ADA banyak orang yang begitu serius mempersiapkan pernikahan, tetapi tidak selalu sama seriusnya mempersiapkan kehidupan setelah akad. Gedung dipilih, undangan dicetak, pakaian disiapkan, katering dipesan, dokumentasi dirancang. Namun, di balik semua persiapan itu, ada satu bekal yang kerap luput: ilmu tentang bagaimana menjadi suami, istri, dan pasangan hidup.
Di titik itulah buku Nikah Itu Gurih: Terjemah Kitab Qurratul Uyun karya M. Sa’dullah menemukan relevansinya. Diterbitkan Samawi Press pada Juli 2026 dengan ketebalan 208 halaman, buku ini merupakan terjemahan dari Qurratul Uyun, salah satu kitab yang cukup dikenal dalam tradisi pesantren dan membahas kehidupan pernikahan dalam perspektif Islam.
Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada pertanyaan klasik tentang siapa yang akan dinikahi, tetapi mengajak pembaca bergerak pada pertanyaan yang lebih penting: untuk apa menikah dan bagaimana menjalani kehidupan setelah pernikahan? Pernikahan dalam buku ini ditempatkan bukan sebagai garis akhir perjalanan cinta, melainkan sebagai awal dari perjalanan panjang dua manusia untuk belajar hidup bersama, menjalankan tanggung jawab, dan mendekat kepada Allah.
Makna “gurih” dalam judul buku menjadi pintu masuk yang menarik. Gurih tidak berarti rumah tangga selalu manis, mudah, dan bebas persoalan. Justru “kegurihan” itu dapat muncul dari hal-hal yang sederhana: perhatian, candaan, kesetiaan, doa, berbagi rezeki, saling menguatkan, hingga kemampuan bertahan ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dengan demikian, cinta dalam rumah tangga tidak hanya dibicarakan sebagai perasaan, tetapi sebagai sesuatu yang harus dirawat melalui sikap dan tindakan.
Salah satu fondasi yang ditekankan adalah niat. Pernikahan tidak semestinya hanya didorong oleh kecantikan, kekayaan, status sosial, atau ketertarikan fisik. Ada orientasi yang lebih jauh: menjaga agama, mengikuti sunnah Nabi, membangun keluarga yang baik, dan memperoleh keturunan yang saleh. Dari sini, pernikahan dipahami bukan sekadar hubungan personal dua orang, tetapi juga amanah keagamaan dan sosial.
Pembahasan kemudian bergerak pada wilayah yang lebih konkret: tanggung jawab suami dan istri, nafkah, keturunan, serta hubungan lahir dan batin. Nafkah halal, misalnya, tidak sekadar dipahami sebagai kewajiban ekonomi, tetapi juga bagian dari ibadah. Sementara hubungan suami istri ditempatkan dalam bingkai adab, kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab. Di sinilah buku ini menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak cukup dibangun dengan modal cinta; ia membutuhkan ilmu dan kesediaan untuk terus belajar.
Dari sisi penyajian, salah satu kelebihan buku ini adalah usaha menerjemahkan khazanah kitab klasik ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan pembaca masa kini. Tema-tema yang serius menjadi relatif mudah diikuti karena gagasannya dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini pun tidak hanya relevan bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan, tetapi juga pasangan muda yang ingin kembali melihat rumah tangganya dari perspektif keislaman.
Meski demikian, pembaca tetap perlu menempatkan buku ini secara proporsional. Sebagai terjemahan karya klasik, Qurratul Uyun lahir dari konteks sosial dan budaya tertentu. Karena itu, tidak semua pandangan di dalamnya perlu dibaca secara lepas dari konteks zaman. Pembaca masa kini membutuhkan kecermatan untuk membedakan antara pesan prinsipil kitab dengan rincian pandangan yang sangat terkait dengan konteks sosial pada masa ketika karya tersebut lahir. Sikap kritis semacam ini justru membantu pembaca menangkap substansi yang lebih penting: agama, ilmu, adab, tanggung jawab, dan kasih sayang sebagai fondasi rumah tangga.
Pada akhirnya, Nikah Itu Gurih bukan sekadar terjemahan kitab klasik tentang pernikahan. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai pengingat bahwa akad hanyalah pintu masuk menuju kehidupan yang jauh lebih panjang. Setelah kata “sah” diucapkan, dua orang tidak otomatis menjadi pasangan yang matang; mereka masih harus belajar berbagi, memahami perbedaan, mengelola masalah, mencari nafkah, menjaga komitmen, dan saling menguatkan. Sebab rumah tangga yang gurih bukanlah rumah tangga tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang mampu mengubah masalah menjadi ruang belajar, perbedaan menjadi kedewasaan, dan cinta menjadi jalan bersama menuju ridha Allah.
Identitas Buku
Judul: Nikah Itu Gurih: Terjemah Kitab Qurratul Uyun
Penulis/Penerjemah: M. Sa’dullah
Penerbit: Samawi Press
Terbit: Juli 2026
Tebal: 208 halaman
Peresensi:
Azha Nabila — Santri PP An Nur, Ngrukem, Bantul & Mahasiswi IIQ An Nur, Yogyakarta












