Beranda Opini

Islam dan Spirit Perlawanan di Era Krisis Tata Kelola Negara

Islam dan Spirit Perlawanan di Era Krisis Tata Kelola Negara
Gamabar dibuat dengan akal imitasi

Islam dan Spirit Perlawanan di Era Krisis Tata Kelola Negara

Oleh: Mahbub Atho’illah

Sejak awal kehadirannya, Islam tidak hanya mengajarkan tentang akidah, tauhid, syariat, dan akhlak semata. Islam juga membawa nilai-nilai universal yang menjadi fondasi kehidupan manusia, seperti keadilan sosial, persamaan derajat tanpa membedakan ras, suku, maupun status sosial. Lebih dari itu, Islam membawa cita-cita mewujudkan kedamaian bagi seluruh umat manusia dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut diajarkan dan dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang bermartabat.

Dalam ajarannya, Islam juga menanamkan semangat perlawanan terhadap kezaliman. Ini merupakan bagian dari implementasi prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Selain hadis tersebut, Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk melakukan kebaikan (amar ma’ruf), tetapi juga mendorong mereka untuk mencegah dan menolak kemungkaran (nahi munkar). Harus diakui, upaya mencegah dan menolak kemungkaran ini jauh lebih sulit diamalkan ketimbang sekadar menyuruh pada kebaikan. Oleh karena itu, sikap diam terhadap kezaliman, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan bukanlah karakter yang diajarkan Islam.

Namun, jika kita menganalisis realitas umat Muslim saat ini, tidak banyak dari mereka yang berani menyuarakan kebenaran dan melawan kemungkaran. Mayoritas cenderung hanya mengajak pada hal-hal baik, tanpa berani melarang atau mengkritik hal-hal yang buruk di ruang publik.

Islam bukan agama yang pasif, yang hanya diam lalu menyerahkan segala persoalan kepada takdir Allah tanpa merespons ketidakadilan. Pemahaman fatalistik seperti itu merupakan kekeliruan yang nyata. Justru Islam mengajarkan umatnya untuk hadir sebagai agen perubahan yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Perlawanan yang diajarkan Islam bukanlah perlawanan yang dilandasi kebencian atau kekacauan, melainkan perlawanan yang berlandaskan moral, ilmu, dan tanggung jawab sosial.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat perlawanan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang bermartabat. Di antaranya melalui kritik yang konstruktif, edukasi kepada masyarakat, penulisan gagasan, advokasi, petisi, pengawasan terhadap kebijakan publik, serta keberanian menyuarakan kebenaran. Semua itu dilakukan bukan untuk menciptakan permusuhan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menegakkan keadilan.

Di tengah krisis tata kelola negara, mulai dari maraknya korupsi, penyalahgunaan wewenang, sengkarut kebijakan anggaran program publik, hingga fluktuasi harga BBM yang memberatkan rakyat, spirit perlawanan dalam Islam menjadi semakin relevan. Seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi penonton yang mengeluh atas keadaan. Kita harus berusaha menjadi bagian dari solusi. Sebab, membiarkan kezaliman tumbuh tanpa koreksi sama saja dengan memberi ruang bagi kerusakan untuk terus berkembang.

Dengan demikian, Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi juga agama pembebasan yang mengajarkan keberpihakan kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Semangat perlawanan terhadap kezaliman merupakan bagian dari manifestasi keimanan, selama dilakukan dengan cara yang bijak, beretika, dan bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.