Khutbah Jumat: Meneladani Hijrah Rasulullah SAW, Dari Hijrah Menuju Peradaban Mulia
Oleh: Gus M. Sa’dullah (Ketua PC LDNU Kab. Banyumas & Pengasuh PP Ath-Thohiriyyah 2, Karangklesem, Purwokerto Selatan)
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلهِجْرَةَ سَبِيْلًا لِلنَّصْرِ وَالتَّمْكِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus bekal utama untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak.
Pada awal Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini, marilah kita menengok kembali sebuah peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah peradaban Islam, yakni Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah perjalanan perjuangan, pengorbanan, dan perubahan yang mengantarkan umat Islam dari masa penindasan menuju masa kejayaan.
Allah swt. berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sungguh, pahala di akhirat jauh lebih besar sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hijrah Rasulullah saw. adalah bukti nyata pengorbanan yang luar biasa demi tegaknya agama Allah swt. Beliau meninggalkan tanah kelahiran yang sangat dicintainya, meninggalkan rumah, harta benda, dan berbagai kenyamanan hidup demi menjaga keberlangsungan dakwah Islam.
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. hendak meninggalkan Kota Makkah, beliau berdiri memandang kota tersebut seraya bersabda:
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
Artinya: “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang terbaik dan bumi yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu.” (HR. At-Tirmidzi)
Ungkapan ini menunjukkan bahwa hijrah bukanlah pilihan yang mudah. Rasulullah saw. berhijrah bukan karena mencari kenyamanan hidup, melainkan karena ketaatan kepada Allah dan demi menyelamatkan risalah Islam.
Ketika kaum Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap beliau, Rasulullah saw. tetap tenang dan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah. Bersama Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., beliau bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur. Saat para pengejar sudah berada tepat di mulut gua, Abu Bakar r.a. merasa sangat khawatir.
Dalam riwayat Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya, niscaya ia akan melihat kita.”
Namun, Rasulullah menjawab dengan penuh ketenangan, “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah menjadi yang ketiga bersama mereka?” Kemudian Allah swt. mengabadikan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Artinya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Kalimat singkat ini mengandung pelajaran yang sangat besar. Bahwa seorang mukmin harus memiliki keyakinan, optimisme, dan tawakal yang kuat kepada Allah swt. Ketika manusia merasa tidak memiliki kekuatan, Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya dapat datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain Rasulullah saw., para sahabat juga memperlihatkan pengorbanan yang luar biasa. Mereka rela meninggalkan rumah, harta benda, kebun, perdagangan, bahkan keluarga demi mempertahankan keimanan mereka.
Abdurrahman bin Auf r.a., misalnya, datang ke Madinah tanpa membawa kekayaan yang selama ini dimilikinya di Makkah. Namun dengan semangat, kerja keras, dan keberkahan iman, beliau mampu bangkit kembali hingga menjadi salah seorang sahabat yang kaya raya dan dermawan.
Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berhijrah karena Allah tidak pernah rugi. Mereka mungkin kehilangan sesuatu di dunia, tetapi Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pelajaran besar berikutnya dari hijrah adalah pentingnya membangun persaudaraan dan solidaritas sosial.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah saw. tidak langsung membangun kekuatan militer atau memperluas wilayah kekuasaan. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun Masjid Nabawi sebagai pusat pembinaan umat, kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Sa’ad bin Rabi’ r.a., seorang sahabat dari kaum Anshar, menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman bin Auf r.a. yang datang dari Makkah tanpa membawa apa-apa. Namun Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar berada.”
Kisah ini menunjukkan betapa indahnya persaudaraan yang dibangun Rasulullah saw. Kaum Anshar memiliki kepedulian yang tinggi, sementara kaum Muhajirin memiliki semangat untuk mandiri dan bekerja keras. Allah swt. memuji kaum Anshar dalam firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Artinya: “Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Dari sinilah lahir masyarakat Islam yang kuat, harmonis, dan berperadaban. Sebab kemajuan umat tidak dibangun hanya dengan kekuatan ekonomi dan teknologi, melainkan juga dengan persatuan, kepedulian, dan persaudaraan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pelajaran terakhir yang dapat kita petik dari hijrah adalah pentingnya kesabaran dan istikamah dalam perjuangan.
Sebelum menikmati kehidupan yang damai di Madinah, Rasulullah saw. dan para sahabat harus melewati berbagai ujian berat: caci maki, intimidasi, boikot ekonomi, penyiksaan, pengusiran, hingga ancaman pembunuhan. Namun semua itu tidak melemahkan semangat mereka. Allah swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Kesabaran itulah yang akhirnya mengantarkan mereka kepada kemenangan. Dari kota Madinah yang sederhana, lahirlah sebuah peradaban yang menerangi dunia dengan ilmu, keadilan, akhlak, dan kemanusiaan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hijrah mengajarkan kepada kita bahwa peradaban yang mulia tidak dibangun di atas kemewahan, melainkan di atas pengorbanan; tidak dibangun di atas egoisme, melainkan di atas persaudaraan; dan tidak dibangun dengan keputusasaan, melainkan dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah swt.
Oleh karena itu, memasuki Tahun Baru Hijriah ini, marilah kita melakukan hijrah dalam kehidupan kita masing-masing: berhijrah dari kemalasan menuju kesungguhan beribadah, dari perpecahan menuju persatuan, dari akhlak yang buruk menuju akhlak yang mulia, serta dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah swt.
Apabila Rasulullah saw. dan para sahabat mampu mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang berperadaban mulia melalui iman, ilmu, dan akhlak, maka umat Islam pada hari ini pun akan mampu bangkit kembali apabila menjadikan semangat hijrah sebagai jalan perubahan.
Semoga Allah swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu mengambil pelajaran dari hijrah Rasulullah saw. dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA: Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.















