Beranda Opini

Makna Edukatif Kurban: Menebar Kemaslahatan, Memotong Egoisme Sosial

Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. KH Mohammad Roqib, M.Ag

Makna Edukatif Kurban: Menebar Kemaslahatan, Memotong Egoisme Sosial

Oleh: Prof. Dr. Drs. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag.
(Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren [FKPP] Banyumas, dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto)

Masyarakat Muslim di seluruh penjuru dunia kembali menyambut Hari Raya Idul Adha dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Momentum tahunan ini begitu universal; bahkan mereka yang non-Muslim namun memiliki kedalaman ilmu, kerap ikut mengapresiasi spirit kemanusiaan yang berembus dari perayaan ini.

Secara umum, kita dapat membedah Idul Adha melalui tiga pendekatan utama: historis, spiritual, dan sosial. Jika ditarik ke dalam ranah pendidikan, ketiga pendekatan ini menghasilkan sebuah sentuhan makna edukatif yang luar biasa. Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan sebuah desain besar untuk memotivasi multidimensi kehidupan kita—mulai dari aspek moral, spiritual, profesional, hingga sosial.

Melalui fragmen sejarah keluarga Nabi Ibrahim AS, kita diajak melihat bagaimana sebuah “tim super” dibangun di atas fondasi pengorbanan, sekaligus menjadi tamparan keras bagi egoisme sosial yang kerap menjangkiti manusia modern.

Siti Hajar dan Seni “Manajemen Harapan”

Aktor pertama yang mengukir sejarah kemanusiaan ini adalah Siti Hajar—seorang istri, ibu, sekaligus penjaga teologi di lembah Bakkah (Makkah). Ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkannya bersama bayi Ismail di tengah lembah yang tandus, gersang, dan tak berpenghuni, keteguhan hati mereka diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 37:

رَّبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Nabi Ibrahim AS pergi dengan keyakinan teologisnya, sementara Siti Hajar tidak meratap. Beliau menerima keputusan tersebut dengan kematangan spiritual dan kesadaran ekologis yang tinggi. Beliau meyakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan nasib dirinya dan sang bayi di lembah sunyi tersebut.

Di tengah ancaman dehidrasi dan ganasnya alam, Siti Hajar mempraktikkan apa yang hari ini kita kenal sebagai “manajemen harapan”. Beliau mengoptimalkan ikhtiar, berlari kecil (sa’iy) antara Bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali. Kerja keras yang berbasis spiritual ini berbuah manis dengan munculnya mata air Zam-zam—sebuah berkah abadi yang manfaatnya mengalir ke seluruh dunia hingga hari ini. Siti Hajar adalah potret sejati dari the super woman dan tokoh emansipasi nyata dalam sejarah peradaban.

Mendidik “Generasi Ismail” di Era Disrupsi

Aktor kedua adalah Nabi Ismail AS, potret anak gurun yang tumbuh sehat secara sosial dan spiritual dalam rengkuhan edukasi ibunya yang tulus. Ismail tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan peka tanpa pernah menyentuh gawai (smartphone) atau terseret arus tren konsumerisme yang semu.

Ujian puncak kejujuran teologis itu datang lewat mimpi Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya. Menariknya, Nabi Ibrahim tidak bersikap otoriter sebagai orang tua. Beliau membuka ruang dialog dan berbagi rasa spiritual melalui diskusi bersama anaknya yang terekam dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنัน

Artinya: ”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kepatuhan Ismail yang lahir dari keikhlasan tingkat tinggi membuat Allah Swt. mengabadikan pujian bagi mereka dan mengganti pengorbanan tersebut dengan seekor sembelihan yang besar, sebagaimana tertuang dalam Surat As-Saffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍۙ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian, ‘Salam sejahtera atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Bagi kita hari ini, pesan edukatif dari peristiwa tersebut sangat menukik: kita dituntut untuk “menyembelih” kebodohan anak, serta memotong nafsu kehewanan dan keangkaran dalam diri mereka.

Di era industri modern yang serba glamor, banyak anak yang tercerabut dari harga diri dan kebahagiaan sejati karena digadaikan oleh materi atau jaminan selembar kertas ijazah. Kita harus memilih pendidikan yang “bener-pener”, bukan sekadar “asal gemerlap”. Anak adalah aset dunia dan akhirat; mereka harus dididik untuk mengerti hak orang tua, hak sosial, dan hak teologisnya.

Kurban: Memotong Egoisme, Menebar Maslahat

Berkurban bagi manusia merupakan bukti otentik bahwa ia adalah makhluk sosial yang normal. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar mengingatkan bahwa nikmat yang banyak akan terus langgeng jika disyukuri melalui kurban—sebuah tindakan memotong sebagian hal yang kita cintai demi kepentingan sosial dan kemanusiaan.

Di era modern, manifestasi kurban berkembang menjadi sangat luas dalam kehidupan nyata maupun dunia maya. Berkurban berarti memotong egoisme pribadi untuk menghadirkan kemaslahatan publik. Bentuknya bisa berupa:

  • Khidmah Organisasi & Sosial: Aktif mengurus masjid, berjuang di lembaga pendidikan, menjadi relawan kemanusiaan, atau aktif di organisasi kaderisasi seperti ROHIS dan OSIS.

  • Filantropi Produktif: Menunaikan zakat, infak, sedekah, jariah, hingga wakaf untuk memotong jurang kemiskinan.

  • Pengabdian Profesional: Memberikan pelayanan pendidikan bermutu demi memberantas kebodohan masyarakat.

Idul Adha mengandung rekayasa sosial yang sangat penting bagi ketahanan keluarga dan lingkungan kita saat ini. Di tengah gempuran arus informasi internet yang sering kali mengaburkan peran orang tua dan guru, kita dituntut melakukan kontekstualisasi nilai-nilai kurban.

Mari kita bawa spirit perjuangan Nabi Ibrahim AS, ketangguhan edukatif Siti Hajar, dan keunggulan karakter Nabi Ismail AS ke dalam aktivitas keseharian kita. Beragama tidak boleh berhenti pada kesalehan ritual, melainkan harus mewujud menjadi kesalehan sosial yang gemar memberi kemanfaatan dan menebar kemaslahatan bagi umat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

“Artikel opini ini disarikan dari naskah Khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H / 27 Mei 2026 M yang disampaikan oleh Prof. Dr. Drs. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag di Lapangan SMA Negeri 2 Purwokerto.”