Umur 15 Tahun, Wahid Hasyim Rintis Padukan Pendidikan Agama dan Ilmu Umum

42
Wahid Hasyim memadukan pendidikan pesantren dengan pendidikan umum
KH Wahid Hasyim

DIDIRIKANNYA Ma’arif sebagai lembaga eksekutor pendidikan formal NU, salah satunya  tak lepas dari peran KH Wahid Hasyim. Bahkan dalam sejarahnya putera Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang lahir 1 Juni 1914 sudah giat mengajar di pesantren. Di umur 15 tahun ia sudah menerapkan pola pendidikan pesantren yang memadukan pendidikan ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum.

Dikutip dari Arifin Junaidi dalam situs resmi LP Ma’arif NU mencatat Wahid Hasyim saat itu telah mengubah sistem klasikal menjadi sistem tutorial. Para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan pelajaran Bahasa Arab, tetapi para santri juga mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda yang dikuasai ayah Gus Dur itu secara otodidak.

Tiga tahun kemudian yaitu 1932 dalam usia 18 tahun menuntut ilmu ke Makkah. 1935 kembali ke tanah air ia menciptakan gebrakan di dunia pendidikan dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah. Dalam perkembangannya di tahun 1944 Wahid Hasyim mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengelolaannya diserahkan kepada KHA Kahar Muzakkir.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno ia menjadi menjadi Menteri Agama. Dengan cerdas dan berpikir tentang strategisnya pendidikan tahun 1950 ia menerbitkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang menjadi cikal bakal IAIN dan UIN sekarang.

Selanjutnya ia juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta, mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh, Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta, serta mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan Salatiga.

Baca juga : Ini Dia Pengurus Cabang LP Ma’arif NU Banyumas 2018-2023 Lengkap

Sayang takdir berkata lain, di waktu usianya masih muda 39 tahun, tepatnya 19 April 1953 ia meninggal dunia dalam kecelakan kendaraan bermotor di Cimindi Jawa Barat. Kepada Presiden Soekarno ia juga mengusulkan untuk mendirikan masjid Negara yang kemudian diberi nama Masjid Istiqlal yang dirancang arsitek Friedrich Silaban, pria kelahiran Bonandolok, Tapanuli Utara. (*)

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.