BANYUMAS, nubanyumas.com – Komitmen memperkuat ekosistem pesantren dan madrasah diniyah terus ditunjukkan Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PW RMI NU) Jawa Tengah. Melalui program Sambang Pesantren Jilid II, PW RMI NU Jawa Tengah hadir di Pondok Pesantren Legowo, Kendalisada, Kalibagor, Banyumas, Sabtu (14/6/2026), membawa agenda konsolidasi, pendampingan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya pesantren.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian kunjungan ke 29 kabupaten/kota se-Jawa Tengah itu mengusung tagline “RMI Hadir untuk Pesantren dan Madin”. Bukan sekadar kunjungan seremonial, program tersebut dirancang sebagai ruang dialog sekaligus penguatan kelembagaan pesantren melalui berbagai forum tematik yang menyentuh kebutuhan riil di lapangan.
Rombongan PW RMI NU Jawa Tengah disambut langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Legowo, KH Slamet Subkhi, bersama jajaran PCNU Banyumas, pengurus RMI, para kiai dan nyai pengasuh pesantren, pengelola madrasah diniyah, hingga penggerak media pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain KH Ahmad Fadlullah dan KH Nur Machin Chudlori dari PW RMI NU Jawa Tengah. Dari unsur PCNU Banyumas turut hadir Rois Syuriah KH Mughni Labib, Ketua PCNU H Imam Hidayat, Wakil Ketua PCNU KH Ahmad Syaikhu, serta Ketua PC RMI NU Banyumas Agus H Abdu Munif beserta jajaran pengurus.
Ketua PC RMI NU Banyumas, Agus H Abdu Munif, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Banyumas sebagai salah satu titik pelaksanaan Sambang Pesantren. Menurutnya, kehadiran PW RMI NU Jawa Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi sekaligus menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pesantren dan madrasah diniyah saat ini.
“Kami berharap Sambang Pesantren ini tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi semata, tetapi menjadi titik awal penguatan nyata bagi pesantren dan madrasah diniyah di Banyumas, baik dari aspek tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, maupun penguatan jaringan kemitraan,” ujarnya.
Yang menarik, kegiatan tersebut dikemas dalam lima halaqah paralel yang membahas isu-isu strategis pesantren. Mulai dari konsolidasi organisasi RMI, penguatan pengelolaan madrasah diniyah, halaqah khusus pengasuh pesantren, pelatihan musyrif dan musyrifah, hingga pelatihan media pesantren yang diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai pondok pesantren di Banyumas.
Dalam halaqah kepengasuhan, para kiai dan nyai mendiskusikan sejumlah isu aktual, seperti regulasi pesantren, penguatan pola asuh santri, pencegahan kekerasan seksual, hingga pengembangan ekonomi pesantren. Sementara pada pelatihan media, peserta dibekali kemampuan produksi konten dakwah dan strategi pemanfaatan media sosial sebagai sarana syiar Islam yang efektif di era digital.
Salah satu penanggung jawab kegiatan dari PW RMI NU Jawa Tengah, KH Ahmad Fadlullah, menegaskan bahwa Sambang Pesantren merupakan bentuk nyata kehadiran organisasi dalam mendampingi pesantren dan madrasah diniyah. Menurutnya, RMI ingin memastikan bahwa kebutuhan dan persoalan yang dihadapi pesantren dapat dipetakan sekaligus dicarikan solusi bersama.
“RMI tidak hanya hadir untuk bersilaturahmi, tetapi juga hadir membawa program, pendampingan, dan penguatan kapasitas pesantren. Harapannya, seluruh hasil konsolidasi dan pemetaan yang dilakukan dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata yang bermanfaat bagi pesantren dan madrasah diniyah,” katanya.
Melalui program yang akan berlanjut ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah sepanjang 2026 itu, PW RMI NU Jawa Tengah berharap terbangun ekosistem pesantren yang semakin kuat, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap kokoh menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Penulis : Gus Zidni Naf’an
Editor : Djito El Fateh















