Bolak Balik ke Markas Tentara dan Polisi

Mantan Menteri Agama Prof. KH Sjaifuddin Zuchri berpidato dalam kampanye partai NU Wilajah DKI Jakarta yang terakhir di lapangan Banteng Jumat 25 Juni 1971. Pada hari yang sama PNI kampanye di Istora Senayan. Sedangkan Partai Katolik melakukan pawai sebelum kampanye di Bok Q Kebayoran Baru, Jakarta.(KOMPAS/Pat Hendranto)

“Kang tolong jaga dieselnya ya. Jangan sampai pas kampanye nanti malah mati, ” pesan Maladi, aktivis muda Partai Kabah berpesan pada penjaga diesel saat jelang kampanye di desa selatan Kota Aji.

“Jangan khawatir Pak. Nanti akan saya jaga, ” kata si penjaga genset sekali ampliefier pengeras suara itu, namun dengan nada meremehkan.

“Jangan begitu. Ini serius. Jangan-jangan nanti kalau sudah disodori uang, kamu akan pergi juga, ” kata Maladi menekankan.

“Ah tidak. Tenang saja Pak. Kan saya sudah dibayar sama panitia, “kata lelaki bertubuh kecil itu.

Maka usai percakapan itu terjadi, acara kampanye pun  dimulai. Yel yel partai kabah itu disuarakan ratusan simpatisan pendukung yang didominasi warna hijau ini. Meski terbilang partai dengan masa terkecil, namun semangat mereka menjaga ideologi Islam masih menyala-nyala. Terik siang di tahun 1990-an itu tak jadi penghalang untuk memperjuangkan eksistensi kelompok muslim ini.

Baca juga : Sekawanan Sriti itu Terbang Mengitari Kubah Masjid….

Usai yel-yel itu disuarakan, maka giliran Maladi aktivis muda yang dipercaya oleh seniornya untuk turut serta mengobar semangat para simpatisan partai Islam ini. Anak kiai kampung di desa perbatasan dua kabupaten inipun naik panggung. Namun saat orasi akan mulai dilaksanakan, pengeras suara yang sedari awal kegiatan menyala, kini tiba-tiba mati. Benarlah apa yang diperkirakan Maladi, pasti ada yang menyabotase kampanye partai ini.

Ini bukan pertama kali kampanye berlambang rumah besar umat Islam ini disabotase dan diganggu. Sebelumnya kejadian ini, ketika kampanye partai di wilayah kecamatan di kabupaten bagian selatan, justru lebih menggemparkan. Atap seng panggung kampanye dilempar hujan batu oleh orang-orang partai beringin. Saat itu, partai beringin harap disebut partai politik.

Usai ada hujan batu di panggung kampanye inilah, Maladi yang paham langsung turun mencari provokator. Menyambar kaos kuning yang telah ada di bagian panitia kampanye, ia merangsek keluar dari arena kampanye. Dengan menggunakan kaos partai beringin itulah ia mengecoh para perusuh pelempar batu di panggung itu.

Dengan mata awasnya, ia telah mengenali dan menyekap oknum perusuh pelempar batu di panggung itu. “Rika perangkat desa arep dolanan. Ayo kita ke Koramil Polsek,” kata Maladi sambil mencengkeram kerah perusuh sambil melarikannya ke luar arena kampanye.

“Jangan Pak. Maaf,” kata oknum perangkat desa itu yang ternyata nyalinya mengecil. Padahal sedari awal Maladi sudah mempersiapkan risiko terburuk: dikeroyok masa  pendukung teman si perusuh itu. Apalagi desa tempat kampanye partai itu bukanlah desanya.

***

Masa orde baru adalah masa panas di mana, golongan Islam sering didisdeskritkan, khususnya partai politik Islam kontestan Pemilu. Segala gerak gerik aktivis partai ini akan selalu dipantau oleh kaki tangan rezim. Berbagai pembatasan terus dilakukan agar jangan sampai keberadaan organisasi sosial ataupun politik ini mengganggu para penguasa. Apalagi sudah jamak terjadi, setiap rezim seringkali terjebak pada status quo; semua dilakukan agar mereka langgeng berkuasa.

Sebenarnya Maladi hanyalah aktivis organisasi putra ormas agama tradisional di kecamatannya. Namun karena keaktivannya iapun dilirik untuk turut membantu para tokoh partai Islam di desanya untuk turut bergabung. Maka jadilah ia yang termuda di antara enam tokoh partai di desa santri perbatasan kabupaten ini.

Di desa ini pula, ia mempunyai panutan sekaligus penasihat partai politik Islam yang cukup disegani Tritunggal (Camat, Danramil, Kapolsek). Adalah Habib Ja’far Al Habsyi yang sering dimintai doa restu serta ‘bekal’ ketika turun ke medan perjuangan aktivis baik politik maupun keagamaan. Karena di masa inilah, fanatisme politik, ideologi hingga agama masih berkecamuk kencang. Maka selain adu pikir, olah kanuragan hingga ilmu hikmah lainnya harus ditimba para aktivis.

Baca Juga : Menengok Jejak Al ‘Alawiyin dari Perbatasan

Telah menjadi langganan para aktivis partai Islam satu-satunya di masa orba ini dipanggil oleh jajaran militer di Kodim ataupun Koramil. Mereka akan ditanya soal berbagai hal tentang aktivitas mereka. Karena sering bolak-balik ke satuan militer inilah, banyak di antara para tentara yang awalnya sangar malah melunak. Malah kegiatan lapor ke Kodim sudah menjadi hal biasa bagi para aktivis. Merekapun tetap setia memperjuangkan ideologi mereka meski terus dalam penekanan di lapangan.

“Kalau mau mengadakan kegiatan harus ada ijin dari kita,” kata seorang perwira polisi di hadapan Maladi.

Maladi berasa beruntung karena di tengah aktivitas organisasi putra Nahdliyin ini kemudian hadir sosok putra dari Habib Ja’far. Habib Idrus Al Habsyi muda yang baru saja pulang dari pesantren di Cilacap itu mulai turun gelanggang. Ia menjadi pendampingnya sebagai bagian dakwah organisasi yang kemudian kelak berganti sebagai organisasi pelajar. Tak hanya itu, sang putra habaib itupun turut serta masuk ke kancah politik praktis yang turut diperjuangkan istiqomah oleh abahnya.

Meski hanya perkumpulan pelajar santri, namun aktivitas organisasi pelajar ataupun putra Nahdliyin waktu itupun masih diawasi ketat. Pengajian yang notabene bukanlah aktivitas politik ataupun sarana penyebaran ideologi untuk partai politik juga harus berijin.

“Kalau setiap akan mengadakan pengajian seperti ini harus minta ijin, ya repot Bib. Bagaimana ya solusinya,” ujar Maladi kepada Idrus.

Baca Juga : Suara Tongkat Abah

“Pasti ada jalan Kang. Siapa yang berada di jalan Alloh maka pertolongan akan selalu ada,” kata sang habib muda itu. Gaya dakwahnya sangat empan papan. Ketika di kalangan santri termasuk organisasi pelajar, gaya santri dan kiai pesantren diterapkan. Sementara ketika mengisi dakwah menyangkut para aktivis partai maka dengan tegas diterangkan soal pentingnya menjaga marwah organisasi partai Islam.

Ramainya kampanye partai jelang pemilu membuat jalan-jalan kampungpun ramai dengan simbol partai politik. Tampir-tampir yang sengaja dicat bergambar simbol partai politik ramai terlihat di jalan-jalan perbatasan dua kabupaten, tak terkecuali parpol penguasa yang enggan disebut parpol. Suatu hari, gara-gara memindahkan tampir bergambar beringin dan diganti dengan tampir bergambar kabah, Idrus bersama rekannya juga digelandang dan diinterogasi aparat.

Karena dipandang sebagai bagian dari underbow partai Islam, aktivitas Maladi dan kawan-kawan organisasi pelajar nadhliyin ini menjadi incaran dan pengawasan para intel. Setiap akan mengadakan pengajian organisasi maka wajib untuk melaporkan dan meminta ijin kepada kepolisian dan koramil.

Akhirnya suatu hari Maladi datang ke Polsek untuk meminta perijinan pengajian rutin organisasi yang dipimpinnya. Namun yang didapatkan justru ia dipersulit untuk meminta ijin dan diminta untuk langsung menuju ke Polres sekaligus Kodim.

Maladi bersama kawan-kawannya memutar otak agar pengajian-pengajian rutin yang dilaksanakan itu tetap berjalan sebagaimana biasanya. Apalagi melalui organisasi-organisasi ini para kader dididik menjadi warga negara yang kritis dan punya prinsip. Dia sendiri dalam organisasi parpol yang diikutinya pernah menjadi peserta pelatihan pengkaderan partai kabah selama dua minggu di Sokaraja dengan pelatih dari Jakarta.

Baca juga : Sebelum Pesantren itu Berdiri…

Tanpa disangka ketika datang ke Polres, akhirnya ia diarahkan langsung bertemu dengan Kapolres. Namun apa mau dikata, sudah terlanjur basah maka apapun yang dihadapi harus dihadapinya. Maka iapun langsung masuk ke ruangan Kapolres sesuai ijin dari

“Mau apa Mas?” kata Kapolres itu dengan nada tegas.

“Mohon maaf Ndan sebelumnya, saya diminta Kapolsek untuk langsung ke sini terkait periijinan pengajian yang diadakan kami,” kata Maladi sambil menyodorkan selembar kertas berisi jadwal pengajian selama satu tahun lengkap dengan pengisi dan materi yang akan disampaikan.

Agak lama, sang perwira polisi itu membacanya. Setelah membaca ia menatap tajam pemuda pemohon ijin itu. Sementara si pemohon surat itu bertanya-tanya dan bersiap-siap diri berangkali akan ditanya macam-macam sebagaimana pernah dialami di tingkat polsek, Kodim.

“Cerdas juga kalian ya. Ya,  saya setuju lanjutkan,”  jawab sang polisi sambil langsung menandatangani jadwal pengajian yang telah dibuat tadi.

Diketahui kemudian, kalau sang kapolres adalah berasal dari kultur Nahdliyin di Kota Santri Sokaraja. Maka usai pulang dari Mapolres itulah, Maladi dan kawannya dengan gagah berjalan. Ia kemudian datang lagi ke Polsek untuk melaporkan hal tersebut. Melihat itu sang kapolsek dan geleng-geleng kepala sambil menepuk jidat. Dan sejak itulah, pengajian selama satu tahun yang juga diisi oleh Habib Idrus muda berlangsung aman, nyaman dan tidak perlu lagi untuk meminta ijin kepada pihak kepolisian ataupun Koramil.

Baca juga : Kiai Nekat dengan Sebelas Santri

***

Kini setelah reformasi, Maladi hanya bisa tersenyum melihat aneka macam permainan para elit politik di atas. Iapun geleng-geleng kepala, betapa di masa lampau dan sekarang sungguh berbeda tujuan dari kegiatan berpolitik dan berorganisasi.

“Kalau dulu banyak tantangan dan kita benar-benar berjuang untuk mempertahan ideologi kita. Kita menghormati guru-guru kita dalam berorganisasi ataupun berpolitik. Semua saling menjaga dan mengingatkan, bukan cakar-cakaran memperebutkan kursi,” kata Maladi yang kini memilih menjadi petani dan bergelut dengan matari.

Di matanya dan di pikirannya kenangannya berjuang menjadi ‘pemuda kabah’ bersama putra-putra Habib Ja’far Al Habsyi masih terngiang jelas. Seperti rasanya baru kemarin, ia menjalani perjuangan menggalang massa, diawasi dan dikejar intel, bolak balik ke markas polisi dan tentara.

“Semoga putera-puteri dan cucu sang habib bisa meneruskan perjuangan sang habib. Semoga manfaat dan tak terbawa arus,” gumamnya setelah mendengar sang cucu Habib Ja’far Al Habsyi atau puteri Habib Idrus AL Habsyi berhasil meraih kursi wakil rakyat di kabupaten ini. (Susanto-)

Tulisan sebelumnyaBertahan 56 Tahun, Apa Rahasia MI Ngasinan?
Tulisan berikutnyaManfaatkan Pekarangan, Enam PAC Muslimat Berlomba Jadi Yang Terbaik. Kecamatanmu Masuk Nggak?

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini