Masyarakat Pascamanusia Hingga “School of Future Studies”, Ini Rangkuman Sesi Panel Muktamar Pemikiran NU 2023

Sesi panel muktamar pemikiran NU 2023
Sesi panel muktamar pemikiran NU 2023

Sesi panel Muktamar Pemikiran NU 2023 mengawali hari kedua dari agenda yang digawangi oleh Lakpesdam NU.

Sesi panel menghadirkan empat narasumber dari berbagai ilmu pengetahuan.

F. Budi Hardiman (guru besar filsafat), Ismail Fajrie Alatas (guru besar studi islam), Najib Burhani (guru besar ilmu sosial) dan Widya Prahita (Rektor UNU Yogyakarta tahun 2022).

Gus Ulil  membuka sesi panel sebagai moderator dan mempersilahkan F.Budi Hardiman menjadi pemateri pertama.

Future Society: Masyarakat Pascamanusia

Sebagai penulis buku “Aku Klik Maka Aku Ada”, F. Budi Hardiman memulai materi dengan sebuah ironi.

“Mesin semakin manusiawi, manusia semakin mekanis. Hewan semakin manusiawi, namun manusia semakin hewani”.

Pria yang akrab dipanggil Frans menyatakan bahwa percepatan teknologi membuka kemungkinan bagi terciptanya manusia yang dilengkapi teknologi robotik.

Teknologi sedang dimungkinkan untuk melekat pada tubuh manusia dan menyuntikkan kekuatan baru.

Kekuatan yang mungkin diberikan teknologi robotik pada tubuh manusia seperti kemampuan memperkuat otot, regenerasi sel, dan terhubungnya otak dengan beragam perangkat.

Teknologi sedang dikembangkan untuk menjawab berbagai “impian religius” umat manusia.

Misalnya tentang impian hidup yang lebih panjang atau bahkan hidup abadi.

Jika hal-hal semacam ini bisa terjadi di masa depan, maka akan muncul ras baru campuran manusia dan teknologi.

Bisa berupa “cyborg” atau “super-human”.

Imajinasi Adalah Kekuatan Agama

Fajri Alatas selaku guru besar studi islam menegaskan bahwa imajinasi adalah kekuatan agama yang dimiliki sejak dulu.

Penggambaran surga dan neraka, dosa, pahala, berkah dan syafaat merupakan aneka imajinasi yang menubuh di kalangan umat beragama.

Aneka kisah sejarah nabi dan orang suci yang disampaikan secara lisan dan visual membangkitkan imajinasi masyarakat terhadap peristiwa di masa lampau.

Konsep Mabadi’ Khoira Ummah (masyarakat sipil yang berdaya juang) merupakan warisan dari KH Mahfudz Siddiq sebagai imajinasi masyarakat yang masih layak diperjuangkan.

Tentu, realisasi dan interpretasi konsep ini akan terus dinamis sesuai tantangan zaman.

Ini merupakan konsep alternatif dari narasi besar mengenai model sosial masyarakat Barat modern.

Masyarakat agama dan tradisi seperti NU tentu harus mengoptimalkan nilai moral dan etika yang otentik untuk mewujudkan masyarakat sipil berdaya.

Disrupsi Masyarakat Digital

Najib Burhani mengingatkan masyarakat untuk siap berlari dengan aneka perubahan akibat digitalisasi.

Interaksi sosial berubah drastis lewat media sosial.

Media sosial membuat kita peduli terhadap yang jauh namun sekaligus membuat lupa dengan apa yang di hadapan.

Teknologi digital juga merubah cara orang beragama, misalnya dengan pengajian daring.

Dunia pemerintahan juga tak luput dari intervensi digital.

Kini hampir di setiap level pemerintahan mencanangkan “digital governance”.

Meski, satu hal yang penulis tertawakan, masih kerap ditemui syarat berupa fotokopi KTP.

Imajinasi masa depan bukan hanya teknologi, namun juga kualitas hidup masyarakat yang ternyata masih jauh dari ideal. Tutur pria yang merupakan peneliti senior BRIN.

Najib menampilkan beberapa berita mengenai target SDG’s (Sustainable Development Goals) yang tidak bisa dicapai pada 2030.

Target awal yang ditetapkan oleh PBB tidak bisa terlaksana akibat ketimpangan kualitas manusia, pendidikan dan infrastruktur.

Kemudian diperparah dengan krisis iklim yang memantik berbagai bencana alam dan kelaparan.

School of Future Studies, Upaya NU Mempersiapkan Masa Depan

Terakhir, adalah pemaparan dari Widya Prahita mengenai terobosan penting saat memimpin UNU Yogyakarta selama 1 tahun.

Bekerjasama dengan pemerintah Uni Emirat Arab, UNU Yogyakarta menggagas “School of Future Studies”.

Ini adalah pusat riset teknologi dan ilmu sosial guna mengantisipasi kebutuhan dunia di masa depan.

Sekolah Masa Depan ini akan memiliki tiga pilar studi, yaitu teknologi masa depan (future technology), Islam masa depan (future Islam), dan masyarakat masa depan (future society).

Salah satu elemen dari “School of Future Studies” adalah Institute for Future Scenario yang fokus tentang mengantisipasi masa depan.

Untuk membuat sebuah skenario masa depan, ada 4 pengetahuan yang harus dipelajari, yaitu meramal (forecasting), memprediksi (predicting), mengantisipasi (anticipating), dan pengetahuan akademis (academic for future studies and skill).

Sekolah ini akan memulai proses pembangunan pada tahun depan dengan membuka jenjang studi magister dan doktoral.

Tulisan sebelumnyaMandat Gus Yahya Bagi Peserta Muktamar Pemikiran NU 2023
Tulisan berikutnyaSebarkan Moderasi Beragama, UIN Saizu Purwokerto Gandeng NU Banyumas

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini