Beranda Opini

Balsem Kehidupan

Foto Ilustrasi ; KH Zuhrul Anam (Gus Anam) saat mengkaji kitab bersama santri di Ponpes At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia.
Oleh : Rujito, M.Sos.*
Dosen, Pemerhati Komunikasi Pesantren, Wakil Sekretaris PCNU Banyumas.

“Orang itu tidak mungkin bahagia terus.
Tidak mungkin juga susah terus.
Kadang-kadang bahagia, kadang-kadang susah.”
 

Kalimat sederhana itu mungkin sudah puluhan kali saya dengar dari KH. Zuhrul Anam Hisyam, atau yang akrab kami panggil Abah Anam. Hampir di setiap kesempatan ketika memberikan mauidzah kepada para santri maupun jamaah, beliau selalu mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berjalan dalam satu warna. Ada saatnya lapang, ada masanya sempit. Ada masa tertawa, ada pula waktu untuk bersabar.

Semula saya menganggapnya sebagai nasihat yang biasa. Namun semakin lama saya mendengar, mengamati, dan mencoba mempelajari cara beliau menjalani kehidupan, saya justru menemukan kedalaman makna yang luar biasa. Abah Anam bukan hanya seorang mursyid, tetapi juga pengasuh Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia di Leler, Kebasen, Banyumas, yang hari ini membina lebih dari 3.000 santri.

Semakin lama saya memperhatikan cara beliau memandang kehidupan, semakin saya menyadari bahwa setiap nasihatnya tidak lahir dari teori atau retorika, melainkan dari laku hidup yang dijalani dengan penuh kesadaran. Apa yang beliau ucapkan adalah sesuatu yang terlebih dahulu beliau amalkan. Dari sekian banyak pelajaran yang saya tangkap, ada satu keyakinan yang terasa sangat kuat dalam diri beliau, yakni bahwa kehidupan selalu bekerja dalam hukum pasangan.

Segala sesuatu berjodoh; langit dengan bumi, laki-laki dengan perempuan, kaya dengan miskin, sehat dengan sakit, nikmat dengan ujian, bahkan bahagia pun selalu memiliki pasangan bernama derita. Tidak ada kenikmatan yang hadir tanpa penyeimbang, sebagaimana tidak ada kesulitan yang datang tanpa jalan menuju kemudahan. Cara pandang inilah yang, menurut saya, menjadi fondasi bagaimana beliau menjalani kehidupan sehari-hari.

Keyakinan tersebut kemudian mewujud dalam bentuk tirakat. Menariknya, tirakat yang dilakukan Abah Anam bukan karena sedang memiliki hajat tertentu, bukan pula sebagai respons atas datangnya musibah. Tirakat justru menjadi bagian dari ritme kehidupan. Beliau pernah memberi contoh yang sangat sederhana: selepas shalat Subuh hingga waktu Dhuha digunakan untuk berwirid.

Bagi kebanyakan orang, itu tentu terasa berat dan tidak nyaman. Namun justru di situlah letak maknanya. Rasa berat itu menjadi semacam kafarah, penawar, sekaligus latihan agar manusia tidak hanya mengejar sesuatu yang enak, tetapi juga bersedia menerima “ketidaknyamanan” sebagai jalan menuju kesehatan, keberkahan, dan kemuliaan hidup.

Bagi saya, hidup memang bekerja seperti hubungan antara badan yang pegal dan balsem. Setelah bekerja, tubuh akan kembali pegal. Diolesi balsem, rasa nyeri mereda. Namun bukan berarti pegal itu hilang selamanya. Esok hari, ketika aktivitas kembali dimulai, pegal itu datang lagi. Balsem pun kembali dibutuhkan. Begitulah kehidupan.

Masalah tidak pernah benar-benar habis, sebagaimana kebahagiaan juga tidak pernah benar-benar menetap. Yang terus berulang adalah dinamika, sedangkan yang menentukan kualitas hidup bukanlah ada atau tidaknya persoalan, melainkan kemampuan kita menyiapkan “balsem” untuk setiap rasa pegal yang datang.

Kesadaran seperti inilah yang penting dimiliki. Kesadaran bahwa hidup memang diciptakan dengan pasangan-pasangannya. Bahagia berdampingan dengan sedih. Kemudahan berjalan bersama kesulitan. Sehat beriringan dengan sakit. Siang bertemu malam. Semua datang bergantian sesuai sunatullah.

Karena itu, sejatinya tidak ada manusia yang benar-benar selalu bahagia. Sebaliknya, tidak ada pula yang benar-benar selalu menderita. Yang membedakan hanyalah bagaimana seseorang mengelola keadaan dan bagaimana ia memandang setiap peristiwa yang datang kepadanya.

Menariknya, dua hal terakhir itulah yang paling sering dinilai orang lain. Mereka tidak pernah benar-benar melihat pergulatan batin kita. Mereka hanya melihat hasil akhirnya: wajah yang tetap tenang, senyum yang tetap mengembang, atau sikap yang tetap bijaksana. Padahal di balik semua itu mungkin telah terjadi pergulatan yang sangat panjang, air mata yang tak terlihat, serta ikhtiar yang tak pernah diketahui siapa pun.

Barangkali, di situlah letak kedewasaan hidup. Bukan pada seberapa sedikit ujian yang kita alami, melainkan pada seberapa baik kita mengolah setiap gejolak menjadi ketenangan, setiap luka menjadi hikmah, dan setiap rasa pegal selalu kita temani dengan “balsem” yang membuat langkah tetap mampu dilanjutkan.

*) tulisan ini adalah refleksi pribadi, bukan tafsir baku atas pernyataan atau analisa sikap seseorang. Semoga ada manfaatnya, menjadikan kita semakin luas berfikir dan diliputi ketenangan dalam hidup.