Pesantren: Khittah Pendidikan Indonesia

68

Krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan pada dasarnya bersumber dari rendahnya kualitas, kemampuan, dan semangat kerja. Kekuatan reformasi yang hakiki sebenarnya bersumber dari sumber daya manusia yang berkualitas, serta memiliki visi, transparansi dan pandangan jauh kedepan, yang tidak hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, akan tetapi senantiasa mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dalam berbagai kehidupan kemasyarakatan. (Abdul Choliq MT, 2012:1)

Membandingkan kualitas SDM negara-negara tetangga terdekat seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, kita tertinggal jauh. Malaysia yang dulu banyak belajar dari Indonesia dengan mengirimkan mahasiswa, dosen untuk belajar di Indonesia pada era 1970 -1980, kini jauh lebih maju.

Bahkan kini Malaysia menjadi referensi salah satu tujuan para mahasiswa dan dosen Indonesia untuk belajar atau menuntut ilmu di Negara Jiran, karena kualitas pendidikan Malaysia jauh lebih baik dengan negara Indonesia yang dulu menjadi gurunya.

Baca Juga : Nyantri di Madrasah Al ittihad

Kualitas sumber daya manusia Indonesia apabila dibandiingkan dengan negara-negara lain dari 43 negara dari berbagai bidang kehidupan berada pada urutan sepuluh terakhir (E Mulyasa, 2003:3)

Problem utamanya karena kita kehilangan identitas dan tercerabut akarnya dalam pembangunan sumber daya manusia, dan memilih menggunakan model pembangunan sumber daya manusia negara-negara lain yang sesungguhnya tidak sesuai dengan bangsa Indonesia.

Oleh karena kita melupakan konsep pendidikan karya bangsa sendiri yang bernama “Pesantren”, sebuah lembaga pendidikan yang telah teruji ratusan tahun dan telah terbukti mampu melahirkan SDM berkualitas sepanjang perjalanan sejarahnya di Indonesia,

Lebih fatal lagi memandang Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang ketinggalan jaman, ortodok, tradisional tanpa melihat, mendalami dan memahami dengan benar dari bergai sudut pandang dengan pisau analisis yang cerdas.

Mas’ud dalam Ismail, et al (2002:33) mengatakan bahwa: “Dengan menunjuk pada dinamika keilmuan pesantren dalam sejarah agaknya istilah “konservatif” yang dialamatkan pada komunitas atau tradisi pesantren selama ini perlu ditinjau kembali. Konservatif pada umunya identik dengan statis, jumud (kolot) serta implikasi-implikasi fatalis menyerah saja kepada nasib lainnya. Dengan demikian tradisionalitas pesantren selayaknya ditujukakan pada suatu tradisi luhur dalam berbagai hal termasuk tradisi intelektual pesantren yang tidak pernah berhenti sampai sekarang”

Baca Juga : Banyak Ulama NU Wafat, Abah Kholid: Santri Harus Gila

Kembalilah pada jati diri bangsa dengan konsep dan model pendidikan yang telah dirancang pendahulu kita yang sesuai dengan karakter dan kepribadian bangsa.

Tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa: “sistem manajemen pendidikan pesantren adalah sistem pendidikan yang sangat ideal dan merupakan sumber dasar pendidikan nasional, karena sesuai dan selaras dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia”.(Hanun,1999:185)

Cendekiawan Modernis Prof. Dawam Rahardjo sangat mengapresiasi lulusan pesantren dan menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia barat dan bekerja di berbagai sektor (Ismail,et al.2002:33)

Karangnangka, 22 Oktober 2020

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here