Beranda Warta

Khilma Anis: Perempuan Harus Menjadi Sumber Kehidupan yang Berilmu dan Bernilai

Khilma Anis: Perempuan Harus Menjadi Sumber Kehidupan yang Berilmu dan Bernilai
Khilma Anis: Perempuan Harus Menjadi Sumber Kehidupan yang Berilmu dan Bernilai

PURWOKERTO, nubanyumas.com – Penulis sekaligus tokoh inspiratif, Khilma Anis, menekankan pentingnya perempuan untuk memiliki kedalaman ilmu dan nilai hidup yang kuat.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Fatayat Fest 2026 yang digelar di Menara Teratai Purwokerto, Jumat (24/4/2026). Acara ini merupakan rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-76 Fatayat NU Banyumas.

​Di hadapan ribuan kader, Khilma menganalogikan peran perempuan seperti sumur di tengah padang pasir. Perempuan harus menjadi sumber kehidupan yang memberi manfaat bagi sekitarnya.

​”Perempuan itu ibarat sumur di tengah padang pasir. Harus menjadi sumber kehidupan, memberi manfaat bagi sekitarnya, dan memiliki kedalaman ilmu,” ujar Khilma Anis di hadapan peserta.

​Khilma memaparkan bahwa perempuan memiliki kedalaman makna yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ia berpesan agar perempuan mampu menanam kebaikan dengan sungguh-sungguh dan menjunjung tinggi nilai moral.

Selain itu, ia mengingatkan agar perempuan bijak menempatkan diri, terutama dengan menghindari kebiasaan over sharing di media sosial demi menjaga kehormatan.

​”Jangan terlena jika kita dipuji, dan jangan larut dalam luka jika disakiti. Jadikan semua itu sebagai jalan untuk kembali kepada Allah melalui doa,” tegasnya.

Mengadopsi ajaran Ki Hajar Dewantara, ia menjelaskan konsep Neng (tenang) dan Nung (hening/fokus). Menurutnya, perempuan harus memiliki sikap tenang dan tidak “berisik” dalam menghadapi ujian.

“Neng atau tenang adalah sikap menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah. Segala urusan kita kembalikan kepada-Nya,” tambah penulis novel Hati Suhita tersebut.

​Perempuan adalah penyangga utama keluarga yang harus kuat dan teguh prinsip. Khilma menyebutkan dua kekuatan utama perempuan masa kini adalah penguasaan ilmu agama dan kemandirian ekonomi.

​”Kemandirian ekonomi dan ilmu agama itu penting agar perempuan tidak berhenti menjadi pribadi yang baik dan tidak bergantung pada orang lain,” jelasnya.

​Sebagai penutup, ia mengajak kader Fatayat untuk menjaga lisan dengan tutur kata yang positif dan produktif karena hati yang baik adalah hati yang selalu dekat kepada Allah.

(Mei Fitri/ H Ahyar)