Beranda Opini

Jalur Sunyi Menulis, Merawat Sejarah

ADA perjalanan yang tak selalu ramai diperbincangkan, tetapi menyimpan banyak cerita. Bagi saya, menulis, mengelola media, dan mendokumentasikan perjalanan para kiai adalah jalan sunyi yang mempertemukan saya dengan banyak orang, pemikiran, serta jejak pengabdian yang layak diwariskan. Minimal layak diceritakan.

Perjalanan itu tumbuh dari sejumlah persinggungan. Sebagai jurnalis, penggagas nubanyumas.com, dan penulis, saya berkesempatan bertemu banyak tokoh, memasuki lingkungan pesantren, hingga terlibat dalam produksi tulisan profil kiai. Di antara proses yang paling membekas adalah pengalaman bersama KH Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam), membidani lahirnya media pesantren, dan penulisan buku biografi kiai.

Titik awalnya terjadi pada 2010-2011. Saat itu, Gus Anam meminta saya membantu mengawal publikasi Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia. Tugas pertama yang beliau percayakan cukup sederhana: menyusun teks brosur SMP Islam Andalusia Kebasen. Seperti diketahui, Gus Anam saat ini memiliki tak kurang dari 3.000 santri dengan pesantren yang dilengkapi sekolah formal SMP, SMA, MA hingga perguruan tinggi pesantren (Ma’had Aly).

Dari Leler, saya terus bergerak. Brosur itu menjadi pintu masuk menuju proses kreatif berikutnya: menerbitkan Buletin At Taujieh, membidani Majalah At Taujieh, hingga mengembangkan Gus Anam Channel melalui berbagai platform, mulai dari Facebook, YouTube, sampai Instagram. Ada juga website attaujieh.id (sebelumnya attaujieh.com). Dalam proses ini ana Haji Caskim dan Mufid ‘Majnun’ yang membersamai. Kini, kanal tersebut dikelola dengan apik oleh tim media dari kalangan santri Andalusia.

Bagi saya, ini bukan sekadar perjalanan dari selembar brosur menuju media multiplatform. Ada proses belajar, kepercayaan, dan pengalaman yang mahal nilainya. Sebuah fase yang tak mudah dilupakan, sebab saya menyaksikan bagaimana publikasi menjadi bagian dari ikhtiar pesantren menyampaikan gagasan dan merawat tradisi keilmuannya.

Jalan lain terbuka melalui buku biografi kiai. Titik mulanya adalah Risalah Cinta, buku tentang Kyai Syamsul Ma’arif, pendiri sekaligus penggagas Pondok Pesantren Nurul Huda (EnHa) Langgongsari. Proyek ini dipercayakan kepada saya dan tim oleh Gus Ajir Ubaidillah. Seperti diketahui, EnHa hari ini diasuh bersama; Gus Abror, Gus Imam, Gus Ajir.

Prosesnya melibatkan banyak tangan. Saya dibantu tim solid Lembaga Ta’alif wan Nasyr (LTN) NU Banyumas. Sementara urusan percetakan mendapat dukungan dari Penerbit Rizquna Purwokerto. Setelah buku terbit, saya bahkan sekitar tiga kali dipercaya menjadi moderator dalam forum bedah Risalah Cinta. Dari proses itu, saya belajar bahwa menulis biografi bukan hanya menyusun kisah hidup seseorang, melainkan juga mengumpulkan ingatan, memeriksa kesaksian, dan merangkai jejak pengabdian agar dapat dibaca generasi berikutnya.

Pengalaman tersebut kemudian bersinggungan dengan penulisan profil kiai lain, termasuk KH Chariri Sofa, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, mantan Ketua STAIN Purwokerto, Ketua MUI, sekaligus Rais Syuriyah PCNU Banyumas. Buku biografinya ditulis bersama keluarga (dzurriyyatih) dan sejumlah kolega. Meski tidak terlibat langsung, tapi kebetulan buku Kiai Chariri cetak juga di Penerbit Rizquna.

Di luar pesantren dan buku biografi, ada nubanyumas.com yang proses kreatifnya juga sangat berharga bagi saya. Menggagas sekaligus terus mengawal keberadaan media ini membuka banyak pintu perjumpaan: dengan beragam komunitas, tokoh masyarakat, dan tentu saja para kiai. Dari ruang-ruang itulah saya belajar bahwa kerja jurnalistik bukan sekadar memproduksi berita, tetapi juga membangun kepercayaan, mendengarkan banyak suara, dan merekam perubahan zaman.

Sunyi Apresiasi

Di tengah perjalanan itulah saya kembali teringat kepada Komari. Saat ini dia yang terpaut beberapa tahun umurnya diatas saya, adalah penyuluh di KUA Lumbir. Dahulu, ketika komunikasi masih banyak berlangsung melalui Facebook, ia memesan Majalah At Taujieh, meski kami belum saling mengenal dekat. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali menghubungi saya karena tertarik pada buku biografi KH Chariri Sofa dan Risalah Cinta Kyai Syamsul Ma’arif.

Perjumpaan itu sederhana, tetapi bermakna. Saya melihat ada kesinambungan perhatian terhadap kerja publikasi yang pernah saya rintis: dari media pesantren hingga buku biografi kiai. Komari menjadi salah satu sosok yang mengingatkan saya bahwa karya tidak selalu harus mendapat apresiasi besar untuk memiliki arti. Terkadang, cukup ada orang yang bersedia membaca, menyimpan, dan meneruskan ceritanya.

Saya percaya, ada banyak Komari lain di luar sana. Mereka yang mungkin tidak ikut menulis, tidak berada di ruang redaksi, dan tidak terlibat langsung dalam proses penerbitan, tetapi bersedia memberi ruang bagi buku-buku yang merekam sejarah. Mereka adalah bagian dari mata rantai kecil yang membuat dokumentasi tetap hidup.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan semata soal uang atau penjualan buku. Tentu, karya perlu dihargai dan penerbitan membutuhkan keberlanjutan. Namun, ada nilai yang lebih panjang umurnya: menjaga ingatan, merekam keteladanan, dan memastikan jejak pengabdian para kiai tidak hilang bersama pergantian generasi.

Menulis mungkin jalan yang sunyi. Tetapi selama masih ada orang yang bersedia membaca dan menghargai sejarah, jalan itu tidak pernah benar-benar sepi. Dan, ketika seseorang lebih mudah dikenal, diapresiasi karena ‘diferensiasi’, itulah peluangnya.

*) Rujito atau Djito El Fateh, tinggal di @djitonu, setia menjadi punden di nubanyumas.com, sesekali ngajar di Mahad Aly Andalusia dan UIN Saizu Purwokerto. Menjadi speaker kepenulisan dan kreatif talk  kalau ada yang ngundang.