BANYUMAS, nubanyumas.com – Keterbatasan rumput dan hijauan saat musim kemarau mendorong peternak di Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, mencari alternatif sumber pakan yang lebih mudah tersedia. Salah satunya dengan memanfaatkan jerami padi yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah pertanian menjadi pakan fermentasi untuk ternak.
Upaya tersebut dilakukan Kelompok Tani Ternak Mindajaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto melalui pendampingan pengolahan jerami menjadi pakan ternak, Minggu (9/8/2026). Para peternak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi langsung mempraktikkan proses pengolahan jerami mulai dari pencacahan hingga fermentasi sehingga dapat disimpan sebagai cadangan pakan menghadapi musim kemarau.
Pendampingan dipandu Arif Harnowo Sidhi, S.Pt., M.P., yang mengenalkan penggunaan mesin chopper untuk mencacah jerami sebelum memasuki proses fermentasi. Menurutnya, pemanfaatan jerami dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap rumput yang ketersediaannya cenderung menurun ketika kemarau. “Harapannya, peternak tidak selalu bergantung pada ketersediaan rumput. Jerami yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan dan disiapkan sebagai cadangan pakan,” ujarnya.
Bagi peternak Mindajaya, pengolahan jerami menjadi pakan fermentasi menawarkan dua manfaat sekaligus. Selain membantu mengatasi persoalan ketersediaan pakan, langkah tersebut juga membuka pemanfaatan bahan baku yang berada di sekitar lahan pertanian. Keterampilan mengolah dan menyimpan pakan ini diharapkan membuat kelompok lebih siap menghadapi periode ketika hijauan sulit diperoleh.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Kemendiktisaintek 2026 melalui program Penguatan Kelompok Ternak melalui Posyandu Ternak. Selain persoalan pakan, pendampingan juga menyasar kesehatan ternak. Muhammad Rayhan, S.Pt., M.P., memberikan edukasi mengenai sejumlah penyakit, di antaranya Pink Eye, Orf, dan Scabies, sekaligus praktik penimbangan dan pemotongan kuku ternak.
Pendampingan tidak berhenti pada aspek teknis peternakan. Ariesta Amanda, S.Pd., M.A., mendampingi kelompok dalam penguatan kelembagaan dan tata kelola. Tim UNU Purwokerto juga memperkenalkan aplikasi Kartaning untuk membantu kelompok mencatat kondisi kesehatan ternak, ketersediaan pakan, bahan baku, hingga obat-obatan secara lebih tertata.
Ketua Kelompok Tani Ternak Mindajaya, Achri Priyono, bersama Wakil Ketua Gisus dan anggota kelompok mengikuti rangkaian pendampingan tersebut. Model Posyandu Ternak yang dikembangkan UNU Purwokerto diarahkan bukan sekadar menjadi tempat penyuluhan, tetapi ruang belajar bersama agar peternak mampu mengidentifikasi persoalan, mengelola sumber daya yang tersedia, dan mengambil langkah secara lebih mandiri.
Melalui pendampingan ini, UNU Purwokerto mendorong peternak Mindajaya tidak hanya bertahan menghadapi persoalan pakan saat kemarau, tetapi mulai membangun sistem penyediaan pakan yang lebih berkelanjutan. Jerami yang sebelumnya dianggap limbah kini dapat diolah menjadi cadangan pakan, sekaligus menjadi contoh bahwa solusi persoalan peternakan bisa dimulai dari pemanfaatan potensi yang tersedia di desa.












