Beranda Fragmen

Kripik Sale untuk Ahda

Sepotong cemilan dari rumah, sebuah surat kecil, dan niat sederhana seorang santri. Dari sana, seorang ayah belajar bahwa tumbuhnya anak kadang datang diam-diam, jauh dari rumah, melalui hal-hal yang tak pernah kita duga.

Ada kalanya seorang anak mengajari orang tuanya sesuatu tanpa pernah bermaksud mengajari. Bukan melalui nasihat. Bukan pula melalui kata-kata besar tentang masa depan. Kadang, cukup melalui selembar surat tulis tangan dan permintaan yang sangat sederhana: “Bawakan kripik sale buatan Eyang Mama.”

***

Ahda, nama lengkapnya Isyqi Ahda Zuhadika, adalah anak pertama kami. Kini ia duduk di kelas VIII (delapan) SMP Islam Andalusia sekaligus menjadi santri Kelas Tahfidz di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Leler, Randegan, Banyumas, yang diasuh KH. Zuhrul Anam Hisyam.

Ahad, 13 September 2026, adalah jadwal sambangan. Seperti biasanya, hari itu menjadi semacam hari raya kecil bagi kami. Saya, istri, Naura dan Alya (dua adiknya Ahda), Lik Lisah dan Mbah Putri -Komsiti, ibu dari istri saya- berangkat bersama menuju pondok. Bagi Mbah Putri, sambangan kali ini juga menjadi kesempatan bertemu Ahda sekaligus berpamitan sebelum berangkat umrah.

Ohya. Beberapa hari sebelumnya, surat Ahda sudah lebih dulu sampai. Ditulis tangan melalui ustadz pendamping, sebagaimana surat-surat santri pada umumnya. Isinya pun tak jauh dari dunia anak-anak yang sedang rindu rumah: mie goreng, Pop Mie, kecap, saus, dan, bengbeng share it, tisu beberapa jajanan yang biasa ia minta.

Tetapi ada satu permintaan yang agak berbeda; Kripik sale.

Bukan sembarang kripik sale. Ahda meminta yang dibuat oleh Eyang Mama, panggilan untuk neneknya dari pihak saya. Maka, di antara barang-barang sambangan yang kami siapkan, terselip sekitar lima bungkus kecil kripik sale buatan tangan ibunya Mbah Putri.

Saya kira, ya sudah. Kripik sale adalah kripik sale. Paling nanti dimakan Ahda sendiri bersama teman-temannya. Bukankah begitulah lazimnya anak pesantren ketika mendapat kiriman dari rumah? Ternyata saya keliru.

Setelah barang diterima dan kami bertemu, Ahda tiba-tiba bercerita tentang alasan ia meminta kripik sale itu. Ceritanya sederhana, tetapi entah mengapa membuat saya terdiam cukup lama. Ahda akan menghadapi ujian lima juz season 2. Artinya, jika ujian itu selesai, ia akan menempuh ujian hafalan hingga 10 juz Al-Qur’an.

Saya bersyukur. Tentu. Tetapi ternyata bukan hanya itu yang membuat hati saya hangat. Kripik sale itu tidak sepenuhnya untuk dirinya.

Ahda mengatakan, ia ingin membawa kripik sale buatan Eyang Mama sebagai teman ngemil untuk santri-santri yang nantinya menjadi mustami’, mereka yang akan menyimak hafalan Al-Qur’annya dalam proses ujian atau sema’an. Lima bungkus kecil itu rupanya bukan sekadar makanan kiriman dari rumah. Ia telah membayangkan ada teman-teman yang akan duduk menyimak hafalannya, dan ia ingin menyiapkan sesuatu untuk mereka.

***

Saya mendadak diam.

Di hadapan saya bukan lagi sekadar anak yang beberapa hari sebelumnya menulis daftar permintaan makanan. Ada seorang anak yang sedang belajar mempersiapkan sebuah tanggung jawab—dan dalam persiapan itu, ia mengingat orang lain.

Mungkin bagi sebagian orang, ini perkara kecil. Hanya kripik sale. Hanya lima bungkus. Tidak mahal, tidak mewah, bahkan mungkin akan habis dalam beberapa menit setelah sema’an selesai. Tetapi bagi saya, justru di situlah letak sesuatu yang besar.

Sebab pendidikan tidak selalu tampak dalam nilai rapor, jumlah sertifikat, atau berapa banyak juz yang berhasil dihafalkan. Ada pendidikan yang jauh lebih sunyi: ketika seorang anak mulai berpikir, “Aku akan diuji, tetapi ada orang lain yang akan membantuku melewati ujian ini. Apa yang bisa kuberikan kepada mereka?”

Bukankah itu salah satu ruh kehidupan santri?

Bahwa mencari ilmu tidak berhenti pada kemampuan menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri. Ada adab kepada guru, penghormatan kepada teman, kesediaan berbagi, dan kesadaran bahwa keberhasilan seseorang hampir selalu berdiri di atas kebaikan banyak orang.

Ahda mungkin belum mampu menjelaskan semua itu dengan bahasa yang rapi. Ia mungkin hanya berpikir sederhana: teman-teman yang menyimak hafalannya nanti perlu diberi cemilan. Tetapi sering kali nilai-nilai besar memang tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan tanpa banyak teori.

Saya kemudian teringat perjalanan hafalan Ahda sejak sekolah dasar. Ada hafalan yang sudah dibangun sejak SD dan kini, insyaallah, menjadi bekal ketika ia memasuki fase pendidikan berikutnya. Di kelas Tahfidz SMP, hafalan itu seperti menemukan ruang untuk tumbuh lebih cepat dan lebih terarah.

Memasuki ujian 10 juz di tahun kedua tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi sebagai ayah, saya justru merasa ada hal lain yang tak kalah penting: hafalan itu mulai memiliki teman seperjalanan berupa kesadaran untuk berbagi dan menghargai orang lain.

Al-Qur’an, pada akhirnya, semoga tidak hanya tinggal sebagai hafalan di kepala. Ia diharapkan perlahan turun menjadi sikap, menjadi kebiasaan, menjadi cara memandang orang lain. Dan mungkin, salah satu bentuk kecilnya adalah kripik sale.

Kripik yang dibuat Eyang Mama. Dibawa dari rumah. Ditulis dalam surat seorang santri. Disiapkan untuk teman-teman yang akan menyimak hafalannya. Saya tidak tahu apakah Ahda menyadari bahwa permintaan kecilnya hari itu membuat ayahnya belajar banyak hal. Saya hanya berdiri sebagai orang tua yang diam-diam bersyukur.

Alhamdulillah.

Penulis:
Rujito,
wali santri Ponpes At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia.