Khutbah Jum’at. “Pemaknaan Hari Santri dan Resolusi Jihad NU”

Oleh: Gus M. Sa’dullah
(Ketua Lembaga Dakwah PCNU Kabupaten Banyumas)

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.  أمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ الله. أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.

Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.

Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selau dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.

Hadirin Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, minggu depan, tepatnya pada tanggal 22 Oktober, kita akan memperingati Hari Santri Nasional. Hari bersejarah tersebut ditetapkan berdasarkan momentum resolusi jihad yang telah digaungkan oleh ulama terdahulu dalam melawan dan mengusir pasukan kolonial dari bumi Indonesia.

Hari Santri merupakan refleksi bersama, agar kita selalu ingat bahwa semenjak lahirnya negeri ini, kita telah menjadi bagian dari perjuangan para pahlawan, para kiai, para santri, dan pendahulu kita. Oleh sebab itu, mari kita jaga semangat perjuangan mereka dengan melakukan sinergi positif yang dapat membangun negeri ini ke arah yang lebih baik, terutama dalam merawat keberagaman, menjaga kerukunan serta rasa aman antar sesama. Hal itulah yang menjadi modal penting bangsa kita agar menjadi bangsa yang besar.

Allah Swt sendiri mengingatkan di dalam QS. Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara.”

وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ

Artinya: Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Ayat tersebut menegaskan betapa pentingnya kita menjaga tali kerukunan, supaya tidak terjadi gejolak dan perang saudara (berpecah belah) di antara kita, sebagaimana yang terjadi di Afghanistan, Irak, Yaman, dan Suriah. Oleh karenanya, merawat keberagaman bangsa Indonesia yang total penduduk 267 juta jiwa tidaklah mudah. Sebab itu, kita semua jangan mudah terkompori dengan isu SARA dan pecah belah, terutama di media sosial. Kita harus berhati-hati.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Mengenai resolusi jihad dalam konteks pada waktu perjuangan melawan penjajah, tentu sangat berbeda untuk kita hadirkan dalam konteks saat ini. Makna jihad tidak lantas kita artikan sebagai perang dan pemahaman sempit yang siap mati supaya mendapatkan tujuh puluh bidadari, sebagaimana pemahaman yang salah oleh para teroris.

Di negeri aman dan damai seperti Indonesia ini, jihad bisa berbentuk berbagai macam. Seperti Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan narkoba, jihad melawan kemiskinan, jihad melawan kebodohan, jihad melawan ketidakadilan, dan jihad melawan korupsi. Seperti dahulu, pada tahun 2016, pemerintah kita pernah berupaya mengurangi perilaku pungutan liar atau pungli. Di dalam ajaran Islam, pungutan liar tidak dibenarkan. Karena praktiknya mirip dengan perampok jalanan. Mendzalimi orang lain dengan cara memungut upeti.

Imam Adz-Dzahabi, seorang ulama ahi fikih mengatakan bahwa orang yang mengambil pungutan liar, pencatat dan pemungutnya, semuanya bersekutu dalam dosa, dan sama-sama memakan harta haram.

Allah Swt berfirman di dalam QS. Asy-Syura ayat 42.

إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

Dengan demikian, mari kita maknai arti kata Jihad yang tidak sebatas perang di medan peperangan yang begitu sengit. Karena makna jihad yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu, supaya tidak merugikan diri sendiri, dan mengorbankan orang lain. Dan makna jihad juga bisa berarti bersungguh-sungguh untuk membenahi kejelekan yang ada pada diri kita, agar lebih baik daripada kemarin. Kita berusaha mengerem diri, untuk tidak memfitnah orang lain, mengkompori umat, membuat isu SARA dan strategi pecah belah, dengan tujuan-tujuan tertentu agar rakyat menjadi kacau balau, inilah yang dikhawatirkan saat ini. Apalagi sekarang situasi politik nasional sedang memanas sekaligus menjelang Pilpres 2024, banyak bumbu-bumbu dan pesan sponsor, kampanye hitam yang nilainya sangat rendah bila dibanding dengan kemaslahatan umat, demi persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia tidak hanya sebagai pengobar semangat santri dan masyarakatnya, akan tetapi juga bertujuan mempengaruhi pemerintah agar segera menentukan sikap melawan kekuatan asing yang ingin menggagalkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam pandangan KH. M. Yusuf Hasyim, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam Majalah Tebuireng tahun 1986, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah Jepang, tetapi merupakan jerih payah perjuangan bangsa Indonesia itu sendiri. Pada awalnya, ada tiga kekuatan yang merupakan induk dari lahirnya militer di Indonesia.

Pertama, PETA (Pembela Tanah Air) yang merupakan paduan antara golongan Nasionalisme dan Islam. hal ini bisa dilihat dari pataka PETA tersebut, yang mencerminkan symbol Islam, yakni gambar bulan sabit. Di samping, memang, seluruh anggota PETA sendiri adalah umat Islam, hanya beberapa orang saja yang non Islam, karena seleksi yang kurang ketat. Mengapa? Yang non Islam punya hubungan dengan kolonial Belanda.

Kedua, PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipelopori oleh Bung Karno, untuk golongan Nasionalis. Sedangkan kekuatan. Ketiga, adalah HIZBULLAH, sebuah kekuatan terbesar dari golongan Islam. tiga kekuatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Indonesia, terutama peranan golongan Islam dalam berbagai sektor. Bahwa Hizbullah merupakan kekuatan Isalm terbesar saat itu, adalah saksi sejarah, betapa Islam selalu membela negara dan berkaitan secara nasional.

Jauh sebelumnya, yaitu masa pendudukan Jepang, kaum ulama dan santrinya sudah bersiap-siap menyusun kekuatan. Laskar Ḥizbullah, dan Sabilillah didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di Cibarusah, sebuah desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Laskar Ḥizbullah berada di bawah komando spiritual, yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zaenul Arifin. Sementara, laskar Sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur. Peran kiai dan santri dalam perang kemerdekaan ternyata tidak hanya dalam laskar Ḥizbullah dan Sabilillah saja, tetapi banyak diantara mereka yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah,

Resolusi Jihad tidak terlepas dari peran Ḥizbullah, peran mereka nyata terlihat setelah berkumpulnya para kiai se-Jawa dan Madura di kantor Ansor Nahdlatul ulama pada tanggal 21 Oktober 1945. Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad. Semangat Resolusi Jihad adalah semangat nasionalisme para kiyai untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengawal kelangsungan NKRI. Melalui Resolusi ini, semangat jihad para kiyai dan santri beserta para pejuang lainnya seperti terbakar. Sedangkan tokoh ulama NU yang memprakarsai Resolusi Jihad ini adalah KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M), KH. Wahab Hasbullah (1888-1971 M), Kiai Bisri Syansuri (1886-1980 M) dan Kiai Abbad Buntet (1879-1946 M).

Ketika NU melihat ancaman terhadap negara yang sudah menyatakan proklamasi kemerdekaannya, dan sudah mempunyai konstitusinya sendiri (UUD 1945), maka pada tanggal 22 Oktober 1945, organisasi ini mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad. Namun, sebelumnya NU mengirim surat resmi kepada pemerintah yang berbunyi: Memohon dengan sangat kepada pemerintah Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap Belanda dan kaki tangannya. Supaya pemerintah melanjutkan perjuangan yang bersifat fi sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan beragama islam. Resolusi jihad tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat arek-arek Surabaya untuk bertempur habis-habisan melawan penjajah. Dengan semangat takbir yang dipekikkan oleh Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat yang dahsyat pada 10 November 1945 di Surabaya. Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari, sebaiknya diingat kembali untuk memberikan motivasi kepada generasi muda dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan negara.

Demikian khutbah singkat ini, semoga menambah kecintaan kita semua sebagai kaum santri terhadap Negara Kesatuan Rapbublik Indonesia. Jihad Santri, Jayakan Negeri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةْ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ النَّهْضَةْ. أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهَا النَّاسُ! أُوْصِيْكُمْ بتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَأٰمِرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْراهَيْمَ فِي الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمْؤُمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحاَجاَتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الِإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الِإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا أتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّءْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهْ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاۤءِ ذِي اْلقُرْبىٰ وَيَنْهىٰ عَنِ اْلفَخْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمٍ يَّزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

 

Tulisan sebelumnyaGus Yahya : NU Harus Terimakasih dengan Kiai, Seperti Kiai Hisyam
Tulisan berikutnyaDilantik GusMen Yaqut, Profesor Ridwan Rektor Baru UIN Saizu Purwokerto

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini