Satu berita dapat disebarkan melalui website, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp Channel, hingga media massa. Semakin luas distribusi dilakukan, semakin besar pula manfaat informasi yang dapat dirasakan masyarakat. Konten yang tidak didistribusikan dengan baik ibarat lampu yang terang, tetapi disimpan di dalam kotak.
Ketiga, Istikamah Kreasi. Dunia digital berubah sangat cepat. Humas pesantren tidak boleh berhenti belajar. Hari ini masyarakat lebih menyukai video pendek, infografis, podcast, reels, maupun desain visual yang menarik. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) juga harus dipandang sebagai alat bantu untuk mempercepat pekerjaan, bukan sebagai ancaman. Namun, kreativitas tetap harus berpijak pada nilai-nilai pesantren. Ikuti perkembangan zaman, tetapi jangan kehilangan adab, etika, dan identitas sebagai lembaga dakwah.
Tidak ada salahnya, kalau kita berpegang pada kaidah; Almuhafadzoh ‘alal qadimish sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah. Saya tidak perlu terjemahkan, apa artinya. Kalau santri belum paham ini, maka itu adalah pangkal persoalan. Harus cari tahu dan jadikan pegangan dalam menjalankan tugas, pokok, fungs sebagai media atau humas pesantren.
Keempat, Istikamah Koneksi. Sebagus apa pun konten yang dibuat, hasilnya tidak akan maksimal apabila dikerjakan sendirian. Bangun hubungan yang baik dengan wartawan, media lokal, pemerintah, alumni, komunitas, influencer, hingga para pegiat media sosial. Di era digital, kolaborasi jauh lebih bernilai daripada kompetisi. Relasi yang baik akan membuka ruang kerja sama, memperluas jangkauan informasi, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga.
Keempat rumus tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Produksi menghasilkan konten. Distribusi membuat konten dikenal masyarakat. Kreasi menjadikan konten menarik untuk dinikmati. Sedangkan koneksi memperluas jangkauan dan memperbesar dampaknya. Jika salah satu hilang, maka ekosistem media akan berjalan pincang. Karena itu, jangan hanya fokus membuat konten, tetapi bangun pula sistem yang membuat konten terus hidup.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan terbesar humas pesantren justru bukan kekurangan peralatan atau minimnya aplikasi. Tantangan terbesar adalah menjaga semangat agar tetap konsisten. Banyak media berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena kehilangan istiqamah. Padahal, algoritma media sosial pun lebih menyukai akun yang aktif dan konsisten daripada akun yang hanya sesekali ramai.
Akhirnya, humas pesantren harus menyadari bahwa setiap foto, video, berita, dan unggahan media sosial sejatinya adalah bagian dari dakwah. Apa yang dipublikasikan hari ini bukan hanya membangun citra pesantren, tetapi juga menjadi jejak sejarah yang akan dibaca generasi berikutnya. Karena itu, mari terus berpegang pada empat rumus sederhana ini: istikamah memproduksi, istiqamah mendistribusikan, istiqamah berkreasi, dan istiqamah membangun koneksi.
Sebab pada akhirnya, media pesantren yang besar bukanlah media yang memiliki kamera paling mahal atau studio paling megah, melainkan media yang paling istikamah dalam berkarya, menyebarkan manfaat, dan menghadirkan dakwah yang mencerahkan masyarakat.












