Yakin, Niat Puasa Ramadhannya Sudah Tepat? Yuk, Simak

675
Niat Puasa Ramadan

Jika anda Googling di internet atau yang sering anda saksikan di layar-layar televisi menjelang adzan shubuh, bacaan kalimat niat puasa berbunyi “Nawaitu shouma ghodin ‘an adai fardhi syahri romadhona hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Sekali lagi, itu kalimat niat puasa ramadhan hasil googling dan dari televisi lho ya. Nah, persoalannya tepat apa tidak sih kalimat niat itu?

Di beberapa masjid-masjid NU atau mushola-mushola NU, kalimat niat puasa ramadhan sedikit agak berbeda. Yaitu pada kata “Romadhona” yang dibaca “Romadhoni“. Kalau begitu kalimat yang tepat yang seperti apa sih?

Yuk, simak baik-baik.

Intinya begini, kalau anda suka membaca kalimat niat puasa ramadhan dengan bacaan “Romadhona“, maka sebaiknya ketika membaca kalimat selanjutnya dengan bacaan “hadzihis sanata” bukan “hadzihis sanati.” Jadi kalau dibaca lengkapnya menjadi begini
Nawaitu shouma ghodin ‘an adai fardhi syahri romadhona hadzihis sanata lillahi ta’ala.”

Oke, sekarang coba kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Artinya yaitu “Saya niat pada tahun ini untuk berpuasa esok hari sebagai pelaksanaan kewajiban Ramadhan”.

Kelihatan wagu kan terjemahannya? Yang wagu bukan cara menerjemahkannya, tapi memang kalimat bahasa arabnya wagu, sehingga kurang pas dalam penerjemahannya.

Kata “hadzihis sanata” (“pada tahun ini”) adalah kata keterangan yang menunjukkan waktu pelaksanaan niat berpuasa –“Nawaitu” Saya niat berpuasa. Artinya, menurut pemahaman kalimat tersebut, waktu niat berpuasa untuk esok hari adalah tahun ini. Harusnya, waktu niat berpuasa untuk esok hari adalah malam ini (saat niat diucapkan), bukan tahun ini.

Nah, kalimat “Nawaitu shouma ghodin ‘an adai fardhi syahri romadhona hadzihis sanata lillahi ta’ala,” adalah benar secara kaidah bahasa Arab, tetapi cacat secara maknanya, karena tidak sesuai dengan realitanya.

Sekarang kita bandingkan dengan kalimat yang berbunyi “Nawaitu shouma ghodin ‘an adai fardhi syahri romadhoni hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Jika diterjemahkan “Saya niat puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kalimat niat puasa inilah yang dipilih oleh para ulama’ dalam semua kitab-kitab fiqh, karena secara kaidah bahasa Arab dan juga maknanya sudah tepat dan sesuai dengan realitanya.

Kalau kita merujuk ke kitab “Fath al- Mu’in” karya Syaikh Zainuddiin al-Malabaari, ia menulis dalam kitabnya

( ﻭَﺃَﻛْﻤَﻠُﻬَﺎ ) ﺃﻱ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔُ( ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﻓَﺮْﺽِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥِ ) ﺑِﺎﻟْﺠَﺮِّ ﻟِﻠْﺈِﺿَﺎﻓَﺔِ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ( ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ )

“Niat puasa yang paling lengkap adalah
nawaitu souma ghadin ‘an adai fardi ramadani, –dengan dibaca jer karena diidofatkan kepada kata sesudahnya, yaitu “hadzihi al-sanati lillaahi ta’aala”.

Lalu bagaimana dengan niat puasa yang berbunyi “Romadhona hadzihis sanati lillaahi ta’aala” seperti yang ada tivi-tivi itu?

Yang jelas kalimat tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan secara gramatikal Arab. Tentunya dalam penerjemahannya pun semakin wagu dan tidak nyambung.

Kesimpulannya, kalimat niat puasa ramadhan yang tepat, benar dan baik secara kaidah Bahasa Arab atau maknanya. Dan juga sesuai petunjuk dari para ulama fiqh adalah sebagai berikut;

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﻓَﺮْﺽِ شهرِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaitu shouma ghodin ‘an adai fardhi syahri romadhoni hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Wallaahu A’lam

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here