Khutbah Jumat: Merawat Sabar di Tengah Bencana Kekeringan
Khutbah I
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ المُمَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Siang hari ini, di tengah berbagai kesibukan dan ujian kehidupan, Allah masih menggerakkan hati dan langkah kaki kita untuk hadir di masjid yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Kanjeng Nabi Muhammad Saw., keluarga beliau, para sahabat, serta kita semua pengikutnya hingga akhir zaman.
Dari atas mimbar ini, saya berwasiat untuk diri saya pribadi dan mengajak jamaah sekalian, mari kita terus berikhtiar memperbaiki kualitas ketakwaan kita. Kita jalankan apa yang diperintahkan Allah, dan kita tinggalkan apa yang dilarang-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Beberapa waktu belakangan ini, kita menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana daerah kita di Banyumas sedang diuji dengan musim kemarau yang cukup panjang. Di mana-mana sumur warga mulai surut, bahkan banyak yang sudah kering sama sekali. Air bersih yang biasanya tinggal kita putar kerannya di rumah, sekarang harus dicari, diangkut, bahkan diantar dari tempat yang jauh.
Sawah-sawah kering, tanah pecah-pecah, dan pekerjaan rumah tangga menjadi terasa jauh lebih berat hanya untuk mengurusi air minum, memasak, atau sekadar wudu dan mandi.
Memang begitulah kita sebagai manusia. Ketika air melimpah seiap hari, kita sering lupa. Kita anggap air itu hal biasa yang akan selalu ada. Tapi begitu sumber airnya ditarik oleh Allah, barulah kita sadar: ternyata tanpa air, kita ini sungguh makhluk yang sangat lemah.
Allah Swt. pernah mengingatkan kita semua dalam Surah Al-Mulk ayat 30:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
Katakanlah: “Coba pikirkan, jika air kalian mendadak mengering dan masuk ke dalam bumi, siapa lagi yang bisa mendatangkan air mengalir untuk kalian?”
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Ayat ini menyentuh hati kita semua. Air itu bukan semata-mata karena kita sudah pasang sumur bor atau beli mesin pompa yang mahal. Air itu murni kemurahan dan rahmat dari Allah Swt. Kalau Allah menahan air itu di dalam tanah, tidak ada mesin atau teknologi apa pun yang sanggup mengeluarkannya kalau Allah belum mengizinkan.
Maka, di saat daerah kita sedang dilanda ujian kekeringan seperti sekarang, sikap terbaik apa yang mesti kita perbuat?
Yang pertama, mari kita merawat kesabaran dengan memperbanyak istighfar.
Di masa-masa prihatin ini, mari kita hindari sikap saling menyalahkan. Kesulitan air ini adalah teguran yang lembut dari Allah supaya kita mau berhenti sejenak. Mungkin selama ini kita kurang bersyukur, atau sering membuang-buang air tanpa sadar.
Istighfar itu bukan tanda kita putus asa, melainkan cara kita mengetuk pintu rahmat Allah. Ketika kita merendahkan hati di hadapan-Nya dan memohon ampun, Allah berjanji akan membukakan jalan keluar dan menurunkan keberkahan dari langit.
Yang kedua, mari kita rawat solidaritas dan kepedulian antar sesama.
Ujian kemarau ini bukan cuma menguji ketahanan fisik kita, tapi juga menguji rasa kemanusiaan dan keimanan kita. Jangan sampai di tengah kelangkaan air ini, kita jadi orang yang egois—mencari air hanya untuk diri sendiri, sementara tetangga di sebelah rumah kebingungan mencari air sekadar untuk minum anak-anaknya.
Nabi Muhammad Saw. pernah ditanya oleh sahabat Sa’ad bin ‘Ubadah: “Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?”
Rasulullah Saw. menjawab singkat:
سَقْيُ الْمَاءِ
“Memberikan air.” (HR. Abu Dawud)
Berbagi sedikit air yang kita punya kepada tetangga, membantu mengangkutkan air untuk orang tua, atau ikut menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang kekeringan, itu nilainya sangat luar biasa di mata Allah. Boleh jadi, dari setetes air yang kita berikan kepada saudara kita yang kehausan itulah, Allah ridha lalu menghentikan kemarau ini.
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Mari kita mulai langkah-langkah kecil dan nyata ini dari diri kita sendiri. Di rumah masing-masing, mari kita pakai air sehemat mungkin. Jangan buang-buang air saat wudu, mandi, atau mencuci. Di lingkungan, mari kita saling tengok tetangga kanan dan kiri. Jika ada yang kesulitan air, mari kita bantu bersama-sama. Dan di dalam doa-doa kita, khususnya sehabis salat, mari kita perbanyak memohon kepada Allah Swt. agar berkenan mengasihi tanah kita dan segera menurunkan hujan yang membawa berkah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيْهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالمِحَنَ، وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آَجِلٍ.
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ المَيِّتَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penulis: H Ahyar
(Redaktur nubanyumas.com)
Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA: Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.












