Beranda Opini

MASJID BAITUL MU’MIN KAUMAN SOKARAJA: 125 TAHUN MENJADI RUMAH ILAHI DAN RUMAH WARGA

Oleh: Akhmad Saefudin*

Di jantung Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, berdiri sebuah bangunan yang sudah 125 tahun menemani denyut nadi warga. Itulah Masjid Besar Baitul Mu’min Kauman Sokaraja, masjid tertua di wilayah setempat yang dibangun pada tahun 1901.

Dari Kawedanan ke Kota Santri
Sokaraja dulu bukan sekadar nama kecamatan. Pada zamannya ia pernah jadi kadipaten dan pusat kawedanan. Tata kotanya masih menyimpan jejak masa itu. Karena peran besarnya dalam penyebaran Islam, Sokaraja dijuluki “kota santri”. Julukan itu lahir bukan tanpa alasan. Salah satu buktinya adalah Masjid Baitul Mu’min yang sejak awal jadi pusat ngaji para santri, ulama, dan kiai.

Dulu, masjid ini dibangun oleh pemerintah setempat. Sokaraja memang pusat ilmu agama. Anak-anak mondok, kiai ngaji keliling, dan suara bedug jadi penanda waktu warga. Kini pengelolaannya diamanahkan ke masyarakat. Meski pernah masuk daftar cagar budaya, status itu hilang karena surat penetapannya tercecer. Sejak itu, masjid lebih banyak mengandalkan swadaya jamaah dan infak warga untuk bertahan dan berkembang.

Keaslian 1901 yang Masih Terjaga
Kalau dilihat dari depan, Masjid Baitul Mu’min tampak seperti masjid pada umumnya. Tapi begitu melangkah ke dalam, kita seperti dibawa kembali ke tahun 1901. Arsitektur aslinya masih sangat terjaga. Bentuk fisik dan interiornya belum banyak berubah. Inilah kekayaan sejarah yang sulit dicari di masjid-masjid modern.

Tentu ada renovasi agar masjid tetap nyaman. Tahun 2001 dan 2003, jamaah bersama warga dan takmir bergotong royong membangun teras untuk menambah luas. Lalu tahun 2008, bagian luar direnovasi: ditambah kanopi melingkar dan gapura megah. Tujuannya jelas: bagian luar dibuat lebih modern dan teduh, tapi bagian dalam tetap orisinal sebagai saksi sejarah. Sebagaimana disampaikan H. Badrun Ibnu Mansur, salah satu sesepuh takmir, “Kami ingin masjid ini megah tanpa menghilangkan jiwanya.”

Masjid Bukan Sekadar Tempat Sholat
Baitul Mu’min Kauman bukan hanya rumah ibadah. Ia adalah “rumah warga”. Di sini ada perpustakaan masjid untuk menumbuhkan minat baca anak-anak dan santri. Ada majalah dinding karya remaja masjid yang berisi artikel dan informasi Islami. Dulu, serambi masjid ini juga jadi tempat rembug warga saat ada hajatan atau masalah kecil.

Inilah kearifan lokal yang diajarkan para ulama dulu: masjid adalah pusat pendidikan, pusat sosial, dan pusat silaturahmi. Fungsi itu kini perlu kita hidupkan kembali. Di era gawai, anak-anak lebih betah menatap layar daripada mengaji di serambi. Tugas kita bersama menjaga agar masjid tetap ramai oleh lantunan ayat, bukan hanya ramai saat Jumat.

Pekerjaan Rumah Kita Bersama
Tantangan Masjid Baitul Mu’min hari ini ada dua. Pertama, mengurus kembali status cagar budaya agar mendapat perhatian dan perlindungan dari pemerintah. Kedua, menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat, terutama generasi muda.

Masjid ini milik kita semua. 125 tahun ia berdiri dengan keringat para pendahulu. Sekarang giliran kita yang merawat. Dengan infak, tenaga, dan ide-ide kreatif dari remaja masjid, insyaallah Masjid Baitul Mu’min Kauman akan terus menjadi mercusuar Islam di Sokaraja.

Mari makmurkan masjid, karena masjid yang makmur melahirkan umat yang berakhlak.

*Penulis adalah Wakil Ketua LTMNU Kabupaten Banyumas