Beranda Sosok

Mengenang Almarhum Kiai Ma’mun, “Kiai Ahli Sema’an Al-Qur’an” dari Purwokerto

Almaghfurlah KH Ma'mun Al Kahfi Al Hafidz (tengah) saat sowan almaghfurlah KH Musalim Ridlo (kanan) diderekke penulis Maulana Ahmad Husen (kiri duduk lesehan) di ndalem Mangunjaya, Purwokerto Timur. (dokumentasi istimewa)

Oleh: Maulana Khusen*

Ada banyak cara seseorang mengabdi kepada Al-Qur’an. Ada yang menghafalnya, mengajarkannya, menulis tafsirnya, mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an, atau berdakwah dengan ayat-ayatnya. Namun, ada pula orang yang memilih jalan yang tampak sederhana, tetapi justru membutuhkan keistiqamahan luar biasa: menjaga Al-Qur’an dengan sema’an dari pekan ke pekan, dari tahun ke tahun.

Sosok itu adalah almarhum Kiai Ma’mun. Bagi saya dan banyak orang yang pernah berinteraksi dengannya, Kiai Ma’mun bukan sekadar seorang kiai yang pandai membaca Al-Qur’an. Ia adalah sosok yang sepanjang hidupnya seperti menempatkan Al-Qur’an sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya. Karena itu, ketika mengenang beliau, sebutan yang paling tepat barangkali adalah “Kiai Ahli Sema’an Al-Qur’an” dari Purwokerto.

Sema’an bagi Kiai Ma’mun bukan sekadar kegiatan membaca Al-Qur’an di hadapan jamaah. Sema’an adalah jalan pengabdian. Ia menjadi cara beliau menjaga hubungan dengan Al-Qur’an sekaligus mengajak masyarakat untuk ikut dekat dengannya. Dari masjid ke masjid, dari satu majelis ke majelis lainnya, beliau merawat tradisi itu dengan ketekunan yang bagi saya sulit dicari padanannya.

Kiai Ibnu Mukti, Pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Pabuaran, pernah mengenang bagaimana Kiai Ma’mun pada masa-masa awal berdirinya pesantrennya rutin menggelar sema’an Al-Qur’an setiap pekan. “Dulu waktu awal-awal pondok Al Amin berdiri, beliau yang secara rutin setiap pekan sema’an Al-Qur’an di Pabuaran,” tuturnya. Ia bahkan melihat keberkahan dari ikhtiar tersebut dalam perjalanan pesantrennya hingga kini.

Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa jejak Kiai Ma’mun dalam menjaga Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru berlangsung beberapa tahun. Setelah pulang dari Brunei Darussalam pada 1996, tempat beliau pernah menjadi imam dan pengajar Al-Qur’an, aktivitas sema’an semakin intens beliau jalankan. Ibu Nyai Markhamah, istri beliau, mengenang bahwa sejak sekitar 1997 Kiai Ma’mun mulai rutin mengisi sema’an di PP Al Amin Pabuaran, kemudian pada 1998 berkembang di Masjid Baitul Mutaqien Rejasari dan Masjid Al Hidayah Karangsuci.

Bayangkan, lebih dari dua dekade seseorang menjalani rutinitas yang sama: datang, duduk, membuka mushaf, membaca Al-Qur’an dengan tartil, lalu menyampaikan pelajaran kepada jamaah. Dalam ukuran manusia modern yang mudah bosan dan cepat berpindah aktivitas, ketekunan seperti itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Yang menarik, Kiai Ma’mun tampaknya tidak pernah menjadikan sema’an sebagai perlombaan untuk segera mengkhatamkan Al-Qur’an. Dalam majelis yang beliau asuh, biasanya hanya satu juz yang dibacakan. Yang dikejar bukan kecepatan, melainkan kualitas bacaan: tartil, fasih, dan benar. Setelah itu, jamaah mendapatkan tambahan pemahaman melalui kajian tafsir ayat-ayat pilihan yang dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat.

Di sinilah saya melihat karakter dakwah Kiai Ma’mun. Ia tidak sekadar ingin jamaah mendengar Al-Qur’an, tetapi juga mengajak mereka memahami pesan Al-Qur’an. Membaca satu juz dengan baik, kemudian mengambil pelajaran dari ayat-ayatnya, menurut saya jauh lebih menggambarkan semangat pendidikan Al-Qur’an daripada sekadar mengejar target khatam dalam waktu singkat.

Majelis-majelis sema’an yang beliau rintis pun tersebar di sejumlah tempat. Di antaranya Masjid Al Istiqomah Kauman Lama Purwokerto Lor, Masjid Mbah Balong Karangsalam Kidul Kedungbanteng, Masjid Al Arofat Kober, Masjid Al Istianah Rejasari, serta beberapa masjid lainnya. Dari satu tempat ke tempat lain, pola pengabdiannya relatif sama: Al-Qur’an, ketekunan, dan kedisiplinan.

Bahkan, bagi saya, salah satu keteladanan Kiai Ma’mun yang paling sulit ditiru justru bukan kemampuan membaca Al-Qur’annya. Melainkan kedisiplinannya.

Beliau dikenal sangat tepat waktu. Majelis sema’an Ahad pagi di Masjid Baitul Mutaqien Rejasari, misalnya, dimulai pukul 06.00. Kiai Ma’mun hadir tepat waktu, membaca satu juz hingga sekitar pukul 07.00, kemudian dilanjutkan dengan kajian tafsir sampai sekitar pukul 07.30. Tidak ada kebiasaan “jam karet” yang sering dianggap lumrah dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Lebih dari itu, beliau juga tidak mudah meliburkan majelis. Ada tugas ke luar kota, pulang malam, atau kesibukan lainnya, selama kondisi memungkinkan, sema’an tetap dijalankan. Seolah-olah ada komitmen yang tidak boleh diganggu: pekan ini harus bertemu dengan Al-Qur’an.

Keteguhan semacam itu terlihat pula di Masjid Al Hidayah Karangsuci. Jamaah yang hadir tidak selalu banyak. Kadang hanya sekitar sepuluh orang dan mayoritas merupakan jamaah sepuh. Namun, jumlah jamaah tidak pernah menjadi ukuran bagi Kiai Ma’mun untuk hadir atau tidak. Selepas Isya pada malam Jumat, beliau tetap datang dan membaca Al-Qur’an.

Bagi saya, di sinilah letak keikhlasan seorang pendakwah. Ketika panggung besar, jamaah ribuan, atau publikasi tidak menjadi ukuran utama, maka yang tersisa adalah pengabdian itu sendiri. Kiai Ma’mun datang bukan karena banyaknya orang yang hadir, tetapi karena ada amanah Al-Qur’an yang harus dijaga.

Ibu Ipung, salah seorang jamaah, mengenang bahwa Kiai Ma’mun baru terhenti dari rutinitas sema’an di Masjid Al Hidayah Karangsuci setelah kondisi kesehatan beliau mulai menurun sekitar 2024. Jika ditarik dari perjalanan sebelumnya, berarti ada sekitar 26 tahun beliau istiqamah menjaga majelis tersebut. Di Masjid Baitul Mutaqien Rejasari dan Masjid Al Istiqomah Kauman Lama, pengabdian itu bahkan berlangsung lebih dari dua puluh tahun.

Angka-angka tersebut sebenarnya tidak terlalu penting. Yang jauh lebih penting adalah makna di baliknya: ada seorang manusia yang selama puluhan tahun menyediakan waktu hidupnya untuk Al-Qur’an.

Kiai Ma’mun juga tidak hanya menjaga Al-Qur’an melalui sema’an. Di PPTQ Al Husaini Rejasari Purwokerto Barat, beliau mengajar santri yang datang dari berbagai daerah, mulai dari Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Ciamis, hingga Lampung. Bagi beliau, para santri justru menjadi bagian dari ikhtiar menjaga Al-Qur’an.

“Para santri sejatinya adalah media saya menjaga Al-Qur’an. Lewat ayat-ayat yang dibaca dan disetorkan setiap hari, saya jadi tidak lepas dari membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Santri itu termasuk penolong saya,” demikian rendah hati beliau pernah menyampaikan.

