PURWOKERTO, nubanyumas.com – Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, menegaskan mahasiswa harus memiliki dua karakter utama, yakni smart dan moderat. Kecerdasan akademik, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan sikap moderat dalam menghadapi keberagaman agama, budaya, dan kehidupan kebangsaan.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Ridwan saat membuka Workshop Penguatan Wawasan Moderasi Beragama dan Kebangsaan bagi Mahasiswa sekaligus Launching SIMBA (Sistem Informasi Moderasi Beragama) UIN Saizu Purwokerto di Auditorium Utama, Rabu (7/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua LPPM UIN Saizu Purwokerto Prof. Ansori serta menghadirkan Sekjen PP ISNU Wardi Taufik, Dosen UIN Walisongo Semarang Dr. Fakhrudin Aziz, dan Kepala Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila UIN Saizu Dr. Turhamun.
Prof. Ridwan mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari program penguatan wawasan moderasi beragama dan kebangsaan bagi tiga entitas utama perguruan tinggi, yakni dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. “Dosen sudah kita laksanakan, tenaga kependidikan juga sudah, dan sekarang mahasiswa,” tegasnya.
Menurutnya, karakter smart tidak cukup hanya ditunjukkan melalui capaian akademik. Mahasiswa perlu membangun tradisi membaca, berdiskusi, menguji gagasan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta menguasai keterampilan digital dan global. “Sebagai masyarakat akademik, tidak ada kebanggaan kecuali kebanggaan akademik. Salah satu karakteristik dasar masyarakat akademik adalah memiliki reading habit,” jelasnya.
Prof. Ridwan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), sebagai pengganti kemampuan berpikir. AI, kata dia, harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung proses akademik, sementara kemampuan analisis, berpikir kritis, adaptif, inovatif, dan responsif tetap harus dimiliki mahasiswa.
“AI harus ditempatkan sebagai instrumen. Kalau hanya mengandalkan itu tanpa ada analisis, sebaiknya bukan menjadi subjek dalam pengembangan pengetahuan, tetapi bisa menjadi korban,” tegasnya. Karena itu, kecakapan digital harus dibarengi kemampuan mahasiswa dalam menyaring informasi dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri.
Sementara karakter moderat, lanjut Prof. Ridwan, berkaitan dengan sikap mahasiswa dalam menjalani kehidupan bersama di tengah keberagaman. Moderasi beragama antara lain tercermin melalui sikap cinta tanah air, anti-kekerasan, adaptif terhadap budaya lokal, dan apresiatif terhadap keberagaman. “Kalau smart itu lebih kepada mind, aspek pengembangan intelektual. Sedangkan moderat itu pada aspek attitude,” tuturnya.
Kepala Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila UIN Saizu Purwokerto, Dr. Turhamun, menambahkan mahasiswa peserta workshop memiliki posisi strategis dalam menggerakkan moderasi beragama. Ia menyebut peserta telah memiliki “tiket” untuk menjadi brand ambassador moderasi beragama UIN Saizu, dengan konsekuensi memahami, menghayati, dan mengimplementasikan nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Turhamun berharap nilai-nilai moderasi tidak berhenti di ruang workshop, tetapi dibawa mahasiswa ke lingkungan kampus, organisasi kemahasiswaan, media sosial, dan masyarakat. Prof. Ridwan pun menegaskan mahasiswa yang smart, moderat, berpikir kritis, dan mampu menghargai keberagaman menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan kebangsaan Indonesia.












