Perbanyak Sholawat Ya Nak!

38
perbanyak sholawat

Pagi itu, Karman mencari-cari dan menunggu seorang bapak, yang merupakan wali murid di sekolah tempat ia bekerja. Laki-laki yang ia cari, belum juga muncul di halaman sekolah untuk mengantar anaknya.

Ada alasan apa, sehingga penjaga sekolah menengah pertama itu, selalu penasaran dengan seorang bapak yang di hari-hari sekolah selalu bertemu dengannya? Padahal sebelumnya tidak pernah ia mengalami hal yang demikian terhadap wali murid yang lain.

Sosok laki-laki yang ia tunggu, bukanlah laki-laki yang istimewa di mata umum. Motornya saja butut, keluaran tahun 2006. Jaket hitamnya sudah lusuh, hampir berganti warna semu keputihan. Helmnya sudah kuno, dan segala kekurangan lainnya.

Sudah tigabelas tahun Karman menjadi penjaga sekolah di sebuah SMP Negeri, namun baru kali ini, ia menemukan lelaki lucu dan aneh. Ia sendiri juga merasa hidupnya tak seberuntung teman yang lain. Ia masih tenaga honorer, belum PNS. Saat PTM (pembelajaran tatap muka) mulai dijalankan, ia banyak bertemu dengan wali murid, karena memang ia penjaga pintu sekolah juga.

Dalam kurun waktu yang panjang itu, tak ada yang aneh-aneh dari orang tua siswa. Namun tahun ini, ia merasa bertemu dengan orang yang baginya sangat aneh.

Orang yang bagi Karman aneh itu setiap kali mengantar anaknya selalu mengatakan kepada dirinya, “Pak, saya nitip anak saya…”

Setelah itu berpesan kepada anaknya, “Nak, perbanyak baca shalawat ya….”

Karman penasaran, kenapa selalu dua kalimat itu yang ia ucapkan? Laki-laki itu makin membuat penasaran saja. Sehingga begitu wali murid itu muncul, sesaat setelah ia menurunkan anaknya, Karman langsung bertanya kepadanya. Dan laki-laki paruh baya itu menjawab:

“Anakku tak secerdas anak orang lain pak, anakku tak seganteng teman-temannya, anakku sering dibully, diejek, hingga ia sering tak percaya diri. Aku berharap dengan sholawat, Alloh menolong anakku dari berbagai cobaan hidup…dan bisa sukses.”

Karman tertegun. Karman makin penasaran. Ia ingin secepatnya bertemu dengan sosok anak laki-lakinya. Anak yang kata bapaknya itu hanya ia bekali dengan sholawat, untuk memancing kasih sayang dari sang Pencipta.

Karman bertemu dengan anak laki-laki itu. Anak yang dengan segala keterbatasan akademik dan fisiknya, mampu tegar menjalani hidupnya. Kuat diejek, kuat dimarahi guru, kuat menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Karman melihat siswa kelas 9 itu menikmati hidupnya. Shalawat sang bapak dan sang anak barangkali mampu memberi kekuatan padanya, ujar Karman sambil masuk ruangan TU. Ada titik air di sudut mata Karman. Entah kenapa tiba-tiba ia menangis. (*)

Baturraden, 24 Sept 2021

Berita sebelumyaBupati Banyumas: UNU Purwokerto Pilihan Kuliah Tepat
Berita berikutnyaMasjid Al Azhar Cairo, Sebuah Penghormatan kepada Fathima Al Zahra

2 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini