Beranda Keislaman

Gus Anam: Ilmu Bukan Warisan Biologis!

Gus Anam: Perjalanan Menuju Allah itu Sulit. Tapi...

BANYUMAS, nubanyumas.com – Dalam kultur masyarakat kita, nama besar keluarga sering kali dianggap sebagai jaminan mutu. Ada asumsi tak tertulis bahwa jika ayahnya alim, maka anaknya otomatis mewarisi ilmu yang sama.

Namun, di berbagai forum pengajian pesantren—baik melalui metode bandongan maupun sorogan—KH Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) dengan tegas meruntuhkan zona nyaman tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler ini sering menyuguhkan “tamparan” intelektual yang membangunkan para pencari ilmu dari tidur panjangnya.

Salah satu pernyataan Gus Anam yang paling ikonik dan sering menjadi perbincangan adalah:

لا علاقة بين العلم و النسب

“Tidak ada keterkaitan antara ilmu dan nasab.”

Kalimat ini singkat, namun berbobot. Gus Anam ingin menegaskan bahwa ilmu bukanlah aset biologis yang tersimpan dalam heliks DNA.

Ilmu memiliki hukumnya sendiri. Ia adalah entitas mandiri yang tidak bisa diwariskan layaknya tanah atau takhta. Seseorang dengan nasab mulia namun enggan berproses, ibarat memiliki bejana emas namun tak pernah diisi air—berkilau di luar, tapi kosong di dalam.

Ketegasan Gus Anam berlanjut pada maqolah berikutnya yang menjadi pengingat keras bagi para santri:

النسب مسؤولية لا تفاخر

“Nasab adalah tanggung jawab, bukan kebanggaan.”

Di sini, beliau menggeser fungsi nasab dari sekadar “perhiasan sosial” menjadi beban moral. Bagi seorang santri yang memiliki garis keturunan mulia, nasab seharusnya menjadi cambuk untuk bekerja sepuluh kali lebih keras.

Mengandalkan nama besar orang tua tanpa kapasitas ilmu yang mumpuni adalah bentuk kegagalan dalam menjaga marwah leluhur. Nasab adalah “utang sejarah” yang harus dibayar lunas dengan kualitas diri, bukan alat untuk menyombongkan diri (tafakhur).

Gus Anam juga sering menekankan sebuah aksioma tetap dalam dunia pendidikan:

العلم بالجد و الإجتهاد لا بالآب والأجداد

“Ilmu itu diraih dengan perjuangan dan kesungguhan, bukan karena ayah dan kakeknya.”

Beliau berpesan, siapa pun yang bersungguh-sungguh, pasti akan diberikan ilmu oleh Allah tanpa pandang bulu. Janji Allah ini bersifat universal.

Pintu ilmu terbuka lebar bagi siapa saja, baik anak petani maupun putra kiai. Di hadapan kitab dan pena, semua orang berdiri di garis start yang sama: yaitu ketekunan.

Untuk membuktikan hal ini, Gus Anam sering menceritakan kisah Yaqut al-Arsy, murid Imam Abul Abbas al-Mursi. Meski awalnya seorang budak belian, karena kesungguhannya, ia diangkat menjadi khalifah sekaligus menantu gurunya.

Suatu hari, seorang cucu Nabi yang merasa cemburu bertanya kepada Yaqut: “Siapa kakekmu? Wajahmu tak setampan aku. Mengapa orang-orang lebih menghormatimu daripada aku yang jelas cucu Rasulullah?”

Jawaban Yaqut sangat mencerahkan: “Mungkin orang-orang hormat kepada saya karena saya mengikuti perilaku kakek Anda (Rasulullah). Sementara mereka kurang hormat kepada Anda, mungkin karena mereka menyangka Anda sedang mengikuti perilaku kakek saya (budak).”

Pesan Gus Anam ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada silsilah, melainkan pada perilaku dan ilmu yang diperjuangkan.

Dunia keilmuan adalah dunia yang jujur. Ia tidak memandang warna darah, melainkan ketebalan niat dan cucuran keringat.

Bagi siapa pun yang sedang menuntut ilmu, jangan terbuai nama besar keluarga, dan jangan berkecil hati jika bukan siapa-siapa. Sebab, ilmu adalah hadiah bagi mereka yang paling gigih bersujud di depan kitab.

Penulis: : Abdulloh Al Kaff, Mahasantri Mahad Aly Andalusia
Editor: H Ahyar