Sejarah Madzhab Hanafi : Dialektika Ilmiah Abu Hanifah dan Hammad bin Abi Sulaiman

336
GUS FAHMI
Agus Ahmad Hadidul Fahmi, Lc saat mengisi dalam forum Ma'had Aly Andalusia, Kebasen, Banyumas.

ABU HANIFAH, Nu’man bin Tsabit, mempunyai 4000 syaikh. Dari sekian banyak gurunya, ada satu guru yang ia anggap gurunya yang paling agung (Assyaikh al-Akbar): ia adalah Hammad bin Abi Sulaiman, seorang fakih Kufah dari kelompok tabi’in.

Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan, Abu Hanifah sangat membanggakan jalur keilmuan lewat Hammad. Saat ditanya, “Dari mana kau ambil ilmumu?” Abu Hanifah menjawab, “Dari Hammad, dari Ibrahim, sampai ke Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas.”

Abu Hanifah membersamai Hammad 18 tahun lamanya -atau mungkin lebih. Abu Hanifah berguru pada Hammad bukan saat beliau baru belajar. Ia berguru saat berumur 22 tahun, tahun dimana Abu Hanifah sudah kesohor sebagai “Syekh” dan ahli debat dalam ilmu kalam. Ini adalah pengakuan Abu Hanifah sendiri sebagaimana disebutkan Al Dzahabi.

Ia masuk Bahsrah 27 kali khusus mendebat sekte-sekte sesat ketika itu. Saat ia bertemu Hammad inilah, fase perpindahannya dari seorang teolog ke ahli fikih.

Bersama Hammad, Abu Hanifah menceritakan pengalaman yang akan dialami oleh semua murid pada gurunya: yakni perasaan yang muncul pada diri seorang murid, bahwa ilmunya telah setara dengan ilmu sang guru, atau bahkan telah melebihi kemampuan gurunya.

Habib Ali al-Jufri pernah menyampaikan ungkapan senada: seorang murid pandai -siapapun itu- pasti akan sampai pada satu titik dimana ia merasa kemampuannya telah setara gurunya, atau bahkan telah melebihi ilmu gurunya. Menurutnya, semakin lama kita membersamai seorang syekh, maka akan sering muncul pula perasaan dirimu telah melebihi syekh tersebut. Perasaan ini pula yang dialami oleh Abu Hanifah.

Sepuluh tahun bersama Hammad, perasaan Abu Hanifah dihinggapi “pangkat keulamaan”. Ia merasa sudah menguasai ilmu Hammad bahkan telah sampai di level meluruskan pendapat murid murid Hammad yang lebih senior. Akhirnya ia berkeinginan membuat majlis fikih sendiri di luar majlis Hammad.

Abu Hanifah mengatakan, “Aku berkeinginan tak lagi ikut halaqah Hammad. Suatu sore, aku bertolak ke Masjid untuk melaksanakan niatku. Tapi saat melihatnya sedang mengajar, aku urungkan niatku itu”

Tiba tiba malamnya datang berita kematian kerabat Hammad di Bahsrah: ia meninggalkan harta sementara tak ada ahli waris. Hammadpun bertolak ke Bashrah dan meminta Abu Hanifah menggantikannya.

“Saat menggantikannya mengajar, aku ditanya 60 pertanyaan yang belum pernah aku dengar dari Hammad. Aku menjawab dan aku tulis jawabannya. Hammad pergi selama dua bulan, dan ia kembali ke Kufah”

Abu Hanifah kemudian memperlihatkan jawabannya, namun Hammad hanya menyetujui 40 jawaban, dan menyalahkan 20 jawaban lainnya. Keduanya terlibat dalam perdebatan panjang mengenai jawaban 20 permasalahan yang tak disetujui itu, sampai akhirnya Abu Hanifah tak berkutik dengan argumen-argumen Hammad.

Abu Hanifah kemudian mengatakan, “Selepas itu, Aku berjanji tidak akan berhenti mengikuti majlis Hammad sampai ia meninggal”

Wahbi Sulaiman dalam Imam al-Aimmah al-Fuqaha mengatakan, terhadap Hammad inilah, Abu Hanifah total berkhidmah. Ia menunggu di pintu rumah Hammad bahkan saat Hammad hendak shalat dan keluar untuk kebutuhan tertentu. Abu Hanifah yang menyiapkan dan menghandle segala keperluannya.

Rasa takdzim Abu Hanifah terhadap Hammad sampai pada batas saat duduk di rumah sendiri, ia tidak akan menghadapkan kakinya ke arah rumah Hammad. Hammad meninggal, murid muridnya mendatangi Abu Hanifah untuk menggantikan Hammad. Dari sinilah permulaan fikih Madzhab Hanafi dimulai.

Jika Abu Hanifah membuat majlis fikih saat Hammad hidup, mungkin tak akan terdengar ada fikih Hanafi sekarang. Wallohu a’lam bis Showab. 

Agus Ahmad Hadidul Fahmi Lc (Gus Fahmi)
Ponpes At Taujieh Al Islamy
Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here