Kalimat tersebut bagi saya sangat dalam. Seorang kiai yang mengajar Al-Qur’an ternyata tidak merasa dirinya semata-mata sebagai guru. Ia justru menganggap santri sebagai orang-orang yang membantu dirinya tetap dekat dengan Al-Qur’an. Ada kerendahan hati yang kuat di sana.

Pesantren yang beliau asuh juga memiliki tradisi yang tidak biasa. Pada bulan Ramadan, digelar salat tarawih dan witir dengan bacaan penuh 30 juz. Lagi-lagi, Al-Qur’an menjadi pusat kehidupan pesantren.

Kecintaan Kiai Ma’mun kepada Al-Qur’an juga terlihat dari penghormatannya kepada para guru dan pesantren. Beliau kerap hadir dan diminta membaca Al-Qur’an dalam berbagai acara akhirussanah di sejumlah pesantren, seperti Ihya Ulumudin Cilacap, Raudlatul Qur’an Tinggarjaya, Al Masruriyah Baturraden, Raudlatut Tholibin Sirau Banyumas, dan tempat-tempat lainnya.

Dakwah Qur’aniyah beliau juga menjangkau ruang yang lebih luas. Kajian tahsin Al-Qur’an pernah beliau isi melalui RRI Purwokerto. Pembinaan tilawatil Qur’an juga dilakukan di berbagai lembaga pendidikan, termasuk Al Irsyad Purwokerto serta sejumlah SMP dan SMA Negeri di Purwokerto. Beliau juga dipercaya menjadi dewan hakim dalam berbagai event Musabaqah Tilawatil Qur’an, baik tingkat pelajar maupun umum di Jawa Tengah.

Di luar itu, Kiai Ma’mun juga sering dipercaya menjadi imam salat dalam berbagai kegiatan kedinasan, termasuk kegiatan salat tarawih keliling yang diikuti pejabat Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Jika seluruh jejak itu disatukan, kita akan menemukan satu benang merah yang sangat jelas: hampir seluruh ruang pengabdian Kiai Ma’mun selalu bermuara pada Al-Qur’an.

Mungkin karena itulah, ketika saya berkesempatan menemani beliau—baik ketika berada di RRI Purwokerto, sowan ke kantornya di Kementerian Agama Banyumas, maupun berkunjung ke ndalem beliau—ada satu pemandangan yang sangat akrab: mushaf Al-Qur’an di tangan dan bacaan Al-Qur’an yang senantiasa terdengar dari lisannya.

Saya kemudian memahami bahwa menjaga Al-Qur’an tidak selalu harus dilakukan dengan cara-cara yang spektakuler. Kadang ia cukup diwujudkan dengan datang tepat waktu setiap pekan, membuka mushaf, membaca dengan tartil, mengajarkan kepada santri, mendengarkan bacaan jamaah, membimbing anak-anak muda, atau duduk bersama masyarakat untuk menjelaskan makna sebuah ayat.

Kiai Ma’mun telah menunjukkan itu selama puluhan tahun.

Kini, ketika beliau telah berpulang, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang seorang kiai yang fasih membaca Al-Qur’an. Yang tertinggal adalah tradisi yang telah beliau rawat, santri yang telah beliau didik, jamaah yang telah beliau temani, dan majelis-majelis Al-Qur’an yang pernah beliau hidupkan.

Maka, mengenang Kiai Ma’mun bukan semata-mata mengenang seorang tokoh agama dari Purwokerto. Lebih dari itu, kita sedang mengenang seorang penjaga Al-Qur’an melalui sema’an—seorang kiai yang mengajarkan bahwa istiqamah sering kali tidak terdengar keras, tetapi justru tampak dalam kesediaan melakukan hal yang sama, baik ketika jamaah ramai maupun hanya tersisa beberapa orang, selama puluhan tahun.

Barangkali itulah warisan terbesar Kiai Ma’mun. Bukan sekadar banyaknya ayat yang telah beliau baca, melainkan berapa banyak orang yang kemudian ikut mencintai Al-Qur’an karena pernah mendengar, belajar, dan berjalan bersama beliau. Dan dari Purwokerto, jejak itu semoga terus hidup.

*) Penulis adalah alumni PPTQ Al Husaini II, Rejasari, Purwokerto Barat, saat ini menjadi pengajar di MI Islam Sambas Purbalingga.