Konfercab Ansor dan Kemandirian Ekonomi

158

Sepertinya gelaran Konfercab mulai anget-anget sedap di sana sini yah. Konfercab sebagai majelis tertinggi tingkat cabang di Ansor, urgensinya apa sih, lebih tepatnya apa saja sih? Saya menulis artikel ini, sekedar ikut meramaikan dengan sudut pandang lain, yang sementara ini jadi pikiran namun sering terlupakan.

Ada banyak hal yang harus dirangkum untuk mencapai kemandirian organisasi dalam momen konfercab. Jadi bukan semata-mata menentukan siapa yang akan bertugas, melainkan juga menentukan pekerjaan apa yang akan ditugaskan, diamanatkan.

Sektor Ekonomi

Organisasi yang besar mesti membutuhkan alokasi anggaran yang lumayan agar tetap seimbang berjalan. Seimbang yah, bukan sekedar berjalan. Apakah ormas nirlaba semacam Ansor sudah bisa mencukupi hal itu secara keseluruhan dengan tertib dan teratur? bisa jadi kalian jawab belum.

Ansor sebagai wadah berjuang, akan sangat cantik apabila para pejuang yang ada di dalamnya mencapai taraf kesejahteraan yang setidaknya mendekati kemapanan ideal dari segi ekonomi agar amunisi tetap tersedia untuk bergerak.

Lalu apakah akan jadi baik bila mengais rejeki lewat Ansor? Sementara NU itu seakan-akan sakral dan bikin kuwalat bila dimanfaatkan untuk hal-hal profit berujung duit.

Bila hal ini menjadi pemikiran yang mendarah daging di warga NU, khususnya di Ansor, mestinya Konfercab dapat pula melahirkan sebuah resolusi yang solutif.

Sumber Daya

Mungkin ini akan menarik ketika saya mengambil sedikit contoh bahwa di Sawangan Ajibarang ada anggota yang berinisiatif membangun usaha produktif secara mandiri, berupa perkebunan markisa. Karena kelompok ini berawal dari para pegiat organisasi, malah nantinya mereka bingung mengkorelasikan hubungannya dengan Ansor, terutama pada hal-hal profit yang mungkin nanti akan didapat.

Contoh lain, di Babakan Karanglewas ternyata berbeda dengan Pasir Kulon, di mana di Babakan banyak kader yang siap berkelompok membangun usaha pertanian dan perikanan. Tetapi kesusahan lahan, sementara di Pasir ada dan tersedia ahan tetapi kesusahan menemukan tenaga kerja yang notabene adalah anggota.

Lebih jauh lagi bila menengok ke Pageraji dan Langgongsari, kelihatannya secara berkelompok, anggota Ansor Banser disana sudah membangun usaha bersama, tapi saya belum sempat anjangsana jadi belum mengetahui bagaimana bentuk anggaran dasar dan regulasi lain yang menjadi acuan dijalankannnya usaha tersebut, bila sudah ada malah bisa diadopsi.

Mungkin juga di desa lain ditemukan hal berbeda tetapi masih dalam konteks yang hampir sama. Di ranah pemberdayaan ekonomi kan bukan cuma soal bertani dan berkebun saja, bila kamu nemu hal itu, kamu layak ikut andil dalam pemetaan kecenderungan anggota. Tinggal langkahnya mau bagaimana nunggu respon balik Sahabat gaes.

Solusi adalah Navigasi

Satu lagi yang mestinya bisa dicarikan solusi, bila kegiatan pengkaderan punya rel dan buku panduan, di kegiatan pemberdayaan mestinya juga sama, tapi siapa yang mau memikirkan serta mampu menelorkan hal itu? Kamukah? atau barangkali saya, dia bahkan mereka? lagian repotnya isyu ini kurang diminati anggota, bakal susah nih kalo sudah repot mikir sampek nelor kaya ayam, ehh malah tidak ada gayung bersambut.

Cukup

Tulisan ini cuma mengupas sisi pemberdayaan ekonomi saja, itupun hanya sedikit, ada banyak hal yang mestinya diangkat menjadi isyu menarik agar organisasi menemukan pintu menuju kemandirian yang dicita-citakan di babak berikutnya, siapapun yang nanti bertugas.

Berdiskusi untuk merumuskan resolusi yang akan jadi intruksi, saya pikir sah saja lho Sahabat gaess, sebab visi misi yang nantinya menjadi beban kerja para pimpinan dan pengurus mesti sesuai kebutuhan yang ada diberbagai sebaran keanggotaan, dan kamu perlu ikut membidani kelahirannya.

Oh iya Sahabat gaess, kemandirian organisasi bukan hanya soal seputar sisi ekonomi saja, yukk mari ikut berkontribusi sesuai kemampuan di berbagai sisi yang lain, temukan pernanmu dan lekas berperan tanpa harus baperan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here