Khutbah Jumat: “Ketika Air Menjadi Nikmat yang Kita Lupakan”

Khutbah Jumat : Merawat Sabar di Tengah Bencana Kekeringan
Khutbah Jumat : Merawat Sabar di Tengah Bencana Kekeringan

 

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا، وَجَعَلَ مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا .أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ. أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ.

Jamaah Sholat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Salah satu nikmat yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah air. Setiap pagi kita berwudlu dengan air. Kita minum ketika haus, memasak, mandi, mencuci, dan membersihkan rumah dengan air. Karena selalu tersedia, sering kali kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, ketika air mulai sulit ditemukan, barulah kita menyadari betapa mahal nilainya.

Hari-hari ini, sebagian saudara kita sedang menghadapi kekeringan. Ada yang harus menunggu bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada petani yang hanya dapat memandang tanahnya yang mengering sambil berharap hujan segera turun. Keadaan itu seharusnya menjadi pelajaran bagi kita yang masih diberi kecukupan air. Allah Swt. berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Artinya: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”(QS. Al-Anbiya’: 30)

Air bukan sekadar sesuatu yang kita gunakan. Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, manusia tidak dapat bertahan, tanaman tidak tumbuh, dan kehidupan akan perlahan-lahan melemah. Oleh karena itu, ketika kita membuka keran dan air mengalir, jangan hanya melihat air sebagai sesuatu yang biasa. Pandanglah ia sebagai nikmat Allah. Allah Swt berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
Artinya: “Pernahkah kalian memperhatikan air yang kalian minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kamilah yang menurunkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 68–69)

Jamaah Sholat Jumat rahimakumullah,
Manusia mampu membangun gedung yang tinggi, menciptakan teknologi yang canggih, dan mengelola berbagai sumber daya. Namun, ketika Allah menahan hujan, kita kembali menyadari bahwa manusia sangat terbatas.

Kita dapat menggali sumur dan membangun waduk, tetapi kita tidak mampu menciptakan hujan. Kita dapat membeli air, tetapi kita tidak dapat membeli nikmat Allah ketika Dia berkehendak mencabutnya. Maka, jangan menunggu air mengering untuk belajar menghargai air.

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat Allah dengan bijaksana. Rasulullah Saw bahkan mengingatkan agar kita tidak berlebihan menggunakan air.

Suatu ketika sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash berwudlu dan menggunakan air secara berlebihan, Rasulullah Saw bersabda:

مَا هَذَا السَّرَفُ؟
“Apakah ini berlebihan?”

Kemudian Sa’ad bertanya kepada Rasulullah, “Apakah dalam berwudlu juga ada sikap berlebihan?” Rasulullah Saw menjawab:

نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
“Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)

Betapa indah ajaran Islam. Bahkan ketika air tersedia melimpah, kita tetap diajarkan untuk tidak berlebihan. Maka, marilah kita mulai dari hal-hal sederhana: menutup keran setelah digunakan, menggunakan air secukupnya, tidak membuang-buang air, serta menjaga sumber-sumber air di sekitar kita. Kemampuan membeli air bukan alasan untuk menyia-nyiakannya. Sebab air adalah nikmat Allah sekaligus amanah yang harus kita jaga.

Jamaah Sholat Jumat yang dimuliakan Allah,
Syukur juga tidak cukup berhenti pada diri sendiri. Jika hari ini Allah memberi kita kecukupan air, sementara ada saudara kita yang kekurangan, maka kecukupan itu semestinya melahirkan kepedulian. Allah Swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Bagi kita, mungkin satu jeriken air terlihat sederhana. Tetapi bagi keluarga yang sedang mengalami kekeringan, satu jeriken air dapat berarti air untuk minum, memasak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Oleh karena itu, jika ada saudara kita yang membutuhkan air bersih, bantulah semampu kita. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak. Sedikit bantuan yang diberikan dengan ketulusan dapat menjadi pertolongan besar bagi orang lain. Kesalehan tidak hanya terlihat ketika dahi kita menyentuh sajadah, tetapi juga ketika tangan kita terulur membantu sesama.

Jamaah Sholat Jumat rahimakumullah,
Kekeringan juga mengajak kita melihat lebih jauh: bagaimana kita memperlakukan bumi yang Allah amanahkan? Allah Swt. berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Oleh karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa hujan belum turun?” Sesekali kita juga perlu bertanya, “Apa yang telah kita lakukan terhadap bumi?” Apakah kita menjaga sungai? Menjaga mata air? Menanam dan merawat pohon? Mengurangi sampah? Menggunakan air dengan bijaksana?

Memohon hujan adalah ibadah. Namun, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab. Kita menengadahkan tangan kepada Allah, tetapi kaki kita tetap harus berpijak di bumi. Kita berdoa agar hujan turun, sekaligus berikhtiar menjaga tanah, sungai, hutan, dan sumber air agar kehidupan tetap berlangsung.

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Pada akhirnya, kekeringan mengajarkan kepada kita satu pelajaran yang sangat dalam yaitu manusia ternyata sangat lemah. Kita mampu menciptakan banyak hal, tetapi kita tidak mampu menciptakan hujan. Kita mampu membeli banyak kebutuhan, tetapi kita tidak mampu membeli nikmat Allah ketika Dia berkehendak mencabutnya. Allah Swt. berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
Artinya: “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagi kalian?” (QS. Al-Mulk: 30)

Maka, jangan menunggu air menjadi sulit untuk belajar bersyukur. Sebelum air mengering, belajarlah menjaga. Sebelum saudara meminta, belajarlah berbagi. Sebelum alam rusak, belajarlah merawat.

Semoga setiap tetes air yang kita nikmati menjadi pengingat bahwa di balik nikmat itu ada kasih sayang Allah yang harus kita syukuri dan amanah yang harus kita jaga.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيْئًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ. اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مِيَاهِنَا، وَفِي أَرْضِنَا، وَفِي زُرُوْعِنَا، وَفِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، اَلْحَافِظِيْنَ لِأَمَانَاتِكَ، الرَّاحِمِينَ بِعِبَادِكَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَوْلَادَنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَاحْفَظْ بَلَدَنَا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْفِتَنِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.