Ninggal Katresnan Ing Ndalem Sih Kerinduan

85
Puisi bulan Ramadhan, Ninggal katresnan

Wanginya masih di sekitar, segar dalam ingatan, sekaligus membayang di pelupuk pandang, menggugah jiwa. Kemarin itu, selalu

Ada angin yang menggiring, membawa rinding sulbi, menyisir masuk rongga jiwa. Lalu tulang-tulang bersukacita. Sampai bulu kuduk tegak ceria. Di tengkuk, juga pada sebidang dada. Saat itu

Kebahagiaan deras memancar, bersama lengking suara suling, menyatu di angkasa raya. Bergoyang menari dinadhomi bait-bait matsnawi Rumi, dengan riang gembira.

Rasanya kesedihan yang nggantung di mana-mana, berubah seketika. Aih, indahnya

Cahaya memantul-mantul sepanjang siang dan malam, di mata, juga yang nylusup di dada, akan ngrangkul yang redup agar ikutan murup. Kadang hidup ibarat nunggu

Bedug maghrib. Maka bergegaslah, jangan ditunda-tunda, riang gembiralah dengan yang manis-manis. Sebab, letak begja siapa yang bisa menerka?

Sementara, gerombolan angin terus berdesakan di dalam dada. Wuih, betapa

Bulan seribu bulan selalu memberi cerita, tentang kesalehan yang semata-mata, tentang kesalahan yang rupa-rupa, juga, tentang kesalehan yang pura-pura. Tapi ini

Bulan seribu bulan. Ini bulan beribu ampunan. Sekaligus ini bulan amalan. Bulan yang dirindukan. Arrgh, belum juga sempat

Berkasih mesra, dan beruluk rindu. Rupa bulan sudah berada di ambang tenggelam. Seperti katresnan bertepuk sebelah tangan. Ninggal katresnan ing ndalem sih kerinduan. Perihnya

Sangat terasa. Namun waktu terus melaju, pelan tapi pasti, ke kiri, terus ke kiri, untuk kembali ngawiti. Akan tetapi

Tanggal selalu gigal siji-siji. Bulan akan segera surup. Segar wanginya masih terasa kuncup. Namun, sepasang mata meredup bersama tangis dan harapan yang selalu hidup.

24 Ramadan 1442 H
Wahyu Ceha, tinggal di Banyumas dan bergabung di Samawi

3 KOMENTAR

  1. Berkasih mesra, dan beruluk rindu. Rupa bulan sudah berada di ambang tenggelam. Seperti katresnan bertepuk sebelah tangan. Ninggal katresnan ing ndalem sih kerinduan. Perihnya

    Sangat terasa. Namun waktu terus melaju, pelan tapi pasti, ke kiri, terus ke kiri, untuk kembali ngawiti. Akan tetapi
    Tanggal selalu gigal siji-siji. Bulan akan segera surup. Segar wanginya masih terasa kuncup. Namun, sepasang mata meredup bersama tangis dan harapan yang selalu hidup.

    diksinya asik
    Kerinduan mendalam
    jiwa-jiwa peraih berkah

    Salam

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here