Saat Jalur Prestasi, Zonasi, dan Afirmasi Telah Gagal

49
sistem zonasi sekolah

HARI itu, kebanyakan wali murid yang anaknya sukses diterima di sekolah yang mereka idamkan, sedang merayakan kesuksesan. Mereka meluapkan kegembiraannya dengan caranya masing-masing.

Anak-anak mereka sudah ada yang diterima di beberapa pesantren kenamaan, sekolah Islam terpadu, Islamic Boarding School dan sekolah unggulan lainnya. Di sisi lain banyak juga yang sedang gegap gempita bahagia karena diterima di sekolah negeri.

Hiruk pikuk orang tua merayakan kesuksesan anaknya, sungguh luar biasa di hari itu. Paling tidak di status medsos mereka terpampang rasa kebanggaan atas kesuksesan anak-anaknya.

Di sebuah rumah sederhana, seorang bapak duduk di dipan bambu yang sudah tua. Lelaki itu murung, tak ada denyut kegembiraan seperti tetangga-tetangganya yang lain. Ia sedang sedih melihat anaknya yang pulang bermain sambil menangis.

“Semua sekolah tak ada yang mau menerimaku.” Anak itu langsung lari ke kamar dan mengguguk.

“Sabar, Nak. Nanti pasti sekolah.” Bapaknya mencoba menghibur.

Sementara lelaki yang duduk di dipan tua itu hanya bisa melihat euforia tetangga-tetangganya. Melihat kegembiraan mereka, hati lelaki itu serasa ditusuk-tusuk dan semakin sakit. Sesakit anaknya yang tak mau keluar karena dibully oleh temannya, bahwa dia anak bodoh.

“Ke pesantren saja. Disana kan ada MTs, sama dengan SMP”, ujar bapak kepada sang anak.

Sang anak tidak mau di pesantren. Dari dulu memang inginnya ngaji hanya kepada bapaknya. Dari belajar wudlu, shalat sampai bisa membaca al Qur’an, tak pernah mau kepada orang lain. Anaknya sangat sensitif. Satu kali dipelototi atau dimarahi oleh sang guru, anak ini gampang sekali meneteskan air mata.

Lelaki di dipan tua itu bingung. Sudah menghubungi beberapa kenalan di sekolah negeri terdekat, semua mengatakan tak bisa janji untuk bisa memasukan anaknya. Ia sampai khawatir dan berpikiran sangat jelek, bagaimana jadinya nanti andaikan ia tak mau sekolah?

Lelaki itu tak punya kenalan anggota dewan, pejabat di dinas tertentu, ataupun orang berpengaruh di wilayahnya. Ia hanya orang sederhana, yang ditakdirkan anaknya tak secerdas secara akademik dibanding yang lain.

Baca Juga : Kisah Kiai Mursyid Kiai Sokaraja yang Jago Bermain Sepak Bola

Ia terus merayu anaknya agar mau sekolah dimanapun. Ia juga meyakinkan kepada sang anak, bahwa semua sekolah pada prinsipnya sama. Akan tetapi kalimat apapun dari sang ayah tak mempan kepada dirinya. Sang ibu lebih banyak diam. Perempuan itu lebih paham kepada anaknya yang nomor dua ini. Ia juga ikut terbawa perasaan sang anak.

Malam sangat sepi. Kebijakan PPKM memang sudah mulai diterapkan. Lelaki itu masih duduk di dipan tua. Secangkir kopi ada di depannya. Kepulan asap rokok, sepertinya menjadi teman sejatinya malam itu. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu. Ia kaget, tamu yang datang itu adalah seorang guru, yang sejak kemarin tak pernah membalas ketika dihubungi lewat HP, dan tak pernah bisa bertemu saat dicari di rumahnya.

“Anak bapak masuk di sekolah mana?” Tanya tamu yang bersarung itu.

Lelaki yang duduk diatas dipan tua itu menceritakan kondisi anaknya, yang dari kemarin mengurung diri di kamar, karena diejek teman-temannya sebagai anak tak pintar.

“Hari Senin, suruh berangkat ya pak. Ia insyaa Alloh diterima di sekolah kami.”

Lelaki itu seperti dikasih segelas air dingin saat terik matahari memanggang. Hatinya merasa adem. Anaknya segera ditemui di kamar. Ia membisikan kabar baik dari tamunya ke telinga anaknya.

“Nak, kamu bisa sekolah di SMP negeri. Pak guru datang ke rumah kami. Ia ada di depan itu…..”

Anaknya ngelilir, menggeliat. Matanya memandang sang bapak. Ada kebahagiaan yang tiba-tiba muncul diantara anak dan bapak itu.

Tamu itu datang hanya sebentar. Saat beliau pamit dan bapak sang anak melihat punggung tamu tersebut di depan pintu, ia berucap. “Ya Alloh perbuatan baik apakah yang pernah kulakukan pada dia atau keluarganya? Sehingga kau kirim dia untuk membantu kami? saat jalur prestasi, zonasi dan afirmasi sudah gagal?” (*)

*) Ketua Tanfidziyah Ranting Ketenger, bergiat di Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI)

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.