Nisful Adji: Menjadi Ketua Di Dua Cabang

324
Nisful Adji di Tengah
Nisful Adji (tengah) dengan dua orang pengurus PAC IPNU Ajibarang dalam acara Makesta

Sebagai organisasi paling muda dalam struktur Pengurus Cabang NU Kabupaten Banyumas, tidak banyak yang tahu kalau Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kabupaten Banyumas baru berumur 27 tahun.

Sebelum menjadi Pimpinan Cabang Kabupaten Banyumas seperti sekarang ini, kepengurusan IPNU dan IPPNU di Kabupaten Banyumas ternyata terdiri dari dua Pimpinan Cabang, Cabang Purwokerto dan Cabang Banyumas. Cabang Purwokerto meliputi wilayah Purwokerto dan Banyumas bagian barat, sementara itu Cabang Banyumas meliputi wilayah Sokaraja dan Banyumas bagian timur.

Pembagian Kabupaten Banyumas menjadi dua pimpinan cabang itu berlaku sampai tahun 1994. Saat itu, Pengurus Cabang NU sebagai ‘bapak’ yang juga memiliki dua kepengurusan di tingkat Kabupaten sudah lebih dulu bergabung menjadi satu kepengurusan. Lalu mendesak kepada PC IPNU Cabang Purwokerto dan Banyumas untuk juga bergabung menjadi satu kepengurusan. Hanya saja, IPNU sebagai organisasi yang berisi remaja, santri dan mahasiswa masih tarik ulur tentang desakan penggabungan kepengurusan itu.

Tarik ulur desakan penggabungan itu bukan tanpa sebab. Karakteristik dua kepengurusan ini memang agak berbeda. Pengurus cabang Banyumas lebih didominasi oleh santri, sementara itu cabang Purwokerto didominasi oleh mahasiswa. Sehingga kesan yang muncul, pengurus cabang Banyumas tertib dan rapi, sementara itu pengurus cabang Purwokerto urakan dan dablongan.

Penggabungan kepengurusan dengan dua karakteristik tersebut tidak mudah. Negosiasi, dan kompromi menghiasi kepengurusan hasil gabungan tersebut. Hal ini bisa dilihat dari struktur kepengurusan yang selang-seling antara kader dari Purwokerto dan Sokaraja.

Adalah Nisful Adji dari Kecamatan Ajibarang yang saat itu berumur 24 tahun, didaulat menjadi ketua pertama hasil penggabungan itu. Tentu saja setelah melalui proses politik yang luar biasa. Ditandai dengan kunjungan dan pertemuan dari dua kepengurusan yang  sangat intens, hingga akhirnya menghasilkan beberapa keputusan.

Salah satunya keputusan pentingnya adalah pelaksanaan konferensi gabungan yang dilaksanakan tanggal 3 Juli 1994 di MI Ma’arif NU Kauman Sokaraja, yang akhirnya menghasilkan Nisful Adji sebagai ketua IPNU dan Wahyuni Setyawati sebagai ketua IPPNU.

Nisful sendiri saat itu masih menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga di Purwokerto. Pengalamannya aktif di IPNU tidak diragukan lagi, sebelum menjadi ketua PC beliau pernah menjadi ketua PAC IPNU Kecamatan Ajibarang dan Ketua Ranting IPNU Desa Ajibarang Kulon. Bisa dikatakan dia menjadi satu-satunya orang yang menjadi ketua IPNU di dua cabang, cabang Purwokerto dan cabang Kabupaten Banyumas setelah bergabungnya dua kepengurusan.

Ketertarikan Nisful muda kepada IPNU dimulai ketika masih SLTP, saat itu ada Basic Training, kalau sekarang disebut makesta, semacam pengkaderan tingkat awal yang dilaksanakan di desanya. Materi-materi dan gemblengan yang didapatkan saat makesta membuatnya tertarik. Dari tertarik kemudian aktif dan berlanjut menjadi ketua di rantingnya.

Tidak perlu waktu lama, Nisful dipercaya teman-temannya untuk memimpin IPNU di tingkat Kecamatan. Di PAC IPNU Kecamatan Ajibarang inilah jiwa kepemimpinan Nisful Adji mulai terasah.

Pergaulannya dengan bermacam karakter kader, dari santri sampai mahasiswa, dari pekerja sampai pengangguran membuatnya mampu menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan anggota. Rumahnya kerap dijadikan tempat berkumpul para pengurus, membicarakan urusan organisasi dan bahkan urusan pribadi.

Setelah kuliah di IAIN Sunan Kalijaga di Purwokerto, beliau mulai aktif di IPNU Cabang Purwokerto. Dengan akses informasi yang lebih luas, pikiran-pikirannya tentang organisasi semakin matang. Tindakan-tindakan politiknya juga lebih taktis dan terarah. Maka ketika geliat penggabungan Pimpinan Cabang semakin membesar, Nisful dipercaya menjadi ujung tombak negosiasi antara dua pihak. Hingga lahirlah keputusan yang dapat diterima semuanya.

Fokus Pada Pengkaderan

Setelah terbentuk kepengurusan baru hasil konferensi gabungan, ternyata pengurus belum dapat melaksanakan program dengan baik. Ada beberapa kendala yang dihadapi. Program kerja yang diamanatkan Konferensi Gabungan dirasa masih terlalu luas bentuk dan cakupannya. Kemudian Pengurus Cabang baru ini bisa dikatakan mbakali dengan susunan pengurus hasil kompromi. Maka hal pertama yang dilakukan Nisful selaku ketua baru adalah meningkatkan konsolidasi anggota, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan.

Dalam dokumen Laporan pertanggungjawaban kepengurusan PC IPNU-IPPNU 1994-1997, Turba (turun ke bawah) ke pengurus PAC dan komisariat memiliki statistik yang lebih tinggi dibandingkan kegiatan lain. Hal ini wajar, layaknya produk politik yang lain, tentu hasil konferensi gabungan tidak bisa memuaskan semua pihak, perlu konsolidasi kembali. Dan turba pengurus menemukan momentumnya.

Kemudian melihat konteks politik eksternal, pengkaderan menjadi fokus kegiatan Nisful selaku ketua baru tersebut. Beberapa pertimbangan yang menjadi dasar pemikiran, saat itu Soeharto dengan orde baru berada di puncak kekuasaannya dan Gus Dur selaku ketua PBNU memposisikan diri berhadap-hadapan.

Waktu itu, Jika akan mengadakan kegiatan, perlu ijin tertulis dari instansi terkait. Maka mengadakan kegiatan terbuka dan mengumpulkan masa menjadi sangat sulit. Pengkaderan internal menjadi pilihan yang masuk akal. Baik mengadakan sendiri, ataupun berpartisipasi dalam acara organisasi lain berbasis NU, seperti PMII.

Proses pengkaderan IPNU saat itu sudah menggunakan istilah makesta dan lakmud. Sebagai pengkaderan tahap awal, makesta menjadi kegiatan andalan PC baru ini. Bisa dipastikan, setiap PAC pasti pernah mengadakan makesta, entah pesertanya satu ranting atau gabungan beberapa ranting. Dan makesta ini dilaksanakan minimal tiga hari.

Nisful menuturkan, karena belum ada gawai dan sepeda motor, para instruktur dari pengurus cabang harus menginap berhari-hari ketika kegiatan makesta. Minimal satu hari sebelumnya personil pengurus cabang sudah berada di lokasi untuk menyiapkan acara.

Yang menjadi catatan menarik, saat itu IPNU yang masih menjadi ikatan putra, memiliki komisariat aktif di sekolah negeri. Tercatat ada komisariat Hasyim Asy’ari yang merupakan gabungan dari SMA negeri 1, 2, dan 5. Lalu ada komisariat MAN 2 yang disebut komisariat Raden Patah.

Program andalan komisariat negeri ini adalah kajian kitab Risalatul Mahidh yang didampingi oleh Departemen Pendidikan dan Kader PC. Dan tentu saja pelaksanaan Makesta serta Lakmud setiap tahun. Seperti yang kita tahu, keseriusan PC baru hasil konferensi gabungan ini nantinya memunculkan banyak kader hebat yang lahir dari komisariat negeri.

Akhirnya, sebagai pelaku sejarah, Nisful Adji berpesan kepada kader-kader IPNU saat ini, terutama kepada pengurus cabang. Untuk senantiasa menjadikan pengkaderan sebagai ruh gerakan. Karena IPNU tidak lain adalah penyiapan kader-kader untuk menjadi NU. Kalau pengkaderan tidak menjadi ruh gerakan, yang terjadi adalah bermunculannya kader-kader yang tidak paham organisasi dan ideologi, sehingga menjadi kader yang prematur.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here