
SELAMA ini media sosial lebih sering dipandang sekadar ruang untuk membuat konten dan mengejar angka tayangan. Namun bagi Irfan ‘Ibe’ Bahtiar, Founder @infopurwokerto, media sosial sesungguhnya adalah ekosistem yang mempertemukan komunitas, pelaku usaha, pemerintah, hingga masyarakat dalam satu ruang kolaborasi. Gagasan itulah yang melahirkan Social Media Summit (SMS) Jateng-DIY 2026, forum yang untuk pertama kalinya digelar di Banyumas.
Lebih dari 30 pengelola media sosial, kreator konten, dan pegiat digital dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir dalam kegiatan tersebut. Alih-alih menggelar seminar di dalam ruangan sepanjang hari, peserta justru diajak mengalami langsung wajah Banyumas melalui konsep slow living tourism. Mereka menikmati destinasi wisata, mencicipi kuliner khas, hingga menyaksikan kekayaan seni budaya yang menjadi identitas daerah.
“Selama ini kita sering bicara algoritma, engagement, dan viral. Tapi ada yang lebih penting, yaitu bagaimana media sosial mampu menghadirkan manfaat bagi daerah dan masyarakat. Karena itu kami ingin peserta benar-benar merasakan Banyumas, bukan hanya mendengarkan presentasi,” kata Irfan.
Perjalanan peserta menjadi pengalaman yang tidak biasa. Mereka mengikuti Lengger Bicara, menikmati kemegahan Jazz Gunung Slamet, hingga menyaksikan festival balon udara di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Seluruh rangkaian tersebut dirancang agar para kreator tidak hanya menghasilkan konten, tetapi juga memahami narasi besar yang dimiliki Banyumas sebagai daerah dengan kekayaan budaya, alam, dan kreativitas masyarakatnya.
Bagi Irfan, Social Media Summit bukan sekadar agenda temu komunitas kreator. Ia ingin membangun ruang belajar bersama yang melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Menurutnya, transformasi digital tidak akan berjalan optimal apabila hanya dipahami oleh para admin media sosial, sementara dunia usaha dan pemerintah belum memiliki perspektif yang sama.
“Scale up itu harus terjadi bersama. Pengelola media sosial harus terus berkembang, tetapi pelaku bisnis juga perlu memahami bagaimana teknologi bekerja. Begitu pula pemerintah, harus mampu memanfaatkan media sosial sebagai instrumen pelayanan, promosi daerah, hingga membangun kepercayaan publik. Kalau semua pihak memiliki pemahaman yang sama, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Semangat kolaborasi itu pula yang membuat penyelenggaraan perdana Social Media Summit di Banyumas mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Bupati Banyumas memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pariwisata, Sapphire Graha, serta Lokanesia Travel turut berkontribusi menyukseskan rangkaian acara sehingga peserta dapat menikmati pengalaman yang utuh selama berada di Banyumas.
Irfan menilai keberhasilan penyelenggaraan perdana ini menjadi bukti bahwa Banyumas layak menjadi rumah bagi agenda-agenda digital berskala regional. Menurutnya, daerah tidak hanya membutuhkan promosi, tetapi juga ruang pertemuan yang mempertemukan ide, jejaring, dan inovasi.
Sebagai seorang yang lebih senang menyebut dirinya social media enthusiast, Irfan berharap Social Media Summit tidak berhenti sebagai acara tahunan. Ia ingin forum tersebut tumbuh menjadi gerakan bersama yang memperkuat literasi digital, mendorong kolaborasi lintas sektor, sekaligus menjadikan media sosial sebagai alat untuk menciptakan nilai ekonomi, memperkenalkan budaya lokal, dan mempercepat kemajuan daerah.
Social Media Summit Jateng-DIY 2026 akhirnya bukan hanya menjadi pertemuan para kreator konten. Dari Banyumas, forum ini mengirimkan pesan bahwa ketika komunitas digital, dunia usaha, dan pemerintah berjalan dalam visi yang sama, media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi konten, melainkan mesin penggerak pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Catatan : Djito El Fateh














