Beranda Warta

Santri Harus Bisa Manfaatkan “Khodam Digital” Untuk Dakwah, Apa itu?

Santri Harus Bisa Manfaatkan "Khodam Digital" Untuk Dakwah, Apa itu?
Santri Harus Bisa Manfaatkan "Khodam Digital" Untuk Dakwah, Apa itu?

PURWOKERTO,nubanyumas.com – Istilah “Khodam Digital” belakangan mencuat sebagai dorongan baru bagi pondok pesantren di Kabupaten Banyumas dalam memperkuat syiar agama di dunia maya. Konsep ini merujuk pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai alat bantu operasional santri.

Gagasan tersebut dikemukakan oleh Direktur Mediamorphosis sekaligus Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyumas, Rujito. Ia memperkenalkan pendekatan inovatif ini pada hari kedua Pelatihan Media Digital Santri Pondok Pesantren Kabupaten Banyumas di Aula MAN 2 Banyumas, Rabu (22/07/2026).

Di hadapan 50 santri utusan dari berbagai pondok pesantren, Rujito menganalogikan AI sebagai “khodam digital” yang siap sedia 24 jam penuh untuk mempercepat kerja-kerja teknis jurnalistik dan produksi konten dakwah.

“Santri tidak perlu lagi kehabisan banyak waktu di hal-hal teknis dasar. Biarkan AI, sang ‘khodam digital’ ini, yang bekerja membantu riset, merumuskan ide, menyusun draf naskah tulisan, hingga merancang visual konten. Sementara itu, ruh, substansi, dan sanad keilmuannya tetap dijaga ketat oleh santri dan kiai,” jelas Rujito.

Dalam pelaksanaannya, Rujito memberikan simulasi langsung terkait tata cara menginstruksikan perangkat AI untuk menghasilkan artikel, desain grafis, maupun skrip video dakwah. Pendekatan ini dinilai mampu menjembatani kebutuhan pesantren akan kecepatan dan kuantitas distribusi informasi.

Lebih lanjut, Rujito menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, melainkan harus diadaptasi secara tepat guna oleh kalangan pesantren agar ruang digital tidak didominasi oleh informasi yang keliru atau hoaks.

“Jika santri bisa memerintahkan ‘khodam digital’ ini dengan arahan yang tepat, penyebaran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah akan jauh lebih masif dan terstruktur. Ini adalah cara kita mengimbangi dominasi informasi yang tidak jelas kebenarannya di dunia maya,” pungkas Rujito menutup sesinya.

(H Ahyar)