Beranda Tokoh

KH Muzni, Kiai Kharismatik dari Karangcengis Ajibarang

KH Muzni, Kiai Kharismatik dari Karangcengis Ajibarang
KH Muzni, Kiai Kharismatik dari Karangcengis Ajibarang

AJIBARANG, nubanyumas.com — Wangi minyaknya sudah tercium dari kejauhan, sekitar 30 meter sebelum sampai di kediamannya. Tak seorang pun berani menatap langsung wajahnya. Bahkan ketika berpapasan di jalan, orang-orang memilih mengambil jalur lain. Demikianlah gambaran karisma KH Muzni bin Abdullah Mukhtar, ulama sepuh dari Grumbul Karangcengis, Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Beliau lahir pada tahun 1901 M bertepatan dengan 1321 H dan wafat pada 3 Rabiul Awal 1412 H atau 30 September 1992 M.

Khotib Muzni, cucu KH Muzni dari putri pertama beliau, Hafsoh, berbagi cerita tentang sosok kakeknya kepada nubanyumas.com. Sewaktu kecil, Khotib termasuk cucu yang dekat dengan sang kakek. Ia kerap melayani KH Muzni dengan bertugas ngangsu, yakni mengambil air untuk mengisi kulah tempat mandi beliau. Bersama dua sahabatnya, Yakub dan Mahful, Khotib juga sering membuat kayu bakar untuk keperluan rumah tangga sang kakek.

“Karisma Mbah Muzni itu tinggi sekali. Banyak tamu datang dari berbagai daerah. Kebanyakan yang sowan adalah orang-orang yang sedang menghadapi masalah, entah soal ekonomi atau jabatan,” tutur Khotib.

Menurut Khotib, kakeknya memiliki karakter yang keras dan teguh memegang prinsip. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang tertutup.

“Sampai cucu-cucunya sendiri banyak yang tidak tahu perjalanan hidup beliau secara lengkap,” ungkapnya.

Perjalanan menuntut ilmu KH Muzni terbilang panjang. Selama 25 tahun, beliau berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Beliau pernah nyantri di Pesantren Leler di bawah asuhan KH Zuhdi, kemudian di Pesantren Lirap dengan KH Ibrahim, dan terakhir di Pesantren Tremas bersama KH Dimyati. Dalam hal wirid tarekat, KH Muzni mengambil baiat dari KH Maruf Solo.

Untuk berangkat menunaikan ibadah haji, KH Muzni menempuh perjalanan dari rumah dengan menunggang kuda.

Di Karangcengis, KH Muzni menyelenggarakan pengajian rutin setiap Rabu pagi yang diberi nama Majlis Tanbihul Ghofilin. Materi yang dikaji meliputi Tafsir Jalalain, Tafsir Ibriz, Iqlil, serta pembahasan seputar fikih. Dalam pengajian tersebut, KH Yusuf bertugas mengajar Al-Qur’an, sedangkan KH Muzni sendiri mengajarkan kitab-kitab kuning.

“Yang unik dari pengajian Rabu pagi itu, jumlah jamaahnya selalu sama. Tidak pernah berkurang meskipun ada yang meninggal dunia,” cerita Khotib.

Meski usia sudah lanjut, KH Muzni tetap melayani tamunya secara langsung. Dengan tangannya sendiri, beliau mengambil ceret, menyiapkan gelas, dan menyajikan minuman. Bagi tamu yang meminta ijazah doa, beliau menuliskannya langsung di atas kertas folio yang dipotong dua. Kertas-kertas itu biasa beliau simpan di bawah taplak meja plastik, siap diambil kapan pun ada yang membutuhkan.

Nama KH Muzni kerap dikaitkan dengan kitab Dalailul Khairat atau yang juga dikenal sebagai Shalawat Al-Qur’an. Namun menurut keterangan keluarga, beliau bukan pengarang kitab tersebut. KH Muzni hanya merangkum isi kitab karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani agar lebih mudah dipahami oleh jamaahnya.

Beliau juga sangat berhati-hati ketika berbicara soal nasab atau garis keturunan. KH Muzni lebih memilih fokus pada pembinaan akhlak dan keilmuan ketimbang membanggakan silsilah keluarga.

Dalam bergaul, KH Muzni dikenal tegas kepada siapa pun, termasuk kepada kalangan habib.

“Takdzim Mbah Muzni kepada para habib itu luar biasa. Tapi kalau ada yang tidak benar, beliau tetap berani menegur,” kata Khotib.

Di lingkungan sekitar kediamannya, KH Muzni menegakkan nilai-nilai kesopanan dengan ketat. Pada masanya, tak ada warga yang berani mengenakan celana pendek. Beliau juga melarang anak-anak bermain sepak bola. Bila mendapati anak-anak sedang bermain bola, beliau meminta bola itu diserahkan untuk kemudian dibelah.

KH Muzni menikah sebanyak tiga kali. Istri pertama adalah Nyai Muslikhah dari Lambar Karangklesem. Istri kedua, Nyai Maryam binti Kiai Abdul Halim dari Kober, memberikan beliau tujuh orang anak: Hafsoh, Hamdah, Habib alias Mahbub Cibangkong, Habibah, Hamidah alias Nur Hamidah, Habrun, dan Hanah. Istri ketiga adalah Nyai Fatimah. Dari pernikahan dengan Nyai Fatimah, KH Muzni tidak dikaruniai keturunan. Nyai Fatimah memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya bernama Khadijah yang kemudian menikah dengan H. Ach. Fatoni.

Khotib Muzni sendiri merupakan cucu KH Muzni dari Hafsoh, putri sulung Nyai Maryam. Sementara Hamdah, adik dari Hafsoh, kelak menurunkan Hayatul Maki atau yang akrab disapa Gus Hayat.

Semasa hidupnya, KH Muzni dikenal sebagai bagian dari empat sekawan ulama Banyumas yang sering berkumpul. Keempat ulama tersebut adalah KH Abdul Malik Kedungparuk, KH Sodik Pasiraja, KH Nuh Pageraji, dan KH Muzni Karangcengis.

KH Muzni dimakamkan di samping Masjid Al-Hidayah, Grumbul Karangcengis, Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang. Hingga saat ini, makam beliau tak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai penjuru.

Lebih dari tiga dekade berlalu sejak kepergian KH Muzni bin Abdullah Mukhtar. Namun jejak dakwah dan keteladanan beliau masih terpatri dalam ingatan umat, terutama warga nahdliyin di Ajibarang dan sekitarnya. Sosok yang tegas namun rendah hati, yang rela melayani tamu dengan tangannya sendiri meski renta, adalah teladan langka yang kian sulit dijumpai di masa kini.

Penulis: Kifayatul Ahyar