Beranda Opini

Ke Mana Ruh Kita Saat Tidur? Ini Penjelasan Al-Qur’an dan Ulama Tafsir

Drs. H. Mughni Labib, M.Si.
Drs. H. Mughni Labib, M.Si.

Oleh:  Drs. H. Mughni Labib, M.Si.
(Dosen Syariah UIN SAIZU Purwokerto, Rais Syuriyah PCNU Banyumas, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Banyumas, Pengasuh PP. Al-Ittihaad)

SETIAP malam manusia melakukan sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan misteri besar: tidur. Kesadaran menghilang, tubuh beristirahat, mata terpejam, dan untuk beberapa jam manusia berada dalam keadaan yang berbeda dari saat terjaga. Namun, pernahkah kita bertanya, ke mana ruh ketika kita tidur? Apakah ruh tetap berada di dalam tubuh, atau Allah mengambilnya untuk sementara?

Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan filosofis. Al-Qur’an sendiri memberikan isyarat bahwa tidur memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kematian. Para ulama tafsir kemudian membahas hubungan antara ruh, jiwa, tidur, dan kematian berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an serta riwayat yang mereka terima. Di antara ulama yang memberikan penjelasan menarik mengenai persoalan ini adalah Ahmad bin Muhammad bin Ismail ash-Shawi al-Khalwati al-Maliki dalam Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain dan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an.

Salah satu ayat yang menjadi dasar pembahasan adalah firman Allah dalam QS Az-Zumar ayat 42:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (seseorang) pada saat kematiannya dan jiwa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.”

Menariknya, ayat tersebut menggunakan kata yatawaffa untuk dua keadaan: kematian dan tidur. Pada orang yang telah tiba ajalnya, Allah menahan jiwa tersebut dan tidak mengembalikannya kepada tubuh. Sementara pada orang yang masih diberi umur, jiwa yang “diambil” ketika tidur dikembalikan hingga tiba waktu yang telah ditentukan. Karena kedekatan inilah tidur dalam banyak penjelasan ulama disebut sebagai “saudara kematian”.

Penjelasan serupa dapat ditemukan dalam QS Al-An’am ayat 60. Allah berfirman bahwa Dia “mewafatkan” manusia pada malam hari dan mengetahui apa yang dikerjakan pada siang hari, kemudian membangunkan mereka kembali pada siang hari agar disempurnakan ajal yang telah ditentukan. Ayat ini semakin memperlihatkan bahwa tidur bukan sekadar proses biologis, tetapi juga menjadi tanda kekuasaan Allah atas kehidupan manusia: setiap malam manusia “diambil”, lalu setiap pagi dikembalikan untuk melanjutkan kehidupan.

Lalu, bagaimana sebenarnya keadaan ruh ketika manusia tidur? Ash-Shawi berpandangan bahwa manusia pada dasarnya hanya memiliki satu ruh. Perbedaan penyebutan ruh lebih berkaitan dengan sifat dan fungsinya. Namun, ia juga mengutip pendapat yang membagi ruh menjadi dua, yakni ruh al-yaqdhah dan ruh al-hayat. Ruh al-yaqdhah berkaitan dengan kesadaran; ketika ia ada, manusia berada dalam keadaan terjaga, dan ketika ia keluar, manusia tidur. Sementara ruh al-hayat berkaitan dengan kehidupan; ketika ia berpisah dari tubuh, manusia mengalami kematian.

Dengan demikian, dalam penjelasan Ash-Shawi terdapat perbedaan pandangan mengenai bagaimana memahami ruh ketika tidur. Pendapat pertama melihat manusia memiliki satu ruh dengan sifat-sifat yang berbeda, sementara pendapat lain membedakan antara ruh yang berkaitan dengan kesadaran dan ruh yang berkaitan dengan kehidupan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ruh merupakan wilayah yang tidak sederhana dan tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh pengalaman manusia sehari-hari.

Sementara itu, Al-Qurthubi menukil pendapat Abdullah bin Abbas yang membedakan antara an-nafs (jiwa) dan ruh. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam penjelasan yang dinukil Al-Qurthubi, jiwa berkaitan dengan akal dan kemampuan membedakan, sedangkan ruh berkaitan dengan kehidupan dan gerakan. Ketika manusia tidur, Allah mengambil jiwanya, tetapi tidak mengambil ruhnya. Ketika manusia bangun, jiwa tersebut dikembalikan sehingga kesadaran kembali hadir.

Dari penjelasan tersebut, tidur dapat dipahami sebagai keadaan ketika manusia kehilangan kesadaran tanpa kehilangan kehidupan. Tubuh tetap hidup, tetapi kesadaran yang biasanya menyertai manusia ketika terjaga tidak bekerja sebagaimana biasanya. Di sinilah letak keunikan tidur: manusia berada dalam keadaan yang menyerupai kematian, tetapi belum mengalami kematian yang sesungguhnya.

Al-Qurthubi juga menukil pendapat Ibnu Abbas bahwa ruh orang-orang yang masih hidup dapat bertemu dengan ruh orang-orang yang telah meninggal ketika manusia sedang tidur dan saling mengenal. Dalam pembahasan yang sama, Al-Qurthubi juga menukil pendapat Ali bin Abi Thalib mengenai mimpi. Apa yang dilihat jiwa ketika berada di langit sebelum dikembalikan kepada jasad dipandang sebagai mimpi yang benar, sedangkan apa yang terjadi setelah jiwa dikembalikan dan kemudian mendapat bisikan setan dapat menjadi mimpi yang dusta. Pembahasan ini tentu berada dalam wilayah perkara gaib yang tidak dapat diverifikasi hanya melalui pengalaman empiris manusia.

Karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah SAW menyebut tidur sebagai saudara kematian. Dalam riwayat yang dinukil dalam sejumlah kitab hadis, ketika ditanya apakah penghuni surga tidur, Rasulullah SAW menjawab bahwa tidur adalah saudara kematian, sedangkan di surga tidak ada kematian. Pesan tersebut terasa semakin kuat ketika kita memperhatikan doa yang diajarkan Rasulullah sebelum tidur:

اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا
“Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan aku hidup.”

Ketika bangun, Rasulullah SAW membaca:
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali.”

Pada akhirnya, pembahasan tentang ruh ketika tidur membawa kita pada satu kesadaran sederhana: manusia tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas hidupnya sendiri. Setiap malam kita menyerahkan kesadaran kepada Allah, dan setiap pagi kita menerima kembali kesempatan untuk menjalani kehidupan. Apakah ruh secara hakikat keluar, bagaimana mekanismenya, dan bagaimana hubungan ruh dengan jiwa adalah bagian dari perkara gaib yang penjelasannya tidak sepenuhnya dapat dijangkau manusia. Yang pasti, tidur setiap malam adalah pengingat bahwa hidup dan mati berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Maka, sebelum memejamkan mata, doa Rasulullah bukan sekadar bacaan sebelum tidur. Ia adalah pengakuan seorang hamba bahwa hidup dan matinya berada di tangan Allah. Dan ketika pagi tiba, doa setelah bangun menjadi ungkapan syukur bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk kembali membuka mata, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan menuju-Nya.

رَبَّنَا تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ

“Ya Tuhan kami, wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah kami dengan orang-orang saleh.”
Aamiin.