Sholawat Nabi di Sekitar Pendirian Menara….

72
menara
gambar ilustrasi diambil dari http://bursa-arsitektur.blogspot.com/2015/09/minaret-menara.html

“Percaya atau tidak, sewaktu pendirian menara masjid itu hujan deras. Benar-benar deras tak seperti biasanya. Apalagi sebelumnya cuacanya cerah sekali,” ujar Mahtum kepada santri lainnya sewaktu menjelang tidur di kamar pondok mereka.

“Ah, di sini kan sudah terkenal desa tempat hujan. Seperti belum lama mondok saja kau di sini,” kata Ahmad.

“Ya, itu si aku juga tahu, tapi yang luar biasa itu sewaktu pembuatan menara itu lho. Masa kamu tidak sadar tadi,” kata Mahtum menimpali.

“Percaya atau tidak, aku tadi melihat kalau hujan deras itu tak mengenai lokasi pembuatan menara itu. Hujan itu seolah menghindari bangunan menara saat kita membangun pondasi menara itu,” tambah Mahtum.

Mengapa yang justru diingat oleh temannya adalah bagaimana kengerian soal penemuan tengkorak pada awal pembuatan pondasi itu. Tengkorak siapa dan sebagainya. Namun Sang Abah hanya mengingatkan tidak apa-apa. Maka diletakannya kembali tengkorak itu di sekitar lokasi menara dan dikuburkannya lagi dengan layak. Ya lokasi menara masjid itu memang berada di dekat tepi jalur nasional menuju Ibu Kota Jakarta.

Tetapi mungkin karena terlalu capek usai bekerja membangun pondasi menara masjid pondok, teman-teman Mahtum langsung tertidur usai mengaji sehabis isya tadi. Namun mata Mahtum masih terjaga. Di lihatnya langit-langit kamar pondok yang terbuat dari anyaman bambu dan kayu itu.

Di dalam pikiran Mahtum, ia masih berpikir apakah benar peristiwa tadi pagi itu terjadi. Yah, hujan deras turun, namun tempat ia dan santri lain bekerja membuat pondasi menara masjid tak terkena air hujan sepercikpun. Ya, tetap kering.

###

Yah, hujan deras turun Kang. Bagaimana ini,” kata Mahtum sambil mengambilkan batu-batu pondasi kepada tukang batu untuk pondasi menara masjid pondok.

Sebelum sang tukang batu menjawab, Mahtum dan santri lain mendengar suara yang dikenalnya jelas. Suara sang kiai yang tak lain Abah Habib Idrus.

“Tidak usah ribut. Ayo sholawatan dan lanjutkan pekerjaan,” ujar sang Abah setengah berteriak saat hujan deras mulai turun.

Maka tak berpikir panjang para santri yang turut membantu melayani tukang batu membuat pondasi itu melantunkan sholawat. Sambung menyambung sholawat nabi itu terus dilantunkan. Sementara tak jauh dari lokasi itu sang Abah, yang bersarung putih, berkaos oblong putih dan bersongkok hitam hanya berdiri bersedekap.

“Wah, udane minggir ora ngenani lokasi menara kiye (hujannya menyingkir tak mengenai lokasi menara ini),” kata Mahtum yang tak sengaja mendongak ke atas dan melihat dengan jelas hujan itu turun melengkung tak mengenai lokasi pembuatan pondasi pendirian menara.

Hush, sholawatan terus saja. Kerja terus jangan banyak bicara,” kata Abah memperingatkan. Maka para santri itupun terus bekerja merampungkan pembuatan pondasi menara masjid pondok itu.

Jelang asyar pembuatan pondasi menara itu selesai bersamaan dengan hujan deras reda. Namun peristiwa itu tak dapat dilupakan oleh Mahtum. Kepada siapa, ia akan bercerita itu, sedangkan santri lain enggan mendengarkannya. Padahal hal itu telah benar-benar dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Apakah ia benar atau salah lihat. Ah, tapi suatu saat ini ia pasti akan punya orang yang bisa percaya dan mendengarkan ceritanya itu.

Setelah peristiwa itulah, Mahtum semakin mantap untuk mondok di situ. Iapun yakin bahwa Abah, sang pengasuh pondok yang diikutinya itu bukanlah orang sembarangan. Sebagai santri, iapun percaya kalau setiap kiai pasti punya kelebihan-kelebihan dan hikmah tertentu.

Selain peristiwa hujan yang menghindari lokasi pembuatan menara masjid, Mahtum semakin juga takjub dengan kelebihan sang kiai. Baginya sebagai santri yang pas-pasan, yang penting adalah manut, takdzim kepada sang Abah. Seperti suatu ketika saat ia diminta tiba-tiba maju ke majelis untuk memberikan pengajian di hadapan jamaah pengajian sebuah desa.

“Bagimana Bah, saya harus mengaji di depan jamaah?” katanya bertanya setengah tak percaya. Padahal sejak awal ia hanya sekadar menemaninya.

“Ya, lanjutkan. Kamu bisa,” kata Sang Abah.

Maka usai itulah, ia akhirnya benar-benar lancar menjadi pengisi pengajian di hadapan pengajian sebuah masjid di sebuah desa dekat pinggiran ibukota Kabupaten. Tak disangka, beberapa hari kemudian iapun disuruh pulang ke rumah oleh sang guru yang juga dipanggilnya Abah. Padahal tak ada kabar apapun dari orang rumah ke pondok pesantrennya menimba ilmu.

Lagi-lagi ia bingung, kenapa itu disuruh pulang. Padahal ia sedang betah-betahnya di pondok. Tapi pantang ia membantah perintah Abah. Dan benar saja, setelah ia pulang, ia mendapati sang ayah sedang sakit.

Sepulang dari rumah, ia kemudian kembali ke pondok. Tak lama kemudian, ia kembali secara cepat dijodohkan dilamarkan oleh sang guru. Ya, dia dilamarkan dengan seorang perempuan yang tak lain adalah santri putri dari pondok yang sebelumnya tak ia begitu kenal.

Maka seusai pernikahan itulah, sang bapak meninggal dunia. Ia tak habis pikir, kenapa Sang Abah seperti tahu apa yang akan terjadi. Ini kebetulan atau kebenaran? Apakah ini kelebihan dan hikmah dari seorang yang berilmu dan dekat dengan Tuhannya. Ah sudahlah, yang penting itu membuat Mahtum semakin mantap, takdzim sekaligus takjub kepada gurunya itu.*

Berita sebelumyaDoktrin Maturidiyah-Asy’ariyah dalam Novel “Bekisar Merah”
Berita berikutnyaKader PMII Harus Mampu Bangun Soliditas

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini