Resolusi Jihad NU dan Sejarah Hari Santri Nasional

Resolusi Jihad NU dan Sejarah Hari Santri Nasional
Resolusi Jihad NU dan Sejarah Hari Santri Nasional

Resolusi Jihad NU

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan, para Ulama pesantren sepeti telah menyadari betul akan hal itu. Dan benar saja, usai Jepang menyerah kepada sekutu, pasukan (Netherlands Indies Civil Administration) NICA Belanda bersama Sekutu datang untuk berkuasa lagi Indonesia.

Kehadiran tentara asing yang berasal dari pasukan Brigade 94 Divisi India Tentara Inggris Pimpinan Jendral A.W.S Mallaby itu tentu membuat para santri tak senang, karena para santri sudah sadar jika mereka datang lagi maka perang tak bisa dihindarkan.

Pada 19 Oktober 1945, mereka mulai berulah dengan mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato Surabaya. Para santri yang mengetahui hal itu pun merasa geram dan segera melakukan perlawanan dengan menyobek bagian biru bendera Belanda tersebut.

Banyak nyawa yang mati dalam peristiwa itu, termasuk dari kalangan santri, peristiwa berdarah itu kemudian hari ini kita kenal dengan nama penyobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato Surabaya.

Di Surabaya yang panas, tepat akhir Oktober 1945. Para kiai-kiai NU berkumpul untuk membahas dan memantapkan diri untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.  Setidaknya waktu itu Wahid Hasyim, anak dari Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari, adalah Menteri Agama Republik Indonesia sejak September 1945. KH Hasyim Asy’ari sendiri merupakan ulama besar yang berpengaruh sejak zaman kolonial hingga pendudukan Jepang.

Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) mencatat, pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci).

Maka pada tanggal 22 Oktober 1945, tepat hari ini 76 tahun yang lalu, lahirlah apa yang kita kenal hari ini sebagai Resolusi Jihad NU.

Dalam Resolusi Jihad itu, NU menegaskan kepada pemerintah Indonesia bahwa ulama dan umat di banyak tempat memiliki hasrat besar untuk berjuang menegakan agama Islam dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Niat itu tertuang dalam pertimbangan Resolusi Jihad bahwa “mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai satu kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.”

Dalam Resolusi Jihad itu NU juga, “memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaja menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sebadan terhadap usaha-usaha jang akan membahayakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki-tangannya.” Bagi NU dan ulama pesantren Belanda telaah Jepang telah berbuat kezaliman kepada rakyat Indonesia.

Baca Juga : Sejarah Halaqah Ulama Banyumas Tahun 1928

Waktu itu, NU memiliki pasukan bernama Laskar Hizbullah yang dibentuk pada November 1943, berisi para pemuda NU dan santri yang di latih ketrampilan militer oleh Kapten Yanagawa, seorang perwira intelijen Jepang. Pembentukan Laskar Hizbullah ini awalnya oleh Jepang bertujuan untuk menguatkan kembali pasukan mereka usai kalah perang melawan Sekutu. Namun dikemudian hari, Laskar Hizbullah justru menjadi pejuang gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 (1996: 21) menyebut dari NU ada milisi bernama Hizbullah yang dilatih secara militer oleh tentara Jepang. Sementara Hairus Salim dalam Kelompok Para Militer NU (2004: 47) mencatat bahwa Hizbullah sangat berperan di masa Revolusi.

Resolusi Jihad punya dampak besar di Jawa Timur. Pada hari-hari berikutnya, ia menjadi pendorong keterlibatan santri dan warga NU untuk ikut serta dalam Pertempuran 10 November 1945. Pemicu dari peristiwa 10 November tersebut adalah tertembaknya Jendral Mallaby oleh seorang santri bernama Harun.

Bung Tomo alias Sutomo, Pemuda Surabaya yang menjadi orator dalam pertempuran itu, terlebih dahulu juga meminta restu kepada KH Hasyim Asy’ari sebelum membakar semangat para pejuang dengan pekikan “Allahu Akbar”

Pertempuran 10 November juga menjadi pemicu lahirnya pertempuran melawan Sekutu di daerah lain seperti di Jatingaleh, Gombel dan Ambarawa. KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001) mencatat bahwa hampir bersamaan ketika terjadi pertempuran 10 November di Surabaya antara santri dan Sekutu, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara Sekutu mulai mendarat di Semarang.

Kabar peperangan itu pun tersiar sampai ke Laskar Hizbullah dan Sbilillah Parakan, mereka pun lalu berangkat dan bergabung bersama para pejuang lain di daerah Kedu. Namun sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mampir ke Kawedanan Parakan guna mengisi dan memperkuat diri oleh berbagai macam ilmu kekebalan dari seorang ulama tersohor di daerah Parakan, Kiai Haji Subchi.

Tentara Allah itu berbaris dengan bambu runcingnya dan masing-masing mereka ‘diberkahi’ oleh doa Kiai Subchi yang disepuhkan ke bambu runcing.

Setelah pertempuran 10 November 1945 berlalu, Resolusi Jihad terus disuarakan. Dalam Muktamar Nahdlatul Ulama pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto, seperti disebut di buku Jihad Membela Nusantara: Nahdlatul Ulama Menghadapi Islam Radikal dan Neo-Liberalisme (2007), Kiai Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan para peserta muktamar.

“Tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” kata Kiai Hasyim. Jadi syarat tegaknya syariat Islam adalah kemerdekaan dari penjajah asing.

Eksistensi penjajah dianggap oleh KH Hasyim Asy’ari akan menyulitkan penegakan syariat Islam. Hal ini adalah wujud nyata hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara merupakan kewajiban agama.

Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945, tepat hari ini 76 tahun yang lalu itu kemudian, diabadikan sebagai Hari Santri Nasional.

Berita sebelumyaNabi Muhammad SAW, Anugerah Terbesar Umat Manusia
Berita berikutnyaPelajar NU Kemranjen, Makesta Untuk Cetak Kader Militan

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini