Beranda Keislaman

Khutbah Jumat: Maulid Nabi, dari Cinta Menuju Keteladanan

Khutbah Jumat: Maulid Nabi, dari Cinta Menuju Keteladanan
Khutbah Jumat NU Banyumas

Khutbah Jumat: Maulid Nabi, dari Cinta Menuju Keteladanan

Oleh: Gus M. Sa’dullah (Pengasuh PP Ath-Thohiriyyah 2, Karangklesem, Purwokerto Selatan).

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، وَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَهُدَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهَادِيًا إِلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana ibadah tersebut membentuk hati, ucapan, dan perilaku kita menjadi lebih baik.

Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awwal, bulan yang mengingatkan kita kepada sosok manusia agung, Nabi Muhammad Saw. Beliau bukan sekadar nabi dan rasul yang kita kenal melalui sejarah, tetapi teladan bagi seluruh kehidupan: teladan sebagai ayah yang menyayangi keluarga, pemimpin yang adil, pedagang yang jujur, dan manusia yang penuh kasih sayang, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah. Kita sedang membuka kembali lembaran kehidupan Rasulullah Saw: perjuangan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, pengorbanan, dan akhlak mulia beliau.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah Saw, dan sejauh mana cinta itu telah terlihat dalam kehidupan kita?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Semakin seseorang mengenal, semestinya semakin besar pula rasa cintanya. Begitu pula kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. Ketika kita membaca sejarah hidup beliau, memahami perjuangannya, dan mengenal kasih sayangnya kepada umat, hati kita akan semakin dekat kepada beliau. Allah Swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Artinya: “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS Ali Imran: 31)

Ayat ini mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar ucapan. Cinta harus memiliki bukti. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus tampak dalam pilihan hidup, dalam cara berbicara, memperlakukan keluarga, tetangga, dan sesama.

Salah satu tanda cinta kepada Rasulullah Saw adalah memperbanyak shalawat. Allah Swt berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.” (QS Al-Ahzab: 56)

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Muslim)

Betapa besar keutamaan shalawat. Namun, jangan sampai shalawat hanya terdengar ketika kita berada di majelis Maulid. Hendaknya shalawat hidup di rumah, di perjalanan, setelah salat, dan dalam keseharian kita.

Lebih dari itu, lisan yang banyak bershalawat hendaknya menjadi lisan yang terjaga. Jangan sampai kita rajin memuji Nabi, tetapi masih mudah berdusta, menggunjing, memfitnah, mencaci, atau menyakiti hati sesama.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Swt menegaskan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS Al-Ahzab: 21)

Inilah inti dari peringatan Maulid Nabi. Maulid jangan berhenti sebagai acara seremonial. Jangan hanya ramai ketika shalawat dilantunkan, tetapi setelah majelis selesai tidak ada perubahan dalam diri kita.

Ketika mengenang kejujuran Rasulullah, jadilah orang yang lebih jujur. Ketika mengenang amanah beliau, jadilah orang yang dapat dipercaya. Ketika mengenang kesabaran beliau, jangan mudah menyerah menghadapi persoalan. Ketika mengenang kasih sayang beliau, lembutkanlah hati kepada keluarga dan sesama. Maulid yang sesungguhnya adalah ketika akhlak Nabi mulai hadir dalam kehidupan kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah Saw adalah rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)

Melalui Rasulullah Saw, Allah menunjukkan jalan keselamatan. Beliau mengajarkan tauhid, ibadah, akhlak, kasih sayang, keadilan, persaudaraan, dan berbagai nilai kehidupan yang membawa manusia kepada kebaikan dunia dan akhirat. Maka, mengenang Rasulullah Saw adalah kesempatan untuk mensyukuri nikmat Allah yang sangat besar. Dan syukur yang paling indah bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan dan keteladanan.

Maulid juga menjadi momentum mempererat persaudaraan. Dalam majelis Maulid, kita berkumpul, bershalawat, berdoa, bersilaturahmi, dan saling menguatkan. Di tengah kehidupan yang mudah diwarnai perbedaan dan perselisihan, kecintaan kepada Rasulullah semestinya menjadi jembatan yang menyatukan kita. Jangan biarkan perbedaan membuat kita saling menjauh. Mari jadikan kecintaan kepada Nabi sebagai jalan memperkuat silaturahmi, ukhuwah, dan persatuan umat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Generasi muda kita juga membutuhkan teladan. Jangan biarkan anak-anak kita hanya mengenal tokoh-tokoh yang mereka lihat di layar media, sementara mereka kurang mengenal Rasulullah Saw. Mari hadirkan kisah Rasulullah di rumah-rumah kita. Ceritakan bagaimana beliau menyayangi keluarga, menghormati sesama, menyayangi anak-anak, memperlakukan tetangga, menghadapi perbedaan, memimpin umat, dan bersabar menghadapi ujian. Dengan mengenalkan Rasulullah kepada anak-anak, sesungguhnya kita sedang menanamkan teladan yang akan membentuk karakter mereka.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Semoga Maulid Nabi tahun ini tidak hanya meninggalkan kenangan di dalam majelis, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam kehidupan kita; shalawat senantiasa menghiasi lisan, kecintaan kepada Rasulullah Saw semakin kuat di hati, dan akhlak mulia beliau semakin nyata dalam ucapan serta perbuatan kita dalam keseharian. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA:  Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.