PURWOKERTO, nubanyumas.com – Pesantren dinilai tidak cukup hanya menjadi pengguna jasa sound system dalam berbagai kegiatan. Kemampuan mengelola perangkat audio secara mandiri dan profesional justru dapat menjadi bagian dari kemandirian pesantren sekaligus ruang pengembangan keterampilan santri. Pandangan tersebut disampaikan KH Ahmad Arif Noeris (Gus Noeris), Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Karangsuci, Purwokerto, sekaligus CEO NOE Sound System.
Gus Noeris menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber utama Workshop LQ2 Academy Basic Audio Pesantren (ABAP) yang digelar Komunitas Sound System Pondok Pesantren (KSSP) Nusantara Korwil Plat R di PP Al Hidayah Karangsuci, Banyumas, Jumat (7/8/2026). Workshop bertema “Meracik Ukhuwah, Menguatkan Suara Pesantren” tersebut diikuti 45 delegasi santri dari berbagai pesantren se-Banyumas Raya dan sekitarnya.
Menurut Gus Noeris, gagasan membangun sound system pesantren berangkat dari pengalaman ketika perangkat audio yang digunakan pesantren masih kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kondisi tersebut justru memunculkan tekad untuk membuktikan bahwa pesantren mampu memiliki sekaligus mengoperasikan perangkat audio dengan standar profesional. Dari semangat itulah kemudian lahir NOE Sound System yang dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian audio di lingkungan pesantren.
Bagi Gus Noeris, sound system bukan sekadar kumpulan perangkat elektronik untuk memperkeras suara. Ia melihatnya sebagai sebuah sistem yang membutuhkan kerja sama setiap komponen, sebagaimana sebuah organisasi. “Sound berarti suara, dan system adalah kesatuan komponen perangkat yang bekerja bersama untuk satu tujuan, yaitu menyampaikan suara ke audiens. Sound system itu seperti organisasi. Jika ada satu saja komponen atau anggotanya yang pasif atau rusak, keseluruhan sistem tidak akan berfungsi optimal untuk mencapai tujuannya,” ujarnya.
Karena itu, menurut dia, santri yang ingin menjadi soundman atau teknisi audio tidak cukup hanya menguasai teori perangkat. Ada dua hal utama yang harus dibangun, yakni keberanian mengambil keputusan secara terukur dan jam terbang. Keberanian diperlukan ketika teknisi menghadapi persoalan tak terduga di lapangan, sedangkan pengalaman akan membentuk ketenangan dalam menghadapi perbedaan karakter ruangan, kondisi indoor maupun outdoor, serta karakter audiens.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari materi utama Workshop ABAP yang dirancang KSSP Nusantara sebagai ruang belajar audio bagi santri. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan kepada santri yang sudah memiliki pengalaman, tetapi juga terbuka bagi mereka yang ingin belajar dari dasar. Ketua Umum KSSP Nusantara sekaligus Founder and Concept Developer ABAP, Idris Ziee, mengatakan KSSP ingin menjadi ruang inkubasi sekaligus wadah belajar yang memungkinkan terjadinya regenerasi teknisi audio di lingkungan pesantren.
Idris mengatakan program ABAP dikembangkan untuk mempermudah pesantren dan santri memperoleh pengetahuan dasar mengenai pengelolaan audio secara mandiri. Dalam workshop tersebut, ia juga memperkenalkan buku panduan audio yang disusunnya sebagai salah satu bahan pembelajaran. Program ABAP diharapkan dapat memperluas akses pengetahuan teknis sekaligus memperkuat jejaring antarsantri yang memiliki ketertarikan di bidang audio.
Workshop yang mengusung semangat “dari santri untuk santri” itu sekaligus menjadi ruang silaturahmi antarpesantren. Ketua KSSP Nusantara Korwil Plat R, Irvanul Khoir, Ketua ABAP Ardi Firmansyah, serta para delegasi dari berbagai pesantren turut mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan pembelajaran teknis dan penguatan jejaring komunitas.
Melalui workshop tersebut, KSSP Nusantara mendorong agar keterampilan audio tidak lagi dipandang sekadar pekerjaan teknis pendukung kegiatan pesantren. Kemampuan mengelola sound system secara profesional dapat menjadi bagian dari kemandirian pesantren, ruang kreativitas santri, sekaligus keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Gerakan ABAP pun diarahkan untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem audio mandiri di pesantren-pesantren Nusantara.
Penulis: Hamid Mustofa












