Beranda Tokoh

Rektor UIN Saizu Purwokerto: Tegaskan Kampus Bukan Pabrik Buruh, Tolak Narasi Penutupan Prodi

KATIB Syuriah PCNU Banyumas Prof Dr KH Ridwan MAg

PURWOKERTO, nubanyumas.com – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto pada Sabtu (2/5/2026) menjadi panggung kritik intelektual terhadap wacana penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak laku. Di hadapan seluruh sivitas akademika yang mengenakan pakaian adat, Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, menyayangkan paradigma yang memandang pendidikan dari kacamata komersial.

Prof. Ridwan secara terbuka menyentil kegaduhan di jagat media terkait gagasan “transformasi pendidikan” yang mengancam eksistensi prodi-prodi tertentu atas nama relevansi industri. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh tunduk pada dikte pasar yang bersifat jangka pendek. Baginya, pendidikan adalah investasi peradaban, bukan sekadar urusan untung-rugi jumlah pendaftar atau serapan tenaga kerja semata.

“Perguruan tinggi memiliki mandat yang jauh lebih mulia daripada sekadar mencetak “tukang” atau tenaga kerja untuk kebutuhan industri. Jika kampus hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, maka pendidikan tinggi telah kehilangan ruhnya sebagai kawah candradimuka intelektual,” kata Ridwan.

Alih-alih menutup prodi, Prof. Ridwan mendesak pimpinan fakultas untuk melakukan evaluasi radikal terhadap kurikulum agar lebih adaptif tanpa membunuh esensi keilmuan. Ia menantang jajarannya untuk merancang desain kurikulum yang lintas disiplin dan lintas sektoral. Tujuannya jelas: agar mahasiswa memiliki bekal ilmu yang kokoh namun tetap fleksibel bertarung di ruang publik yang semakin kompetitif.

“Relevansi sebuah prodi seharusnya diukur dari kontribusi lulusannya dalam memecahkan masalah sosial, bukan sekadar label “populer” di mata calon mahasiswa baru. Dinamika sosial yang berkembang pesat harus dijawab dengan inovasi metode pengajaran, bukan dengan jalan pintas membubarkan prodi,” tegas Ridwan yang juga guru besar syariah tersebut.

Momentum Hardiknas 2026 ini dijadikan ajang pembuktian bahwa UIN Saizu tetap kokoh pada prinsip pendidikan bermutu untuk semua, tanpa diskriminasi terhadap rumpun ilmu tertentu. Prof. Ridwan meminta seluruh jajaran untuk tidak gentar menghadapi narasi penyempitan makna pendidikan yang hanya berorientasi pada profit. Ia menyerukan penguatan kompetensi yang membuat lulusan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.

“UIN Saizu mengirimkan pesan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa kampus akan tetap menjadi benteng terakhir bagi ilmu pengetahuan. Pendidikan tinggi harus tetap berakar pada nilai fundamental dan karakter bangsa, meski dipaksa berlayar di tengah badai pragmatisme industri,”katanya.