JATILAWANG, nubanyumas.com – Pimpinan Ranting Muslimat NU Desa Margasana, Kecamatan Jatilawang, kembali menggelar Pengajian Rutin Ahad Pon sebagai upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus mempererat sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat. Kegiatan berlangsung di halaman rumah Jaelani, RT 004/RW 002 Desa Margasana, Ahad (31/5/2026), dan dihadiri tokoh agama, pengurus badan otonom NU, serta unsur pemerintah desa.
Mengusung tema “Pentingnya Menghormati Ulama, Umaro, Tetangga dan Keluarga”, pengajian menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana penuh kekeluargaan. Kehadiran pemerintah desa bersama jajaran Muslimat NU menunjukkan kuatnya kolaborasi sosial-keagamaan di tingkat desa.
Mewakili Ketua Muslimat NU Ranting Margasana Hj. Alfiyah, Hj. Ning Solihah menegaskan bahwa pengajian rutin merupakan bagian dari ikhtiar menjaga tradisi keagamaan sekaligus memperkuat fondasi spiritual masyarakat.
“Pengajian ini akan terus dirawat dan dilestarikan sebagai sarana syiar Islam serta penguatan akhlak masyarakat dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Jatilawang, Hj. Sholihah, S.Ag., menambahkan bahwa pengajian rutin memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang. Menurutnya, kegiatan keagamaan menjadi ruang untuk memperkuat ketenangan batin sekaligus mempererat hubungan antarsesama.
Sementara itu, Kepala Desa Margasana, Dodit Ariwibowo, S.Farm., mengapresiasi peran aktif Muslimat NU dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan menjadi modal penting dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Persatuan antara ulama, umara, dan masyarakat harus terus dijaga. Hubungan yang baik antartetangga dan seluruh elemen desa menjadi kunci terciptanya kedamaian sekaligus kemajuan Desa Margasana,” kata Dodit.
Dalam mauidzah hasanahnya, Ustadz Achmad Saefudin mengajak seluruh jamaah untuk mengedepankan persatuan dan mengurangi sikap egoisme dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, keharmonisan keluarga, kerukunan warga, dan hubungan baik dengan para pemimpin merupakan pondasi penting dalam membangun kehidupan yang penuh keberkahan.
Pengajian Ahad Pon yang secara rutin diselenggarakan Muslimat NU Margasana tersebut tidak hanya menjadi wadah penguatan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga sarana memperkokoh kebersamaan antara masyarakat, ulama, dan pemerintah desa. Semangat kolaborasi inilah yang diharapkan terus tumbuh untuk menjaga kondusivitas serta memperkuat pembangunan sosial di Desa Margasana.












