Deretan Kabar Duka dan Baiat Tarekat

Deretan Kabar Duka dan keputusan berbaiat tarekat

ENTAH sudah berapa kali, pengeras suara di masjid Jami’ itu mengabarkan kabar duka kepada warganya. Untaian kalimat Tarji’, innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun serasa menjadi kalimat sakti yang tak bisa dihindari lagi.

Sirine mobil ambulan di jalan raya, sudah tak asing bagi masyarakat, dan tak terhitung lagi. Tak hanya itu, jika mau menghitung di aplikasi WA atau medsos di HP kita, juga hampir setiap hari ada berita lelayu.

Penyebab kematian memang banyak, namun saat pandemi ini belum berahir, covid-19 menjadi bayang-bayang yang mengerikan. Sepertinya jika ada orang meninggal mendadak, banyak yang mengkaitkannya dengan Corona. Atau paling tidak akan ada yang bertanya, “Meninggal karena covid apa bukan?”.

Adalah Khamim, laki-laki yang usianya menjelang limapuluh tahun itu miris melihat situasi dan kondisi alam ini. Jika diberi usia enampuluh tiga tahun seperti Rasulullah Saw, maka ia tinggal tigabelas tahun usianya. Jika ia hanya diberi umur limapuluh dua, atau limapuluh tiga, seperti beberapa temannya, maka ia tinggal beberapa tahun lagi. Ia mencoba menghitungnya sendiri.

Kabar duka, atau berita lelayu yang ia terima, baik dari mulut ke mulut, speaker masjid, maupun medsos, membuat ia cukup berpikir keras. Berpikir tentang kematian, tentang waktu yang berputar seperti begitu cepat, tentang dosa, tentang angsuran bank yang masih lama, tentang anaknya yang masih kecil-kecil, tentang amal yang sedikit dan lain sebagainya.

Baca Juga : Pedoman Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Sesuai Prokes

Khamim merasa bukan siapa-siapa. Ia bukan Kyai bukan Ustadz, apalagi ulama. Ia hanya seorang anak manusia yang biasa, yang sedikit ilmu dan sedikit amal, tapi ingin meninggal dalam kondisi husnul khotimah, meninggal dengan akhir yang baik dan diterima amalnya disisi Alloh Azza Wajalla.

Kabar duka yang begitu sering, kalimat tarji’ yang tak pernah putus dalam hitungan hari, menjadikan laki-laki itu banyak diam, sedikit tertawa, dan mulai sering mendekati tempat ibadah. Dan subhanalloh, beberapa hari kemudian, ia silaturrahmi kepada seorang ulama Tarekat. Laki-laki itupan langsung ber-baiat kepada Mursyid Tarekat tersebut. Mulailah dia membasahi lidahnya dengan dzikir-dzikir secara itiqomah. Deretan kabar duka itu menjadikan dia mendapatkan berkah yang luar biasa.

“Aku akan ikut Mursyid alim ini. Semoga kelak aku akan terbawa menjadi rombongannya.” kata dia kepada temannya, sesaat setelah ber-baiat Tarekat. Kabar duka yang ia dengar dan ia baca, menjadikan kabar yang bukan sia-sia baginya. (*)

Tulisan sebelumnyaPedoman Lengkap Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Sesuai Prokes
Tulisan berikutnyaPemakzulan Gus Dur, Konstitusional atau Rebutan Kursi?

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini