Oleh: M. Sa’dulloh
Ketua LDNU Banyumas
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ جُوْدِهِ مَا لَايُحْصَرُ، وَشَرَعَ لَنَا شَرَائِعَ الْأَحْكَامِ وَيَسَّرُ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ فَهُوَ الْجَوَّادُ الْغَفَّارُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَالْعِزَّةُ لِلَّهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ وَرَحْمَةٌ لِّلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ صَابِرِيْنَ مُحْتَسِبِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى :يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah kita bersyukur kepada Allah Swt. yang masih memberi kita kehidupan, kesehatan, keluarga, dan kesempatan hadir di rumah-Nya untuk menunaikan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Dalam kehidupan, tidak semua berjalan sesuai harapan. Ada saat rezeki lapang, ada saat kebutuhan terasa berat. Ada yang diuji dengan keluarga, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, bahkan persoalan yang hanya tersimpan di dalam hati. Oleh karena itu, kita membutuhkan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah.
اَلتَّقْوَى فِعْلُ الطَّاعَاتِ وَتَرْكُ الْمَعَاصِي خَشْيَةً مِنَ اللهِ وَرَجَاءَ ثَوَابِهِ وَامْتِثَالَ اَمْرِهِ.
Artinya: “Takwa adalah melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan karena takut kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, dan mengikuti perintah-Nya.”
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Di atas segala nikmat dunia, ada nikmat yang paling besar, yaitu cinta Allah kepada kita. Jika Allah mencintai seorang hamba, ujian mungkin tetap datang, tetapi hatinya tidak mudah hancur dan harapannya tidak mudah padam.
Allah Swt berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang kepada mereka.” (QS. Maryam: 96).
Ibnu Abbas Ra menjelaskan:
يُحِبُّهُمُ اللهُ وَيُحَبِّبُهُمْ إِلَى عِبَادِهِ
Artinya: “Allah mencintai mereka dan menjadikan mereka dicintai oleh hamba-hamba-Nya.”
Maka, cinta Allah bukan hanya menghadirkan ketenangan dalam hati, tetapi juga menjadikan seseorang dicintai dan memberi kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Lalu, bagaimana cara mendapatkan cinta Allah? Rasulullah Saw. menyampaikan hadis qudsi:
مَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ اَحَبَّ اِلَيَّ مِمَّا اِفْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ
Artinya: “Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan bahwa jalan pertama menuju cinta Allah adalah menjaga kewajiban. Shalat dijaga, puasa dilaksanakan, zakat ditunaikan, amanah dijalankan, hak sesama dihormati, dan kemaksiatan ditinggalkan. Setelah kewajiban terjaga, kita memperbanyak amal sunnah. Dengan itulah seorang hamba semakin dekat dan dicintai Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Di antara tanda seseorang memperoleh kasih sayang Allah adalah menjaga lima perkara:
إِذَا لَزِمَ خَمْسَ خِصَالٍ ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا: اَلْوَفَاءَ بِالْعُهُوْدِ وَالْحِفْظَ لِلْحُدُوْدِ وَالرِّضَا بِالْمَوْجُوْدِ وَالصَّبْرَ عَنِ الْمَفْقُوْدِ وَالْمُوَافَقَةَ لِلْمَعْبُوْدِ
Artinya: “Menepati janji, menjaga batas-batas hukum Allah, ridha dengan apa yang dimiliki, bersabar atas sesuatu yang tidak dimiliki, dan menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki Allah Swt.” (Al-Manhaj As-Sawiy, hal. 463).
Inilah akhlak orang yang mencintai Allah: menepati janji, taat kepada aturan-Nya, bersyukur atas nikmat, sabar atas kehilangan, dan tidak berburuk sangka kepada Allah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan bahwa ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memudahkannya melakukan kebaikan. Ia dimudahkan bersedekah, menghadiri majelis ilmu, menjaga shalat, bertemu orang-orang baik, dan dijauhkan dari lingkungan yang buruk. Semua itu merupakan bentuk pertolongan Allah.
Sebaliknya, jika seseorang terus-menerus berada dalam keburukan tanpa keinginan untuk kembali kepada Allah, hendaknya ia berhati-hati. Oleh karena itu, marilah kita memohon agar Allah selalu mengarahkan langkah kita kepada kebaikan.
Ada kisah masyhur tentang Rabi’ah Al-Adawiyah. Suatu malam, seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun setiap kali ia hendak membawa barang, pintu rumah tidak terlihat. Ketika barang itu dikembalikan, pintu kembali terlihat. Hal itu terjadi berkali-kali. Ketika pencuri hendak pergi, terdengar suara:
إِنْ كَانَتْ رَابِعَةُ نَائِمَةً فَمَحْبُوْبُهَا لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
Artinya: “Jika Rabi’ah sedang tidur, maka Dzat yang dicintainya tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.”
Terlepas dari kisah tersebut, pesannya sangat dalam: manusia bisa tidur dan lengah, tetapi Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah lengah.
Ketika kita sendirian, Allah mengetahui. Ketika kita menangis dalam kesunyian, Allah mengetahui. Bahkan sebelum doa terucap, Allah telah mengetahui isi hati kita. Maka jangan merasa sendirian selama kita memiliki Allah. Jangan kehilangan harapan selama kita masih dapat berdoa. Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Inilah yang melahirkan sikap optimis.
Seorang mukmin bukan orang yang bebas dari masalah. Ia adalah orang yang ketika menghadapi masalah, tetap yakin bahwa Allah mempunyai jalan keluar. Ketika satu pintu tertutup, Allah mampu membuka pintu yang lain. Ketika rencana gagal, mungkin Allah sedang menyiapkan jalan yang lebih baik. Ketika rezeki sempit, ia tetap berusaha dan berdoa. Ketika sakit, ia bersabar. Ketika kehilangan, ia mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Karena semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah.
Allah Swt. berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6).
Allah tidak mengatakan setelah kesulitan ada kemudahan, tetapi bersama kesulitan ada kemudahan. Artinya, di tengah kesulitan pun pertolongan Allah sebenarnya telah menyertai kita. Hanya saja, terkadang kita belum melihat dan memahami hikmahnya. Boleh jadi, di balik masalah ada kemudahan. Di balik air mata ada kebahagiaan. Di balik kehilangan ada keselamatan yang Allah siapkan.
Para ulama menjelaskan bahwa pengulangan ayat tersebut memberikan isyarat bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan, karena lafaz al-‘usru berbentuk ma‘rifah, sedangkan yusran berbentuk nakirah.
Rasulullah Saw bersabda:
لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
Artinya: “Satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan.”
Maka, wahai kaum muslimin, jangan menyerah kepada keadaan. Tetaplah berusaha, berdoa, bersabar, dan bertawakal. Yang terpenting, tetaplah mencintai Allah dan berharap kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dicintai-Nya, dimudahkan urusannya, dikuatkan menghadapi ujian, disehatkan lahir dan batin, dijauhkan dari kemiskinan, diberi keluarga yang sakinah, serta dianugerahi keberkahan dan kebahagiaan dunia akhirat. Amin.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ .وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ مُعِيْدِ الْجُمَعِ وَاْلأَعْيَادِ، وَمُبِيْدِ الْأُمَمِ وَالْأَجْنَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِي إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ اَلْمَفَضَّلِ عَلَى جَمِيْعِ الْعِبَادِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمِيْعَادِ .أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَاشْكُرُوهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْكُمْ .قَالَ اللهُ تَعَالَى :إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ .اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَلَى الْمَدْيُوْنِيْنَ .اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَاْلبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ: اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ .فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.












