Peran PMII Dalam Membangun Bangsa

127

Akhir-akhir ini banyak rumor yang menjadi buah bibir di masyarakat, baik di desa maupun di kota, tentang negara kita indonesia di masa depan. Indonesia diperkirakan akan menjadi target selanjutnya setelah negara-negara Islam di daerah Timur Tengah dihancurkan. Karena negara ini salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Rumor lain yang berkembang yaitu tentang Indonesia yang akan menjadi empat negara terkuat setelah Cina, Amerika Serikat, dan India yang di prediksikan akan terjadi sekitar tahun 2050. Diawali dengan Indonesia yang akan mengalami masa keemasannya pada tahun 2045, dimana pada saat itu Indonesia mencapai umur nya yang ke 100 tahun.

Namun yang menjadi pertanyan disini adalah. Dengan apa kiranya indonesia akan mencapai fase itu? jika sekarang saja rasa saling percaya antar agama sudah tidak ada, rasa peduli generasi muda entah dimana, apa dengan keegoan mereka negara ini akan dibangun? Atau dengan pertikaian, negara ini dikembangkan?

Bukan sikap pesimisme atau ketidak percayaan saya terhadap bangsa ini. Yang menjadi masalah adalah bagaimana bangsa ini akan dirubah jika generasi bangsanya saja masih bangga mengikuti bangsa lain, masih belum adanya rasa saling percaya antar sesama dan masih belum adanya rasa peduli terhadap negaranya.

Baik rasa peduli dalam bentuk cinta atau dalam bentuk rasa memiliki, mereka lebih acuh dengan produk lokal dan mengunggul-unggulkan produk asing. Bukan hanya itu, yang lebih memprihatinkan lagi bahwa banyak budaya bangsa lain ditiru oleh bangsa kita, dengan mudahnya hal itu menjadi kebiasaan bangsa ini. Jika sudah seperti ini, bagaimana mungkin bangsa kita akan bangga terhadap budayanya sendiri?

Baca Juga : Kader PMII Harus Mampu Bangun Soliditas

Maka harus ada pemahaman lebih tentang negara kita sendiri apakah undang-undangnya yang salah atau pemerintahannya yang harus dirubah. Yang jelas adalah, kurangnya rasa pemahaman bangsa kita terhadap pribadi mereka sendiri, mereka hanya bangga negara nya menjadi negara kaya sumberdaya alam namun diam ketika kekayaan nya diambil bangsa asing.

Miris namun seperti inilah yang terjadi, bahkan sebagian dari mereka dengan bangganya menipu saudara dan bangsanya yang telah membesarkan dan memberikan lingkungan kehidupan untuknya.

Maka dari itu, disinilah sebenarnya peran penting kader PMII dalam membangun masa depan bangsa. Yakni bagaimana seharusnya PMII bisa membawa arah masa depan bangsa ini dengan tetap mempertahankan nilai-nilai ideologis. Menjalankan fungsi fungsi pengawasan di setiap lini dan sektor negara dari mulai planning, controling, sampai evaluating.

Strategi yang harus dilakukan adalah perlu adanya suatu kondisi serta langkah langkah yang mendasar, konsistensi dan aplikatif. Bangsa kita tidak kekurangan pemimpin, hanya kekurangan jiwa kepemimpinan, maka di PMII sendiri perlu adanya kepemimpinan yang mencerminkan sikap tanggung jawab melayani, berani, jujur adil, bijaksana, demokratis dan ikhlas.

Kemudian PMII juga harus mendesign ulang pola kaderisasi, yang di kembangkan selaras dengan tuntutan perkembangan zaman kini dan mendatang, sehingga terwujud pola pengembangan kader yang berkualitas, mampu menjalankan fungsi dalam perilaku keseharian.

Berangkat dari sejarah berdirinya PMII pada tahun 1960 bahwa organisasi ini berdiri tidak berjalan mulus, banyak hambatan dan rintangan, namun justru kemauan keras anak–anak muda pada saat itu tak pernah luntur, bahkan semakin berkobar saja dari kampus ke kampus.

Selain itu PMII juga lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman, meskipun berdirinya PMII bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah bukan berarti ini menjadi faktor pendorong satu satunya, faktor kondisi sosial, politik, ekonomi juga berpengaruh.

PMII selaku generasi muda indonesia harus sadar akan perannya untuk ikut serta bertanggung jawab bagi berhasilnya pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat, menjunjung tinggi nilai–nilai moral dan idealisme, menuntut berkembangnya sifat kreatif, keterbukaan dalam sikap serta pembinaan rasa tanggung jawab.

Baca Juga : Pesantren: Khittah Pendidikan Indonesia

PMII sebagai organisasi kemahasiswaan berusaha menggali nilai – nilai moral yang lahir dari keberpihakan insan kaum pergerakan, ada Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang kita punya, bersumber dan berpijak dari nilai–nilai keislaman serta keindonesiaan. Selain itu NDP juga merupakan landasan ideologis, landasan berfikir dan berpendapat serta landasan setiap gerak langkah kebijakan yang harus dilakukan oleh kaum pergerakan dalam melakukan segala sesuatu serta membela kaum yang lemah.

Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai metode berfikir kaum pergerakan menjadikan organisasi ini berbeda dengan yang lainnya. Pola umum Aswaja sebagai aliran keagamaan yang membedakan dengan yang lain adalah sikap Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), Ta’adl (adil dan netral), Tasamuh (toleransi), sikap inilah yang senantiasa menghindarkan aswaja dari sikap ekstrim kiri ataupun kanan, dan ini merupakan metode berfikir yang pas untuk kita terapkan di indonesia.

Dengan adanya NDP serta nilai – nilai Aswaja ini tentunya menjadi kekuatan ideal dan kekayaan moral tersendiri bagi kaum pergerakan. Tinggal bagaimana kita menerapkan ini semua sebagai landasan dan pijakan dalam setiap langkah gerak, kehidupan sehari – hari serta kehidupan berbangsa sebagai bentuk perjuangan terhadap bangsa ini.

Jangan sampai kita sebagai kaum pergerakan terjebak dalam posisi yang salah, jangan sampai kita terlena hanya karena jabatan. Sudah saatnya kita membuka mata, membangkitkan kembali semangat pergerakan sebagai manifestasi jiwa nasionalisme, semangat perjuangan bangsa dalam berbagai aspek yang hampir padam. Masa depan bangsa ini ada ditangan kita.

Untukmu satu tanah airku….
Untukmu satu keyakinanku….
Salam Pergerakan !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here