Oleh : Supangat Rudianto*
Jujur saja saya kurang memahami agama. Apalagi alim di dalamnya. Akan tetapi saya paham betul orang NU salah satu golongan yang paling hafal, dan mengerti tentang bulan Romadlon. Bulan penuh rahmat, penuh berkah, penuh pengampunan
dan bulan pembebasan dari api neraka serta bulan dimana ada malam Lailatul Qodar. Romadlon juga dipahami sebagai bulan panen pahala berlipat ganda, 10 s.d 700 kali ada yg mengatakan 1000 kali.
“Ibadah puasa untukKu, dan Aku yang akan membalasnya”, demikian Tuhan sendiri berkata dalam firman-Nya
Sedemikian rupa istimewanya ibadah puasa ramadhan, tetapi yg menarik bagi kita adalah ditutup dengan kewajiban membayar zakat kepada yang berhak menerima. Kewajiban tersebut disertai dengan sangsi apabila tidak dipenuhi, maka PAHALANYA selama bulan Ramadhan AKAN TIDAK SAMPAI.
Kalau dijinkan disimpulkan ibadah sholat (wajib/sunnah baik sendiri/jama’ah), mengikuti pengajian, bahkan mendapatkan pahalanya Lailatul Qadar, akan terlantar kalau kita tidak menunaikan kewajiban zakat.
Atas dasar fakta tersebut, lepas dari persoalan pahala ibadah dibulan ramadhan, dapat kita pahami betapa Islam lebih mengedepankan IBADAH SOSIAL dibanding IBADAH MAHDOH. Sudah barang tentu berbagai ibadah sekecil/sesedikit apapun semestinya kita sandarkan pada kesadaran dan ketulusan atas perintahNya dan bukan disandarkan pada selain Allah SWT.
Selain itu bisa kita tangkap betapa Islam tidak membedakan nilai sesuatu ibadah yang kita lakukan, selama itu dilakukan untuk kebaikan atas namaNya. Ajaran Islam begitu menekankan adanya keseimbangan, keadilan dan ketulusan.
Wallahu’alam bish shawwab
14 Maret 2026
*Supangat Rudianto, mantan Ketua Pergunu Banyumas dan masih aktif menulis refleksi tentang sosial keagamaan, ekosufisme dan pecinta bambu. Kini tinggal di Banjaranyar, Pekuncen, Banyumas












