Saniya Kamili

95
saniya kamili wanita palembang yang cantik
gambar ilustrasi diambil dari blog.pesantrenmedia.com

Oleh : Hani Al Mufid

Saniya Kamili wanita kelahiran Palembang yang cantik jelita. Sesuai dengan namanya dia bak berlian yang bercahaya, bermata bulat bening penuh tatapan semangat membuat orang tidak bosan memandangnya. Selain cantik Saniya adalah pribadi yang suka membantu, ramah dan cerdas tak heran jika banyak yang mengaguminya. Nama populernya di Sekolah dan Pesantren yakni Mbak San, kecuali oleh Resti sahabat baiknya, Saniya biasa dipanggil Mbak Encan.

Resti adalah teman Saniya satu-satunya yang tidak segan mengingatkan demi kebaikan Saniya. Malam hari setelah mengaji kitab selesai Saniya dan Resti berbincang cukup serius. Saniya lebih sering menjadi pendengar yang baik. Perbincangan serius malam itu menuai sayatan di hati Saniya, bukan karena sayatan akan sakitnya berpisah dengan teman seperjuangan, tapi persoalan yang lebih serius.

“Sebentar lagi kita lulus Mbak Encan, kamu itu penuh semangat, rajin dan cerdas. Tapi apa Mbak Encan tahu apa potensi yang harus Mbak asah untuk kesuksesan di masa depan?”

“Kamu belum punya bakat Mbak,” ucap Resti terdengar menggurui.

Dengan menahan isak tangis Saniya terus berfikir positif berusaha sabar menerima masukan. Percakapan begitu hening berakhir tidak seperti biasa, bukan karena kemarahan tetangga kamar yang merasa bising mendengar canda tawa mereka berdua.

Saniya terus merenungi perkataan Resti, mencari-cari apa yang sudah dicapai olehnya, begitu banyak Saniya mewakili perlombaan namun memang belum nampak hasilnya. Perenungan itu berhasil merobohkan dinding semangatnya. Seketika Saniya tidak mencintai dirinya lagi, tiada potensi tiada self reward. Kilauan bening mulai melapisi bola mata indahnya merembes begitu lincah membasahi pipi.

Semenjak perenungan itu Saniya sering menangis, hatinya tidak nyaman hari-harinya berat membuatnya malas melakukan berbagai aktifitas dan lebih memilih kenyamanan instan dengan cara rebahan yang hakikatnya justru menambah hatinya semakin resah.

Di posisi paling bawah, hanya ada satu jalan keluar yakni berdo’a, Saniya menengadahkan tangannya diiringi air mata hingga sesenggukan. Berharap suatu saat bisa menemukan bakat yang dapat memberi kebermanfaatan untuk banyak orang. Tanpa Saniya sadari ternyata Bu Nyai melihat santrinya yang begitu tulus merapal pinta penuh harap dan keyakinan. Tak kalah tulus dan ikhlasnya Bu Nyai mengaminkan do’a Saniya.

Seperti yang kita tahu Allah pasti mengabulkan doa hamba-Nya, baik dalam waktu dekat maupun waktu yang cukup lama. Tak berselang lama Saniya dipertemukan dengan salah satu motivator ketika membuat pertanyaan di story IG, tentang cara mengembangkan bakat. Motivator itu bernama Muhammad Hasbi awalnya beliau pernah ada pada titik nol, atas kuasa Allah beliau mampu menjadi motivator bagi dirinya sendiri. Berkat kerja keras berdamai dengan diri sendiri secara berkala dan Istiqomah akhirnya menjadi motivator ribuan bahkan jutaan orang.

Pak Hasbi mengirim pesan motivasi pada Saniya, sedih melihat unggahan-unggahan IG penuh keputusasaan seperti dirinya di sepuluh tahun yang lalu. Sayang sekali potensi berharga akan sia-sia hanya karena mindset kesedihan dan melupakan kewajiban bersyukur. Padahal keadaan Saniya lebih beruntung dari Pak Hasbi. Sebelum sukses penuh dengan ujian kekurangan. Lahir dari keluarga sederhana, selalu dijauhi teman kelas, pemalu dan mempunyai fisik yang lemah.

“Nak Saniya harus semangat! Kamu sudah tahu ‘kan, bagaimana perjalanan hidup saya? Nak Saniya mesti bersyukur menerima pemberian Tuhan dengan ikhlas, sabar, dan terus berdoa serta berikhtiar! Dan jangan lupa ikhlas nak, harus tawakal. Harus berdamai dengan dirimu yah? bukan dengan nafsumu,”

Perkataan Pak Sentosa sungguh mencapai relung hati terdalam.

Pertemuan pertama itu sungguh membuat semangat Saniya menggebu-gebu. Saniya sangat bersyukur mendapat anugerah semangat kembali dari Allah setelah sekian lama diuji dengan keresahan hati kehilangan akan nikmat semangat. Saniya terus merapal do’a agar bisa senantiasa dibimbing untuk bisa istiqomah. Dia merasa beruntung sudah disadarkan oleh Resti. Jika tidak disadarkan ataupun dendam bisa jadi dia akan terus melakukan kesibukan yang hakikatnya kekosongan dalam perjalanan hidupnya.

Saat menggebu-gebunya ia ingin mencari jati diri sebaik mungkin dengan kerja keras dan tentunya dilandasi taqwa. Terlintas di benak Saniyaa ingin menyelesaikan hafalan. Padahal selama tiga tahun, dia belum mampu menyelesaikan hafalan juz tiga puluh karena berbagai kesibukannya yang tak terkontrol. Setelah memasuki semester dua di Universitas Kartini, dia bertekad bulat mengambil program tahfidz. Agar lebih fokus dan efektif, Saniya dipindahkan di cabang Pesantren Nurul Qur’an.

Baca Juga : Ketika Hotel Menjadi rumah Sakit Darurat

Setibanya di Pesantren cabang, di serambi masjid Saniya disuguh dengan keindahan deretan santri sedang membaca Al-Qur’an. Hati Hana sungguh tenang sampai tak terasa setetes air mata lolos keluar dari pelupuk mata. Dia memasuki kamar barunya dengan petunjuk salah satu pengurus yang mengantar. Setelah dirinya banyak dijelaskan beberapa hal oleh pengurus, ia segera merapikan barang bawaannya.

***

Dua bulan di pesantren cabang Saniya masih belum bisa mengejar ketertinggalan, bacaan juz tiga puluhnya masih banyak yang harus diperbaiki. Saniya kembali tidak nyaman hati. Ujian kekurangan itu mampu membuatnya lupa untuk mensyukuri nikmat kesempatan berjuang. Saniya yang sedari SMA sudah nyaman berorganisasi dan mendalami public speaking serta mengikuti  kelas menulis, merasa kewalahan membagi waktu saat menghafal. Dia makin tertinggal oleh teman yang lain.

Saniya, sempat berpikir ingin berhenti menghafal dengan dalih menghafal Al-Qur’an hanya perkara sunah. Pikirannya terus memerintah untuk keluar dari program tahfidz, berbeda dengan hatinya masih kurang yakin dengan keputusan berhenti berjuang. Saniya menyempatkan diri untuk sowan di ndalem Nyai Jazil. Beliau adalah Nyai Pesantren pusat. Sowan tersebut membawa jawaban dari segala kegundahan dan membawanya tetap mempertahankan Al-Qur’an.

Menghafal Al-Qur’an memang perkara sunah. Maka dari itu, Allah sangat mencintai sang penghafal, bahkan mengatakan bahwa penjaga Al-Qur’an merupakan keluarga Allah di Bumi. Saniya juga mengingat dawuh almarhum Abuya Assayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani kurang lebih seperti ini, “Barangsiapa yang tidak peduli meninggalkan sunah, maka dia tidak akan peduli mengerjakan larangan.” Setelah sowan, Saniya bisa kembali berdamai dengan diri.

Cah Ayu …. Produktif memang penting, tapi menjaga kesehatan dan kebahagiaan itu harus.” Pesan Nyai Jazil begitu menenangkan. Saniya memang selalu mengutamakan keinginannya tanpa mempertimbangkan kepentingannya, sehingga apa yang harusnya dikerjakan jadi tertunda. Dia kembali sadar, jika ingin memberi manfaat kita mesti bermanfaat untuk diri sendiri terlebih dahulu. Saniya juga tidak pernah memperhatikan kesehatannya, dia jarang berolahraga dan sering begadang tanpa mendengar alarm menguap pertanda dirinya yang mulai lelah dan harus beranjak tidur.

Mulai detik itu, Saniya bersikeras mengatur strategi, segera mengatur jadwalnya dengan baik dan adil. Saat mengatur jadwal Saniya mulai mengetahui penyebab dia harus begadang untuk menghafalan karena di siang hari ia terlalu lalai asik dengan gawainya. Setelah mengatur jadwal dan target, Saniya mulai menghargai waktu, hidupnya nyaman penuh arti.

Saniya memang lebih mengutamakan Al-Qur’an, dengan mengambil waktu paling banyak di jadwalnya. Saniya berpedoman hidup dari nasehat Abahnya bahwa siapa yang menjaga Al-Qur’an, dia akan dijaga oleh Allah Ta’ala. Segala yang dibutuhkan sudah Allah siapkan dengan baik. Saniya merasakan sendiri, semua yang sedang dibutuhkan selalu terpenuhi, meskipun terkadang mepet saat benar-benar dibutuhkan. Meski mengasah bakat menulis hanya diberi estimasi waktu sedikit di tiap harinya, dengan keistiqomahannya dia sudah bisa menerbitkan satu buku best seller dan sering menjadi motivator via online.

Sungguh buah dari kesabaran dan berdamai dengan diri sangat manis. Kini Saniya menemukan potensi yang bisa menjadikannya hamba terbaik. Seperti perkataan yang umum didengar yakni sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat untuk banyak orang. Ia tidak mau cukup hanya menjadi hamba yang baik untuk menggapai keridaan Tuhannya. Dirinya masih ingin berikhtiar menjadi manusia terbaik. Dengan berpikir demikian, Insyaa Allah dengan mudah Allah akan memberikan keridaan-Nya.

*) Santri Ponpes At Thohiriyyah, Parakanonje, Purwokerto

Berita sebelumyaKetika Kuat Kabur dari Isoman demi Kambing Peliharaannya
Berita berikutnya10 Keistimewaan Hajar Aswad

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini