Beranda Opini

Idul Adha dan Tantangan Membumikan Koin NU Sebagai Gerakan Filantropi Berkelanjutan

Hamam Hartono, Ketua MWC NU Kebasen 2026-2031
Hamam Hartono, Ketua MWC NU Kebasen 2026-2031

Idul Adha dan Tantangan Membumikan Koin NU Sebagai Gerakan Filantropi Berkelanjutan

Oleh: Hamam Hartono, SHI
(Ketua Tanfidziyah MWC NU Kebasen)

Idul Adha merupakan momentum yang sangat istimewa bagi kaum muslimin. Sebuah ruang sakral di mana gema takbir bersahut-sahutan mengiringi ritual penyembelihan di berbagai sudut negeri, tak terkecuali di surau-surau dan masjid di seluruh penjuru Banyumas. Namun sayangnya, tidak jarang kita justru terjebak pada euforia kemegahan fisik dan formalitas angka. Kita kerap menghitung berapa ratus sapi atau kambing yang disembelih, hingga melupakan bahwa kata kurban sejatinya lahir dari akar kata qaruba yang berarti dekat.

Ini adalah pengingat yang indah bahwa nilai kurban tidak diukur dari timbangan dagingnya, melainkan dari kedekatan hati yang lahir setelah kita meruntuhkan ego di hadapan Allah SWT. Esensi utama dari ibadah ini sama sekali bukan tentang darah atau daging yang menetes ke bumi, melainkan tentang seberapa dekat jarak spiritual yang berhasil dipangkas oleh seorang hamba menuju Tuhannya melalui pengorbanan tersebut. Tanpa adanya kedekatan spiritual dan ketakwaan, ritual kurban hanya akan menjadi festival pangan tahunan tanpa makna.

Dekonstruksi Motif Transaksional Masa Lalu

Kurban bukanlah tradisi yang baru lahir pada masa Islam. Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, peradaban Arab Kuno—termasuk era Jahiliyah—telah mempraktikkan ritual kurban. Masyarakat Arab Jahiliyah mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala mereka seperti Hubal, Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat. Motifnya bersifat transaksional dan dipenuhi ketakutan (demonik). Mereka mengorbankan hewan untuk “menyuap” dewa agar terhindar dari bencana dan malapetaka.

Dalam ritual pagan Arab saat itu, darah adalah intinya. Mereka sengaja memuncratkan dan mengoleskan darah hewan sembelihan ke dinding Ka’bah dan batu-batu berhala (nushub). Dagingnya pun sering kali diletakkan begitu saja di sekitar berhala sebagai sesajen hingga membusuk.

Namun, Islam hadir untuk mendekonstruksi total motif transaksional warisan masa lalu tersebut. Kurban dalam Islam bukanlah ritual pemuasan ego transaksional manusia karena Tuhan tidak membutuhkan apa pun, melainkan sebuah manifestasi ketundukan spiritual yang murni. Target utama dari ibadah ini sebenarnya mengarah ke dalam diri kita sendiri, yaitu sebagai ruang radikal untuk menyembelih ego pribadi, menaikkan level ketakwaan jiwa, sekaligus melejitkan nilai kesalehan sosial.

Tiga Dimensi Kesalehan Sosial Idul Adha

Melalui transformasi batin tersebut, kesalehan sosial dalam Idul Adha akhirnya mampu mewujud nyata. Ia mengubah ritual ibadah yang semula bersifat individual menjadi aksi filantropi konkret yang meruntuhkan sekat kelas di tengah masyarakat. Allah SWT secara tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridaan)-Nya adalah ketakwaan kamu…” (QS. Al-Hajj: 37).

Ketika sekat antara si kaya dan si miskin melebur dalam antrean distribusi pangan yang adil, di situlah esensi qaruba (mendekat) bekerja dua arah sekaligus: mendekatkan hamba pada Sang Pencipta secara vertikal (hablum minallah), dan mendekatkan manusia pada kemanusiaan sesamanya secara horizontal (hablum minannas). Pada titik inilah, pisau kurban bertransformasi menjadi instrumen redistribusi kesejahteraan melalui tiga dimensi:

  1. Demokratisasi Pangan dan Pemenuhan Hak Gizi

    Daging hewan ternak sering kali menjadi komoditas mewah yang sulit dijangkau oleh kelompok masyarakat miskin secara reguler. Idul Adha bekerja sebagai instrumen ekonomi Islam yang memaksa terjadinya distribusi protein hewani secara massal. Pada hari tersebut, kaum marjinal memiliki hak yang sama untuk menikmati pangan berkualitas tanpa harus merasa diberi “sedekah sisa”, melainkan menerima hak konsumsi yang dijamin oleh syariat.

  2. Meruntuhkan Tembok Egoisme Kelas Sosial

    Dalam kehidupan modern, sekat antar-kelas sosial sering kali terbangun sangat tebal dan kaku. Hadirnya prosesi kurban secara radikal menuntut orang-orang berkecukupan untuk mendobrak dinding pemisah tersebut dengan cara turun langsung ke lapangan, berbaur bersama masyarakat tanpa sekat formalitas. Momen kebersamaan ini menjadi ruang refleksi untuk mengikis sifat ananiyyah (keakuan/egoisme) melalui kesadaran baru bahwa harta yang mereka miliki harus memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

  3. Menumbuhkan Empati Kolektif dan Solidaritas Organik

    Menyembelih hewan kurban mendidik rasa empati manusia terhadap penderitaan sesama. Kesadaran bahwa “ada sebagian harta kita yang merupakan hak orang lain” melatih kepekaan sosial agar kita tidak abai terhadap kemiskinan di sekitar kita.

Tantangan Pasca-Zulhijah: Menjaga Api Kesalehan Tetap Menyala

Sebuah pertanyaan besar kemudian mutlak harus kita ajukan: Setelah festival pangan musiman ini usai dan stok daging di lemari es habis, akankah kepedulian itu turut menguap begitu saja?

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Mempertahankan konsistensi kesalehan sosial selepas bulan Zulhijah harus dilakukan dengan mengubah aksi insidental (dadakan) menjadi sebuah sistem atau kebiasaan sosial yang konsisten dan rutin. Idul Adha dirancang bukan sebagai akhir dari kepedulian, melainkan sebagai laboratorium latihan spiritual untuk membentuk karakter peduli selama sebelas bulan berikutnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ada beberapa langkah praktis dan strategis yang bisa kita bumikan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Melembagakan Sedekah Melalui Gerakan Koin NU

Jika pada momentum Idul Adha kita mampu mengeluarkan dana besar sekaligus untuk membeli hewan kurban, maka pola kerelaan tersebut bisa dipecah menjadi skala kecil yang konsisten di bulan-bulan berikutnya lewat Gerakan Koin NU (Kotak Infak Nahdlatul Ulama).

Secara filosofis, langkah memasukkan koin atau rupiah ke dalam kaleng Koin NU secara rutin tidak hanya memaksa ego kita untuk tetap berbagi sebelum uang habis digunakan untuk konsumsi pribadi. Lebih dari itu, langkah ini memperkuat fondasi gerakan kemandirian umat secara terstruktur, kontinu, dan massal sebagaimana khitah perjuangan NU Care-LAZISNU.

2. Inkubasi Sedekah Berkelanjutan (Sedekah Produktif)

Jembatan kesalehan sosial jangka panjang dapat kokoh dibangun dengan mendukung program pemberdayaan ekonomi produktif. Di sinilah peran penting warga Nahdliyin untuk menyalurkan sebagian dana sosialnya melalui lembaga filantropi tepercaya seperti LAZISNU.

Melalui program inkubasi sedekah produktif, LAZISNU tidak sekadar menyalurkan bantuan konsumtif sesaat, melainkan mengubah dana umat menjadi modal pemberdayaan ekonomi, seperti program peternak desa, bantuan UMKM, dan penguatan ekonomi akar rumput. Dana kurban yang awalnya bersifat konsumtif musiman, bertransformasi menjadi modal kemandirian yang berkelanjutan.

3. Menjaga Pola Distribusi Pangan Berkelanjutan

Esensi terdalam dari Idul Adha adalah pemenuhan hak pangan dan perbaikan gizi bagi masyarakat marjinal. Semangat kemanusiaan ini tidak boleh ikut membeku dan berhenti begitu saja saat stok daging kurban di dalam kulkas kita telah habis.

Aksi nyata ini dapat dirawat dengan cara terlibat aktif atau menginisiasi gerakan sosial berbasis komunitas lokal di tingkatan MWC maupun Ranting NU, seperti program “Sedekah Jumat Berkah”, penyediaan warung makan gratis bagi kaum dhuafa, hingga pembentukan lumbung pangan jemaah. Melalui gerakan akar rumput ini, kita sedang membangun sebuah jaring pengaman sosial yang memastikan masyarakat prasejahtera di sekitar kita tetap mendapatkan akses pangan yang layak sepanjang tahun.

4. Melatih “Penyembelihan Ego” dalam Interaksi Harian

Puncak dari kontinuitas kesalehan sosial ini adalah komitmen untuk terus melatih “penyembelihan ego” dalam interaksi harian kita. Hewan kurban yang disembelih setiap bulan Zulhijah sejatinya adalah simbolisasi dari sifat-sifat buruk yang kerap bersarang di dalam psikis manusia.

Mempertahankan kesalehan sosial berarti terus mengasah kepekaan spiritual agar tidak membiarkan sifat “kebinatangan” itu tumbuh subur kembali pasca-hari raya. Aksi nyata ini diwujudkan lewat praktik pengendalian diri yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari; menahan diri dari perilaku serakah, menolak mengeksploitasi sesama demi keuntungan pribadi, serta mengikis keangkuhan atas status sosial maupun jabatan yang disandang.

Ketika kita mampu menaklukkan ego di ruang-ruang publik modern, di situlah esensi pengorbanan sejati mewujud sebagai karakter luhur yang abadi. Melalui napas keberlanjutan Koin NU, mari kita bumikan semangat Idul Adha agar kesalehan sosial tak berhenti di nampan daging kurban, melainkan mengalir sepanjang tahun demi kemaslahatan umat.

 

Disclaimer : nubanyumas.com menerima tulisan untuk kolom OPINI dengan tema yang disesuaikan dengan politik redaksi kami. Setiap tulisan yang terbit, menjadi tanggungjawab penuh penulis. Adapun keputusan layak atau tidak dari setiap karya yang  dikirim merupakan hak prerogatif redaksi.