Oleh : Rujito, M.Sos*
Alhamdulillah. Tahun 2026 ini, Ponpes At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia memasuki usia 13 tahun. Tentu satu tahap perjalanan luarbiasa, terutama menuju 10 tahun kedua (dasawarsa kedua). Diawali santri yang hanya puluhan, kini mejelma pesantren dengan santri terbanyak di Banyumas Raya. Tembus 3.300 santri lebih.
Apa yang menarik dari pesantren yang ada di Dusun Leler, Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah ini? Santrinya ‘alim, lulusannya banyak yang lanjut ke Al Azhar Kairo, Mesir hingga Yaman atau Maroko. Kalau itu pasti. Nah, saya akan coba membawa pembaca pada ‘sisi lain’ Andalusia yang begitu luas memberi ruang ekspresi ilmu pada santri, tanpa kecuali.
Tulisan ini terinspirasi dari Ny. Hj. Rodliyyah Ghorro’ Maimoen Zubair (Ibu Diyah). Nggih. Beliau yang sama-sama kita hormati dan sudah maklum, sebagai istri tercinta KH Zuhrul Anam Hisyam (kemudian ditulis dengan Gus Anam) sekaligus ummul ma’had At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia. Pada sisi yang lain, Ibu Diyah juga putri ulama kharismatik juga guru mulia, almaghfurlah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), Sarang, Rembang.
Jadi begini. Tahun 2019, Ibu Diyah ngendikan:
Cita-citane Abah (KH Zuhrul Anam Hisyam) kalih kulo ndamel pondok niku kepengin ndelok wong sukses. Kepengin dunia Islam dikuasai oleh santri. Dadi ora kudu dadi kiai kabeh, pegawai kabeh, tapi ada dimana-mana. Dadi ora kabeh dadi kiai kabeh. Dadi kiai kabeh yo alhamdulillah, tapi ora kudu. Sing penting sukses. Sukses niku ora kudu sugih. Sukskes niku mampu menjalani cobaan dunia, sehingga di akhirate kepenak.
***
Ada poin penting yang saya catat dari quote tersebut. Pertama, santri sukses dan menguasai dunia Islam. Kedua, santri tidak harus jadi kiai semua. Banyak ruang kehidupan yang harus diisi. Sejatinya, dua utama itu saling terkaitpaut. Ibu Diyah memberi batas yang ‘tidak terbatas’ atas masa depan santri. Pada titik inilah, sejatinya Ibu Diyah -tentu bersama Gus Anam- sudah menetapkan titik penting untuk semua santri yang sedang berproses di pondok; milestone.
Ngendikan Ibu Diyah, bagiku sejatinya semacam verifikasi dan validasi atas visi mulia KH Zuhrul Anam Hisyam sebagai muassis (pendiri) sekaligus pengasuh. Setidaknya, itu yang saya rasakan saat kali pertama bersinggungan dengan Gus Anam tahun 2010-2011. Singgungan yang diiawali dawuh, “Punten didamelaken tulisan kagem brosus SMP Islam Andalusia. Njenengan kan wartawan, tulisane sae,” begitu kira-kira instruksinya. Seterusnya, singgungan dengan Gus Anam tidak pernah jauh dari apa yang saya kuasai. Mungkin dalam istilah populer linier alias muqtadlol hal.
Dengan latar belakang jurnalis profesional, praktis ilmu utama yang bisa saya sedekahkan adalah menulis. Berkembang selanjutnya, manajemen media internal alias official media. Sedikit demi sedikit, mulai dari meluncurkan attaujieh.id (awalnya attaujieh.com), Youtube/Fanspage/Instagram; Gus Anam Channel (berkolaborasi dan support dari Mas Mufid Majnun). Ada juga produksi majalah Attaujieh dan menulis berita untuk media mainstream kabar dari Andalusia.
Alhasil, kini Media Andalusia sudah sedemikian berkembang; Andalusia Hibbana. Mulai platform youtube, instagram, facebook, tiktok. Semakin keren, semakin produktif dan informatif. Sukses santri dalam mengawal media internal, sangat membanggakan. Terlebih, mayoritas santri belajar secara otodidak. Ya, karena ilmu hari ini open source. Bisa dipelajari kapan saja darimana saja. Sangat cepat adaptasinya.
Maka, atas dawuh yang juga milestone Abah-Ibu tersebut, saya begitu bangga ketemu santri-santri yang kreatif, menempuh jalur sukses dengan jalur yang tidak lazim (khoriqul ‘adah). Saya bisa sebut beberapa dari yang banyak itu. Misal, Kang Fatah ‘Kumis’ yang menekuni jadi mandor proyek. Sukses mengawal pengadaan genset ukuran besar untuk kenyamanan ngaji. Sukses juga mengawal pengolahan air untuk santri dengan terobosan energi terbarukan yang disesuaikan.
Atau, sebut juga Kang Edi dan Kang Anam. Duet maut protokoler Ndalem Abah. Di belakang meja kasir, ada Mas Irfan si owner usaha ritel dan butik. Lihat juga Kang Amri yang banyak diam, tapi kreatif menjadi nahkoda Azzahra Percetakan. Jadi tulang punggung, cetak kitab yang dikaji santri-santri Andalusia, hingga terima order dari pesantren lain. Kang Dayat? Diam-diam, serius menjadi koordinator pertanian, peternakan disela-sela kesibukannya belanja kebutuhan pondok.
Saya tambahkan sedikit lagi daftarnya. Padahal, stok santri khoriqul ‘adah masih banyak. Kang Solihin dengan tangan dinginnya, diam-diam menekuni jadi manager usaha AMDK Ar Royyan. Kang Rosyidin yang menekuni kerajinan bambu, sukses jualan online. Yang juga unik ada Idris Zee, operator soundsytem Andalusia yang sukses mendirikan Komunitas Sound System Ponpes Nusantara (KSSP) dan diaulat jadi Ketua KSSP. Yang paling keren lagi, Idris bahkan sudah nulis buku soal sound system pesantren. Kini, dia keliling memastikan santri dan sound sytem pesantren menuju kemandirian. Saya pikir ini cukup untuk jadi salah satu ukuran output santri dengan batas yang ‘tidak terbatas’ dalam ukuran sukses.
***
‘ala kulli hal. Terakhir, saya sangat bahagia saat mahasantri yang menekuni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik dan Literasi membuahkan karya; menerbitkan buku. Sangat bangga saat ada orang memilih jalur sunyi dan diam-diam kasih bukti. Ini adalah sejarah. Selamat sudah mencetak sejarah. Miqot ini sangat penting dan akan diteruskan angkatan selanjutnya tentu dengan ukuran yang lebih dari sekarang. Saya tidak cukup waktu untuk mengkritik atau memberi koreksi atas karya perdana. Karena, apresiasi atas sejarah ini jauh lebih penting.
Maka, sangat indah doa Abah-Ibu untuk santri-santri Andalusia; Kulo (Ibu Diyah), Abah, (mendoakan) anak-anak santri semua mugi-mugi sehat panjang umur dan saget ningali njenengan sukses kabeh. Tentu, tidak ada jawaban terbaik atas doa tersebut, kecuali Amiin, paling keras. Amin, amin, Yaa Mujibassailin. Kepada seluruh santri, mahasantri, teruslah berporses, tentukan dan ciptakan ukuran suksesmu sendiri, diatas ridlo Abah-Ibu dan Allah SWT.
Selamat Harlah-Haflah ke-13, Ponpes At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia. Siapa kita? Andalusia! Andalusia? Hibbana! Andalusia Hibbana? Istimewa, Mendunia!
Salam takdzim
*) Rujito, M.Sos. Karib dikenal dengan djito el fateh. Teman diskusi mahasantri Ma’had ‘Aly Andalusia, kelas jurnalistik. Dosen tamu di UIN Saizu Purwokerto, fokus produksi media dan konsultan komunikasi. Tinggal di @djitonu.















