Tabarukan di Pesantren

Hidupnya terus berguncang-guncang. Usahanya berhenti hampir dua tahun. Angsuran di bank nyaris tak bisa dicicil. Beberapa peluang usaha strategis gagal tak teraih. Anaknya malas belajar gegara lebih banyak memegang HP. Ikhtiarnya untuk memondokkan anaknya di pesantren, tertunda. Akhirnya ia merasa kepalanya sakit, dan tidak bisa sembuh oleh obat-obatan warung.

Usia lelaki itu kini tak lagi muda. Ia tak seperti di usianya ketika dibawah empat puluhan tahun. Kala itu pagi, siang, dan malam ia mampu berusaha apapun. Kini ia sadar, keinginannya menggebu, namun harus mengakui bahwa fisik tak bisa kompromi. Masuk angin, demam, bengkek, pilek, saat ini gampang sekali menghinggapi tubuhnya.

Saat pandemi Covid-19 melanda, ia bingung mencari solusi hidup. Hitungan matematika usahanya meleset. Dua kios yang ia sewa, sudah diperbaiki dan disuntik modal, namun badai Corona membuatnya lumpuh. Barang tak laku, usaha berhenti, sementara angsuran bank harus tetap jalan.

Suatu hari kakinya melangkah ke sebuah pesantren. Ingin sowan ke Kyai pengasuh. Banyak hal sudah dicoba agar hatinya tenang, tapi tak kunjung berhasil. Ia sampai di pesantren saat shalat ashar dimulai. Ia pun ikut berjamaah. Selesai shalat Ashar, dan alunan surat Al Mulk berkumandang dari mulut ribuan santri, lelaki itu menangis.

Kemudian saat para santri meninggalkan masjid, dan dia melihat wajah-wajah mereka, ia ingin menjerit. Air matanya meleleh. Ketika menengok ke kanan, ternyata pengasuh pesantren itu sudah ada disampingnya.

Ia tak berani bicara. Ia tak mampu mengucapkan apapun. Ia hanya bersalaman dan mencium tangannya yang halus. Wajahnya yang bersih, seolah melupakan segalanya. Hatinya berdegup, namun lidahnya kelu. Semua kata-katanya hilang.

Sang Kyai meninggalkan masjid. Laki-laki itu mengurungkan niat untuk sowan, ia beringsut ke makam pendiri pesantren. Ia masih menangis, tak mampu bicara apapun.
“Dosaku sangat banyak, sehingga hidupku sengsara terus.” Ujarnya di depan makam

Setelah dari makam pun, ia tak jadi sowan ke ndalem, rumah Kyai. Ia merasa tak pantas masuk ke rumah orang alim. Ia sudah cukup, dan mengakui kesalahan hidupnya. Saat duduk sendirian, seorang penjual kopiah yang biasa ke pesantren itu mendekati dan berkisah tentang pendiri pesantren.

“Beliau sangat ‘wara‘, hati-hati sekali dalam hidupnya. Jangankan hal hal haram, hal subhat pun beliau tinggalkan. Semua anaknya menjadi orang-orang soleh….”

Mendengar penjual kopiah itu bercerita, lelaki itu segera ke toilet. Bukan untuk buang air besar atau kencing, tapi meneruskan tangisnya. Kran air ia buka, agar suara tangisnya tak terdengar para santri. Ia mengevaluasi perjalanan hidupnya.

Setelah itu ia kembali ke makam. “Ya Alloh, dosaku memang menggunung, tapi ijinkan aku berdo’a. Berilah aku jalan keluar dalam menghadapi berbagai masalah. Jadikanlah anak-anakku alim dan soleh, seperti Engkau berikan kepada kekasihMu, almarhum Kyai Syamsul ini…”

Ia ber-tabaruk dan tawasul lewat almarhum pendiri pesantren itu. Beberapa santri melihat lelaki itu dengan heran, ada sosok asing menangis di depan makam Kyai nya. (*)

Baturraden, September 2021

Tulisan sebelumnyaCara Membuat NPWPD Banyumas
Tulisan berikutnyaKisah Yusuf Qardhawi Masuk Al Azhar

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini